Find and Follow Us

Kamis, 19 September 2019 | 12:13 WIB

Inflasi Mei Meroket karena Cabai dan Tiket

Senin, 10 Juni 2019 | 14:27 WIB
Inflasi Mei Meroket karena Cabai dan Tiket
(Foto: inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya lonjakan harga bahan pangan seperti cabai merah, daging ayam ras, serta tarif angkutan udara memicu inflasi Mei menjadi 0,68%.

Inflasi Mei 2019 ini yang mencapai 0,68% secara bulanan (month to month/mtm), naik 47 basis poin ketimbang inflasi Mei 2018 sebesar 0,21%. Serta lebih tinggi 29 basis poin ketimbang inflasi Mei 2017 sebesar 0,39%.

"Penyebab utama inflasi adalah kenaikan harga cabai merah, daging ayam ras, bawang putih dan tarif angkutan antar kota, udara, dan kereta api," kata Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Senin (10/6/019).

Kenaikan harga bahan makanan dan juga transportasi, kata Suhariyanto, utamanya dipengaruhi tren musiman dengan meningkatnya konsumsi masyarakat saat Ramadhan dan menjelang Lebaran.

Menurut Suhariyanto, bahan makanan mengalami inflasi sebesar 2,02% dengan andil sebesar 0,43%. Komoditas yang dominan mengalami kenaikan harga seperti cabai merah dengan andil sebesar 0,10%, daging ayam ras 0,05%, bawang putih 0,05%, ikan segar 0,04%, dan kenaikan berbagai komoditas sayuran seperti kelapa, pepaya, dan lainnya sebesar 0,01%. Meski demikian, terdapat komoditas yang juga mengalami deflasi, yaitu bawang merah dengan andil sebesar 0,04%.

Suhariyanto mengungkapkan, deflasi pada bawang merah disebabkan oleh panen raya di Brebes, Jawa Tengah dan Bhima, sehingga harga bawang merah turun di 51 kota. Selain itu, beras juga menyumbang deflasi sebesar 0,02%.

Sementara, untuk kelompok transportasi mengalami inflasi sebesar 0,54% dengan andil sebesar 0,1%. Rinciannya, tarif angkutan antar kota menyumbang inflasi sebesar 0,06%, tarif angkutan udara dan kereta api masing-masing sebesar 0,02%.

Menurut Suhariyanto, kenaikan tarif transportasi terjadi lantaran permintaan mudik meningkat menjelang Idul Fitri.

Sedangkan di kelompok lainnya, makanan jadi, minuman, rokok dan temabakau mengalami inflasi sebesar 0,56% dengan andil 0,1%. Kelompok perumahan, dan sandang juga memberikan andil terhadap inflasi 0,02%.

Sedangkan, berdasarkan komponennya, harga barang-barang bergejolak (volatile foods) seperti bahan pangan dan makanan menyumbang andil terhadap inflasi nasional hingga 0,43%. Tingkat inflasi volatile foods mencapai 2,18%.

Sementara dari komponen tarif barang yang diatur pemerintah (administered prices) menyumbang andil 0,09% dengan tingkat inflasi 0,48%. Untuk komponen inflasi inti (core inflation), menyumbang andil 0,16% terhadap inflasi nasional dengan tingkat inflasi 0,27% di Mei 2019.

Secara umum, inflasi terjadi di 81 kota, sementara deflasi terjadi di satu kota. Inflasi tertinggi terjadi di Tual, Maluku, sebesar 2,91% yang disebabkan oleh kenaikan berbagai jenis ikan dan angkutan udara. Sedangkan, deflasi terjadi di Merauke, Papua, lantaran ada penurunan harga komoditas sayuran dan harga beras. [tar]

Komentar

Embed Widget
x