Find and Follow Us

Jumat, 6 Desember 2019 | 15:11 WIB

Psikologi Pasar Jelang Lebaran

Oleh : Latihono Sujantyo | Jumat, 31 Mei 2019 | 16:30 WIB
Psikologi Pasar Jelang Lebaran
Pasar tradisional - (Foto: Inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta--Di hari-hari besar keagamaan para pedagang selalu berpikir dengan kekuatan instingnya bahwa supply pasti kalah daripada demand.

Beberapa hari menjelang Idul Fitri 1 syawal 1440 hijriyah, harga pangan semakin bergerak naik. Harga telur ayam yang semula Rp 23.000 per kg menjadi Rp 24.500, bahkan awal Ramadan sempat melambung ke angka Rp 26.000 per kg.

Indonesia kekurangan telur ayam? Oh tidak. Indonesia bahkan surplus telur ayam. Tahun 2018 produksi sebanyak 1,6 juta ton, sementara konsumsi 1,5 juta ton. Tahun 2019 ini produksi telur ayam ras 1,7 juta ton, sedangkan konsumsi 1,6 juta ton.

Tak hanya telur, hampir semua harga komoditas pangan saat ini mengalami kenaikan. Coba saja cek di pasar, harga minyak goreng, bawang putih, bawang merah, cabai merah, cabai rawit, sampai timun, semuanya sudah naik. Harga minyak goreng Rp 12.300 per liter naik dari yang sebelumnya Rp 12.000 per liter, cabai merah keriting Rp 36.000 per kg menjadi Rp 37.000 per kg, cabai merah besar di kisaran Rp 49.000 per kg sampai Rp 50.000 per kg dari yang sebelumnya Rp 47.000 per kg sampai Rp 48.000 per kg.

Selain itu, bawang putih berada di kisaran Rp 50.000 per kg hingga Rp 55.000 per kg, bawang merah yang sebelumnya Rp 37.000 per kg hingga Rp 38.000 per kg menjadi Rp 39.000 per kg hingga Rp 40.000 per kg.

Harga pangan itu semakin naik dua hari menjelang Lebaran. "Ada psikologi pasar," kata pedagang.

Di hari-hari besar keagamaan para pedagang selalu berpikir dengan kekuatan instingnya bahwa supply pasti kalah daripada demand. Karena itu, harga pangan harus dinaikkan.

Pemerintah memang sudah berusaha untuk menjaga agar harga pangan tidak naik terlalu tinggi, tapi psikologi pasar mengalahkan segalanya. Bahkan, sampai ada pelaku usaha kecil dadakan. Misalnya, dia semula berdagang barang A, tapi memasuki hari-hari besar keagamaan, dia beralih menjadi pedagang komoditas pangan. Dagangnya di dekat rumah-rumah warga. Harganya tentu saja lebih tinggi daripada harga di pasar. Kalau mau beli dengan harga lebih murah, ya harus jalan lebih jauh.

Ada psikologi pasar di situ. Tapi, ada masalah lain di sana. Distribusi dan rantai pasokan selama ini sangat buruk. Saat ini, biaya distribusi logistik di Indonesia masih lebih besar 2,5 kali ketimbang negara-negara maju. Ongkos logistik berpengaruh besar pada tingginya beragam komoditas kebutuhan massal para konsumen di dalam negeri.

Betul, masa bongkar-muat dwelling time di pelabuhan-pelabuhan utama di dalam negeri sudah turun, rata-rata menjadi 4-5 hari. Tapi masih jauh dari yang ideal, karena proses serupa di pelabuhan di Singapura hanya perlu satu hari. Di Malaysia hanya dua hari. Celakanya, dalam rantai pasokan seperti itu bermunculan para pengusaha yang memainkan harga. [lat]

Komentar

x