Find and Follow Us

Minggu, 16 Juni 2019 | 20:48 WIB

Ekonom Dukung Investasi Pertamina di Hulu Migas

Selasa, 21 Mei 2019 | 09:09 WIB
Ekonom Dukung Investasi Pertamina di Hulu Migas
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Rencana PT Pertamina (Persero) melakukan investasi di 98 proyek eksplorasi dan pengembangan sektor hulu migas senilai US%1,9 miliar, atau setara Rp27,4 triliun, mendapat dukungan berbagai pihak.

Guru Besar Ekonomi Universitas Hasanuddin, Prof Hamid Paddu mengatakan, langkah Pertamina sangat diperlukan, mengingat neraca perdagangan Indonesia pada April 2019 mengalami defisit US$2,5 miliar, atau setara Rp36 triliun.

"Defisit neraca perdagangan per triwulan I sebesar 2,5 miliar dolar, di mana sektor migas menyumbang sebesar 1,5 miliar dolar AS. Berdasarkan angka ini tentu kita masih butuh pengembangan sektor migas, khususnya di hulu," kata Hamid melalui keterangan tertulis di Jakarta, Senin (20/5/2019).

Menurutnya, dalam jangka menengah, investasi tersebut mampu menguatkan produksi migas nasional, serta memberikan pengaruh terhadap neraca perdagangan. "Investasi ini harus menyentuh kebutuhan minyak kita, dan mampu mengurangi impor minyak," katanya.

Selain itu, lanjutnya, investasi ini juga bisa mendorong pertumbuhan ekonomi sebesar 6%. Hamid berharap investasi pengembangan eksplorasi pengelolaan migas bisa dikelola secara baik efisien, mengingat pengelolaan sektor migas tak pernah lepas dari persoalan. Apalagi, lanjutnya, dana yang digunakan tak sedikit dan bersumber dari pinjaman. "Investasi ini harus dikelola secara efisien dan tidak sama dengan masa lalu agar tidak merugi," katanya.

Sebelumnya, Pertamina menyatakan, optimistis menyelenggarakan 98 proyek eksplorasi dan pengembangan hulu migas di Indonesia pada 2019 dengan biaya investasi yang dianggarkan pada tahun ini mencapai US$1,9 miliar, atau setara Rp27,4 triliun.

Bahkan, komitmen investasi sektor hulu tersebut, menjadi agenda prioritas BUMN tersebut pada 2019. Hal ini dibuktikan dengan nilai investasi sektor hulu secara keseluruhan yang mencapai sekitar US$2,6 miliar, atau 60% dari total investasi Pertamina pada RKAP 2019 yang mencapai US$4,2 miliar.

Seluruh proyek tersebut dilaksanakan oleh anak usaha di sektor hulu migas Pertamina yang beroperasi di Indonesia. Proyek tersebut terdiri atas 47 proyek dilaksanakan oleh Pertamina EP, 29 proyek oleh PHE, 19 proyek oleh PHI, 2 proyek oleh PEPC, dan 1 proyek oleh PEPC ADK.

Proyek-proyek migas tersebut meliputi kegiatan untuk mempertahankan base production seperti kegiatan pemboran, konstruksi fasilitas produksi, dan pengembangan struktur temuan migas.

Sementara itu Direktur Eksekutif Indonesian Resources Studies (IRESS), Marwan Batubara mengatakan, investasi yang dilakukan Pertamina akan membuat defisit perdagangan menjadi berkurang, namun perlu waktu yang cukup untuk memperbaiki.

Untuk melakukan investasi ini Pertamina bisa menerbitkan surat utang (bond) dengan bunga yang cukup tinggi. Sebagai alternatif lain, perusahaan migas negara ini juga bisa menggunakan skema foreign direct investment atau investasi asing langsung untuk jangka panjang.

"Kalau melakukan eksplorasi berarti ada investasi dengan menerbitkan bond. Ini akan membuat defisit anggaran jadi berkurang. Kalau ada foreign direct investment juga bisa digunakan sebagai alternatif lainnya," katanya. [tar]

Komentar

x