Find and Follow Us

Jumat, 19 Juli 2019 | 05:59 WIB

Tiket Pesawat Mahal, PDIP Nilai Menhub Budi Gagal

Oleh : Indra Hendriana | Sabtu, 1 Juni 2019 | 12:27 WIB
Tiket Pesawat Mahal, PDIP Nilai Menhub Budi Gagal
Politikus PDI-Perjuangan Erwin Moeslimin Sagaruju - (Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Kinerja Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dalam mengatasi mahalnya harga tiket pesawat menjelang Lebaran 2019, dinilai gagal.

Mustinya, Budi Karya sudah menyiapkan beberapa langkah untuk mengantisipasi lonjakan harga tiket yang tidak masuk akal ini. Dengan begitu, kemampuan Budi sebagai pemimpin patut dipertanyakan.

"Mestinya ini dia membicarakan di internalnya, mencari terobisan agar masyarakat merasa nyaman dengan ongkos trasnportasi ini. Saya melihat tidak itu. Entah juga melakukan saya engga tahu. Tapi kok solusinya tiket yang mahal," kata Politikus PDI-Perjuangan Erwin Moeslimin Sagaruju, Jakarta, Jumat (31/5/2019).

Sebaliknya, apabila dia melakukan hal yang bisa menekan harga tiket pesawat, maka akan berdampak baik terhadap kinerjanya. Tentu akhinya akan baik juga pada pemerintahan Jokowi-JK.

"Jadi kalau semua fasilitas negara membuat masyarakat bahwa negara betul-betul peduli, care, hadir. Mereka merasa mampu untuk membayar itu. Nah Kalau mereka mengeluh," kata dia tegas.

Sebelumnua dia mengayakan, mahalnya harga tiket pesawat menjadi salah satu faktor perantau tidak bisa pulang ke kampung halaman untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri 1440 H dengan keluarga. Terutama pemudik ke luar pulau Jawa.

"Melihat tiket yang mahal ini membuat umat islam tidak berlebaran dengan keluarga. Yang tadinya mikir-mikir bisa pulang dengan tiket mahal jadi enggak jadi pulang," kata Erwin.

Bahkan, dia meyakini bila ada penelitian atau riset, banyak perantau yang tidak bisa mudik karena harga tiket yang kian selangit. "Saya yakin kalau ada penelitian atau riset banyak yang engga pulang yang jauh-jauh," ujar dia.

Anggota DPR Fraksi PDI-P ini mengamini transportasi udara memang untuk kelas menengah keatas. Namun, Kementerian Perhunungan dibawah kendali Budi Karya Sumadi ini juga tidak boleh lupa bahwa transportasi ini juga dipakai masyarakat menengah kebawah.

"Jangan lupa dalam perjalanan sebelum-sebelumnya masyarakat menengah kebawah memakai jasa penerbangan ini," ujar dia tegas.

Dia kembali memperyakan faktor yang membuat harga tiket pesawat menjelang Lebaran membumbung tinggi. Pasalnya, harga bahan bakar jenis avtur sekarang sudah murah. Beda halnua bila harga avtur tinggi, akan wajat harga tiketnya mahal.

"Kalau misalnya logika naik bensin (Avtur, red) itu kan ada logika naik. Kalau hanya bahan bakar, bahan bakarnya sudah turun. Lalu apa lagi alasannya kan gitu," kata dia.

Dia juga heran dengan permyataan Budi Karya supaya masyarakat ikhlas terkait mahalnya harga tiket. "Jadi jangan melontarkan terima saja masyarakat harus ikhlas. Engga punya penjelasan yang membuat orang memahi. Akal sehatnya bisa menerima. Orang melihat ini dengan kaca mata yang sehat dia akan bertanya-tanya dan ini lah dan marah lah saya kira," kata dia.

Seharusnya, sebagai menteri Budi Karya sudah jauh-jauh hari mempersiapkan hal ini. Sebab, masalah ini bukan hal yang baru dan terulang setiap tahun. Menurut dia, apabila Menhub bekerja dengan baik maka kejadian seperti ini tidak akan adal lagi. Tapi pada kenyataannya harga tiket mahal masih ditemukan.

Sekedar diktahui harga tiket pesawat terus meroket. Bahkan harganya sampai tak masuk diakal, dan membuat para pemudik harus putar otak.

Seperti di agen penjualan online Traveloka harga tiket pesawat untuk keberangkatan 31 Mei 2019 rute Jakarta-Medan dijual dengan harga paling murah Rp 3,7 juta untuk kelas ekonomi. Penerbangan ini menggunakan maskapai Lion Air dan harus transit di Kuala Lumpur untuk ganti pesawat Batik Air.

Nah, ada kelas bisnis pada rute yang sama dijual Rp9,9 juta. Lebih parah lagi bila terbang dari Bandung ke Medan, tiketnya Rp13,4 juta sampai Rp21,9 juta untuk penerbangan menggunakan maskapai Garuda Indonesia. [ipe]

Komentar

x