Find and Follow Us

Minggu, 15 September 2019 | 17:51 WIB

Program Sejuta Rumah

Posisi BTN Menjadi Mitra Utama BP Tapera

Minggu, 26 Mei 2019 | 20:11 WIB
Posisi BTN Menjadi Mitra Utama BP Tapera
(Foto: inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Kehadiran BP Tapera diharapkan bisa menjadi stimulus bagi industri pembiayaan perumahan untuk bergerak positif. Potensi peserta Tapera diperkirakan 139 juta orang hingga 2024.

Tak ingin menunggu lama, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk langsung bergerak. Bank pelat merah yang concern di bisnis pembiayaan perumahan ini, memutuskan untuk menjadi mitra utama Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera).

Tujuannya mulia, agar masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) semakin mudah mendapatkan hunian layak dengan harga atau cicilan terjangkau. Kerja sama ini sudah pas. Lantaran Bank BTN punya pengalaman mumpuni di pasar Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Subsidi. Apalagi, bank ini sudah memiliki Manajer Investasi (MI).

Direktur Utama Bank BTN, Maryono di Jakarta, Minggu (26/5/2019), mengatakan, perseroan dan BP Tapera memiliki visi sejalan. Keduanya, merupakan agen pemerintah yang disiapkan untuk mendukung program pembiayaan perumahan yang menyasar MBR.

Untuk mencapai visi tersebut, ujar Maryono, sebagai bank spesialis pembiayaan perumahan, perseroan telah menggelar berbagai langkah strategis untuk mengembangkan kapasitas bisnisnya.

"Bank BTN terus berupaya merampungkan aksi akuisisi perusahaan Manajer Investasi (MI), dan meracik skema pembiayaan perumahan yang baru guna menjangkau semakin banyak masyarakat memiliki rumah," papar Maryono.

Dia bilang, menjadi mitra BP Tapera merupakan sinergi yang sangat tepat, sejalan upaya Bank BTN mensukseskan Program Sejuta Rumah. Sejauh ini, hanya Bank BTN yang fokus mendukung pembiayaan perumahan rakyat, sejak 1974.

"Program ini merupakan program pemerintah yang perlu didukung bersama stakeholder terkait bidang perumahan. Kami akan terus berinovasi guna menjangkau semakin banyak masyarakat Indonesia, khususnya MBR untuk memiliki hunian yang terjangkau," papar Maryono dalam acara buka puasa bersama media.

Bank BTN pun telah melakukan berbagai inovasi dan sinergi di segmen KPR bagi kelompok MBR. Di segmen KPR Subsidi misalnya, perseroan aktif bersinergi dengan berbagai pihak guna penyaluran kredit yang lebih luas. Saat ini, Bank BTN telah memiliki produk KPR Mikro yang menyasar MBR informal, seperti tukang ojek online, dan tukang bakso untuk memiliki rumah.

Dengan berbagai langkah strategis tersebut, bank spesialis kredit perumahan ini mencatatkan pertumbuhan pesat di segmen KPR Subsidi. Catatan keuangan perseroan menunjukkan dalam lima tahun terakhir, Bank BTN mencatatkan pertumbuhan KPR subsidi sebesar 29,85% mulai Desember 2014 hingga Desember 2018.

Per Maret 2019, emiten bersandi saham BBTN ini juga masih menempati posisi wahid di pasar KPR Subsidi dengan pangsa sebesar 92,96%. Bank BTN juga telah menggelar Perjanjian Pembelian Saham Bersyarat (Conditional Shares Purchase Agreement/CSPA) untuk membeli saham PT Permodalan Nasional Madani Investment Management (PNMIM).

Kini, Bank BTN telah berkomitmen membeli 30% saham perusahaan manajer investasi tersebut. Ke depannya dengan ijin OJK, perseroan bakal menambah kepemilikan saham hingga mencapai 85%.

"Pembelian saham manajer investasi ini kami lakukan untuk memaksimalkan pengelolaan dana jangka panjang seperti dana Tapera, sekaligus untuk meningkatkan kinerja bisnis Bank BTN," tambah Maryono.

Hingga April 2019, Bank BTN mencatatkan pertumbuhan positif pada penyaluran KPR dan berada di atas rata-rata industri perbankan nasional. Catatan keuangan perseroan merekam, KPR Bank BTN tumbuh 22,29% secara tahunan (year on year/yoy) dari Rp150,9 triliun pada April 2018, menjadi Rp184,53 triliun.

Sementara, dari data Bank Indonesia (BI), per Maret 2019, KPR secara nasional hanya tumbuh sebesar 13,2% (yoy). Atau turun dari 13,7% (yoy) dibanding bulan sebelumnya.

Pertumbuhan pesat KPR di Bank BTN tersebut disumbang laju KPR Subsidi yang naik 29,37% yoy dari Rp80,49 triliun pada April 2018 menjadi Rp104,13 triliun pada April 2019. Di mana, KPR non-subsidi mencatatkan pertumbuhan 14,19% (yoy) menjadi Rp80,4 triliun pada April 2019 dari Rp70,41 triliun.

Deputi Komisioner BP Tapera bidang Pemanfaatan, Ariev Baginda Siregar mengatakan, kehadiran BP Tapera ditujukan agar kebutuhan kalangan MBR akan perumahan dapat dipenuhi. Kehadiran BP Tapera, bertujuan untuk menyediakan dana murah jangka panjang. Dana tersebut akan disalurkan untuk pembiayaan perumahan yang berkesinambungan.

"Peserta Tapera yang tergolong sebagai masyarakat berpenghasilan rendah dapat memeroleh manfaat untuk pembelian rumah, perbaikan rumah, atau membangun rumah melalui KPR dengan bunga rendah yang disalurkan oleh institusi keuangan yang bekerja sama dengan kami," jelas Ariev.

Saat ini, Ariev menjelaskan BP Tapera tengah merancang pondasi mulai dari SDM, keuangan, logistik, hingga rencana strategis dalam 5 tahun pertama. Nantinya, kalangan masyarakat yang ditargetkan menjadi peserta Tapera yakni para pekerja asing, pekerja swasta, pekerja mandiri, pegawai BUMN atau BUMD, Aparatur Sipil Negara (ASN)/Tentara Nasional Indonesia (TNI)/Kepolisian Republik Indonesia (Polri).

Menurut Ariev, per April 2019, BP Tapera telah memiliki dana senilai Rp10,4 triliun. Dana tersebut berasal dari Taperum-PNS yang nantinya akan diperuntukkan bagi pemupukan, pemanfaatan, dan dana cadangan bagi peserta yang pensiun.
"Ke depannya dana tersebut akan terus meningkat. Kami memproyeksikan potensi peserta Tapera akan mencapai 139 juta orang pada 2024," kata Ariev. [ipe]

Komentar

Embed Widget
x