Find and Follow Us

Kamis, 19 September 2019 | 19:00 WIB

Konsumsi Avtur di BIM Menurun

Jumat, 31 Mei 2019 | 00:07 WIB
Konsumsi Avtur di BIM Menurun
(Foto: istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Padang - PT Pertamina Marketing Operation Region (MOR) I mencatat penurunan konsumsi bahan bakar jenis avtur di Bandara Internasional Minangkabau (BIM) Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, sejak kenaikan harga tiket pesawat.

Sales Executive Retail Wilayah IX Sumatera Barat PT Pertamina Handy Tri Husodo mengatakan pada hari normal konsumsi avtur di BIM mencapai 70 ribu hingga 140 ribu liter per hari.

Sementara itu sejak terjadi kenaikan harga tiket pesawat konsumsi avtur di bandara tersebut hanya berkisar 38 ribu liter per hari.

Ia mengatakan menjelang Idul Fitri 1440 Hijriah pihaknya memprediksi puncak arus mudik di Bandara Internasional Minangkabauterjadi pada H-4 hingga H-2 sementara untuk arus balik diprediksi pada H+2 hingga H+4.

"Kami memprediksi terjadi kenaikan konsumsi avtur di BIM sekitar 37 persen namun secara keseluruhan konsumsi avtur mengalami penurunan," kata dia.

Pertamina menjamin ketersediaan bahan bakar minyak jenis avtur di Depot Pengisian Pesawat Udara (DPPU) Bandara Internasional Minangkabau cukup hingga 15 hari ke depan.

"Jumlah bahan bakar avtur di DPPU BIM sebanyak 1.500 kiloliter dan cukup untuk dua minggu ke depan. Kami pastikan tidak ada kelangkaan bahan bahan bakar avtur pada pelayanan mudik 2019 ini," katanya.

Sebelumnya Executive General Manager (EGM) PT Angkasa Pura II Bandara Internasional Minangkabau (BIM) Dwi Ananda Wicaksana menyebutkan tiga hari terakhir terjadi peningkatan arus mudik dari 5.000 menjadi 7.000 orang bahkan pada Rabu (29/5) mencapai 9.700 orang.

"Hari ini belum dihitung angkanya, bisa meningkat dari kemarin," ujarnya.

Meski terjadi peningkatan, menurut dia, secara rata-rata jumlah pemudik ke Sumbar lewat BIM berkurang cukup signifikan dari data pada 2018.

Pada 2018, lanjut dia, rata-rata pemudik yang datang di BIM mulai H-7 sekitar 11.000 orang. Penurunannya sekitar 20-30 persen.

Selain menggunakan transportasi udara, arus mudik perantau Minang juga menggunakan jalur darat. Bahkan, diperkirakan jumlahnya akan meningkat cukup tinggi karena banyak yang beralih dari moda transportasi udara ke darat akibat tiket mahal.[tar]

Komentar

x