Find and Follow Us

Minggu, 15 September 2019 | 17:55 WIB

Menhub Budi Berbuat Apa?

Tiket Pesawat Mahal Kurangi Keceriaan Lebaran 2019

Oleh : Indra Hendriana | Sabtu, 1 Juni 2019 | 15:09 WIB
Tiket Pesawat Mahal Kurangi Keceriaan Lebaran 2019
(Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Mahalnya harga tiket pesawat menjadi salah satu faktor perantau tidak bisa pulang kampung, merayakan Hari Raya Idul Fitri 1440 H bersama keluarga. Terutama pemudik menuju luar Jawa.

Demikian disampaikan Politisi dari PDI Perjuangan, Erwin Moeslimin Singaruju yang sangat prihatin dengan mahalnya harga tiket pesawat. Menurut dia, mahalnya tiket pesawat ke beberapa tujuan luar pulai Jawa, seperi Medan, Sulawesi dll.

"Melihat tiket yang mahal ini membuat Umat Islam tidak bisa berlebaran dengan keluarga. Yang tadinya mikir-mikir bisa pulang dengan tiket mahal jadi enggak jadi pulang," kata Erwin, Jakarta, Jumat (31/5/2019).

Bahkan, dia meyakini bila ada penelitian atau riset, banyak perantau yang tidak bisa mudik karena harga tiket yang kian selangit. "Saya yakin kalau ada penelitian atau riset banyak yang engga pulang yang jauh-jauh," ujar dia.

Anggota DPR Fraksi PDI-P ini mengamini bahwa transportasi udara memang untuk kelas menengah ke atas. Namun, Kementerian Perhunungan dibawah kendali Budi Karya Sumadi ini juga tidak boleh lupa bahwa transportasi ini juga dipakai masyarakat menengah ke bawah. "Jangan lupa dalam perjalanan sebelum-sebelumnya masyarakat menengah kebawah memakai jasa penerbangan ini," ujar dia tegas.

Dia kembali mempertanyakan faktor yang membuat harga tiket pesawat menjelang Lebaran membumbung tinggi. Pasalnya, harga bahan bakar jenis avtur sekarang sudah murah. Beda halnya bila harga avtur tinggi, akan wajat harga tiketnya mahal.

"Kalau misalnya logika naik bensin (Avtur, red) itu kan ada logika naik. Kalau hanya bahan bakar, bahan bakarnya sudah turun. Lalu apa lagi alasannya kan gitu," kata dia.

Dia juga heran dengan permyataan Budi Karya supaya masyarakat ikhlas terkait mahalnya harga tiket. "Jadi jangan melontarkan terima saja masyarakat harus ikhlas. Engga punya penjelasan yang membuat orang memahi. Akal sehatnya bisa menerima. Orang melihat ini dengan kaca mata yang sehat dia akan bertanya-tanya dan ini lah dan marah lah saya kira," kata dia.

Seharusnya, sebagai menteri Budi Karya sudah jauh-jauh hari mempersiapkan hal ini. Sebab, masalah ini bukan hal yang baru dan terulang setiap tahun. Menurut dia, apabila Menhub bekerja dengan baik maka kejadian seperti ini tidak akan adal lagi. Tapi pada kenyataannya harga tiket mahal masih ditemukan.

Sekedar diktahui harga tiket pesawat terus meroket. Bahkan harganya sampai tak masuk diakal, dan membuat para pemudik harus putar otak.

Seperti di agen penjualan online Traveloka harga tiket pesawat untuk keberangkatan 31 Mei 2019 rute Jakarta-Medan dijual dengan harga termurah Rp3,7 juta untuk kelas ekonomi. Penerbangan ini menggunakan maskapai Lion Air dan harus transit di Kuala Lumpur untuk ganti pesawat Batik Air.

Nah, ada kelas bisnis pada rute yang sama dijual Rp9,9 juta. Lebih parah lagi bila terbang dari Bandung ke Medan, tiketnya Rp13,4 juta sampai Rp21,9 juta untuk penerbangan menggunakan maskapai Garuda Indonesia. [ipe]

Komentar

x