Find and Follow Us

Kamis, 19 September 2019 | 12:19 WIB

Neraca Dagang Migas Tekor

Darmin Minta Pertamina Rombak Investasi Migasnya

Kamis, 23 Mei 2019 | 10:10 WIB
Darmin Minta Pertamina Rombak Investasi Migasnya
(Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Pemerintah menetapkan dua kebijakan, yakni merombak mekanisme perhitungan investasi eksplorasi migas PT Pertamina (Persero) di luar negeri.

Tujuannya untuk menekan defisit neraca perdagangan migas, sekaligus pada akhirnya dapat memperbaiki defisit transaksi berjalan. Menko Perekonomian, Darmin Nasution di Jakarta, Rabu (22/5/2019), mengatakan, selama ini, hasil eksplorasi migas yang dibawa Pertamina ke dalam negeri tercatat sebagai impor.

Sementara itu, jasa investasi eksplorasi migas yang telah dilakukan Pertamina di luar negeri tidak tercatat dalam pendapatan primer. "Sebetulnya, defisit migas kita tidak terlalu lebar. Masyarakat perlu tahu bahwa hasil eksplorasi minyak yang dilakukan Pertamina di luar negeri dan di bawa ke dalam negeri tercatat sebagai barang impor. Itulah yang menyebabkan defisit neraca perdagangan menjadi lebar," kata Darmin.

Darmin mengatakan, ke depan, pencatatan atas impor minyak mentah hasil investasi dari Pertamina di luar negeri akan tetap dicatat di Neraca Perdagangan. Namun, hasil investasi dari Pertamina di luar negeri juga akan dicantumkan sebagai pendapatan primer dalam komponen di neraca pembayaran.

Kedua pencatatan tersebut, menurut Darmin, sesuai dengan standar International Merchandise Trade Statistic (IMTS) dan standar Balance of Payment Manual atau Manual Neraca Pembayaran dari Dana Moneter Internasional (IMF).

Dengan pencatatan hasil investasi Pertamina tersebut, maka pendapatan primer di Neraca Pembayaran akan meningkat sehingga dapat mengurangi defisit neraca transaksi berjalan (Current Account Deficit/CAD). "Dengan adanya kebijakan ini diharapkan defisit neraca perdagangan migas akan dapat dikurangi dalam waktu dekat," ujar Mantan Gubernur Bank Indonesia itu.

Di kuartal I-2019, defisit neraca transaksi berjalan Indonesia sebesar US$7 miliar, atau setara 2,6% dari produk domestik bruto (PDB). Defisit itu meningkat jika dibandingkan dengan periode yang sama 2018 yang sebesar US$5,5 miliar. Namun, jika dibandingkan dengan kuartal IV-2018 menurun dari level US$9,2 miliar.

Dan, pemerintah juga menetapkan bahwa minyak mentah hasil eksplorasi di dalam negeri akan diolah dan dipasarkan di dalam negeri, dari yang sebelumnya menjadi komoditas ekspor.

Hal itu, kata Darmin, diharapkan dapat mengurangi impor minyak mentah yang dibutuhkan oleh Pertamina untuk memproduksi BBM, seperti solar dan avtur. [tar]

Komentar

Embed Widget
x