Find and Follow Us

Minggu, 16 Juni 2019 | 20:56 WIB

Tuding Rekind Langgar Kontrak, PAU Tempuh Hukum

Oleh : M Fadil Djailani | Senin, 27 Mei 2019 | 04:29 WIB
Tuding Rekind Langgar Kontrak, PAU Tempuh Hukum
(Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - PT Panca Amara Utama (PAU) membantah semua klaim sepihak dan tidak berdasarkan fakta yang disampaikan PT Rekayasa Industri (Rekind). Termasuk adanya kerugian negara Rp2 triliun.

Kepada media di Jakarta, Minggu (26/5/2019), juru bicara PAU, Farchad Mahfud membantah sejumlah informasi sepihak yang disampaikan pihak Rekind. Termasuk tudingan bahwa PAU diduga mengakibatkan kerugian negara Rp2 triliun dari proyek pembangunan pabrik amoniak di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah.

"Informasi yang disampaikan ini berpotensi menyesatkan publik karena pabrik amoniak tersebut merupakan proyek investasi swasta murni dan bukan proyek negara karena pendanaannya berasal dari swasta dan pinjaman luar negeri," ungkap Farchad.

Berdasarkan kontrak kerja sama antara PAU dan Rekind terkait proyek pembangunan pabrik amoniak itu, merupakan perjanjian bisnis yang disepakati kedua belah pihak. Termasuk di dalamnya terkait penyelesaian perselisihan. Karena itu, PAU sangat menyayangkan pernyataan yang disampaikan pihak Rekind yang dinilai melanggar lebih jauh kesepakatan yang ada di dalam kontrak.

"PAU sebagai anak perusahaan terbuka memiliki komitmen yang tinggi untuk menjalankan prinsip prinsip tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance) sesuai dengan peraturan yang berlaku, termasuk dalam menjalin kerjasama dengan mitra kerja. Seluruh perjanjian kerjasama dengan Rekind sudah diatur dalam kontrak, kita tinggal mengikuti saja. Karena itu, terkait dengan perselisihan perdata ini, maka PAU telah mendaftarkan penyelesaiannya melalui Lembaga Penyelesaian Sengketa Internasional sesuai dengan kontrak yang juga disepakati oleh Rekind sendiri," jelas Farchad.

Terkait klaim tunggakan Rekind, lanjutnya, PAU menyatakan tidak ada tunggakan pembayaran. Karena PAU telah membayar seluruh invoice yang ditagihkan oleh Rekind. Bahkan, PAU telah mengeluarkan biaya yang lebih dari kewajibannya dalam kontrak yang juga telah diakui oleh Rekind, demi membantu kesulitan keuangan Rekind dan mengurangi keterlambatan penyelesaian proyek.

Di dalam kontrak Rekind juga telah memberikan hak pencairan jaminan pelaksanaan proyek berupa Performance Bond jika terjadi keterlambatan penyelesaian proyek oleh Rekind. Walaupun demikian, PAU tidak serta merta menempuh langkah pencairan Performance Bond, karena saat itu masih menunggu itikad baik Rekind untuk menyelesaikan perselisihan secara musyawarah, namun akhirnya PAU terpaksa mengambil langkah tersebut.

Klausul mengenai pencairan Performance Bond merupakan klausul standar dalam kontrak Engineering, Procurement and Construction (EPC) di Indonesia dan di berbagai negara. "Selama periode proyek kami telah berulangkali mendorong dan membantu Rekind untuk menyelesaikan pekerjaannya. Karena itu, kami sangat berharap Rekind dapat menghormati kontrak sesuai kesepakatan," pungkas Farchad. [ipe]


Komentar

x