Find and Follow Us

Minggu, 15 September 2019 | 17:50 WIB

Lion Ngutang ke AP I, Maskapai di Ujung Tanduk

Senin, 10 Juni 2019 | 15:01 WIB
Lion Ngutang ke AP I, Maskapai di Ujung Tanduk
(Foto: ist)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Polana B Pramesti blak-blakan menyebut banyak maskapai merugi. Pertanda bakal gulung tikar?

Indikasi maskapai tengah dililit masalah adalah Lion Air yang menunda pembayaran kepada operator bandara, "Kalau dari laporan keuangan, terakhir 2018, banyak yang rugi. Enggak ada yang untung," kata Polana saat ditemui usai halal-bihalal di Kementerian Perhubungan, Jakarta, Senin (10/6/2019).

Pernyataan tersebut menyusul permohonan PT Lion Mentari Airlines untuk menunda pembayaran jasa kebandaraan kuartal I-2019 kepada PT Angkasa Pura I (Persero/AP I) periode Januari hingga Maret 2019.

Dia menyebutkan, maskapai AirAsia saat ini, menanggung kerugian Rp1 triliun. "Ekuitasnya negatif, tapi karena dia holding, ya jadi bisa mendukung," katanya.

Saat ini, Polana mengatakan pihaknya sedang melakukan analisis terhadap kondisi keuangan maskapai. "Kita lagi melakukan analisis kira-kita apa yang mereka alami, memang tidak ada subsidi sama sekali ya," katanya.

Dihubungi terpisah, Corporate Communications Strategic Lion Air Group Danang Prihantoro mengatakan pihaknya telah meminta kepada pengelola bandar udara agar hal yang terkait dengan kewajiban pembayaran diperlakukan sama dengan operator penerbangan lainnya. "Lion Air Group sudah menyampaikan hal tersebut secara tertulis dan resmi melalui surat kepada pengelola bandar udara," kata Danang.

Dia menambahkan kewajiban pembayaran yang Lion Air Group minta untuk dibuatkan termin pembayarannya adalah kewajiban Januari, Februari, dan Maret 2019. "Lion Air Group bersama pihak pengelola bandar udara sebagaimana dimaksud telah melakukan pertemuan resmi dan sudah menyepakati secara tertulis terkait dengan termin pembayaran kewajiban Januari, Februari, Maret 2019 dan pembayaran sudah dilaksanakan," katanya.

Sementara itu, pembayaran kewajiban April dan seterusnya dilakukan secara normal artinya tidak ada penundaan. [tar]

Komentar

x