Find and Follow Us

Senin, 19 Agustus 2019 | 15:59 WIB

Duh, Nilai Investasi Blok Masela Masih Gelap

Oleh : Indra Hendriana | Rabu, 12 Juni 2019 | 12:09 WIB
Duh, Nilai Investasi Blok Masela Masih Gelap
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Pembahasan Blok Masela terkait rencana pengembangan atau plan of development (POD) di Blok tersebut dengan Inpex Corporation sudah tidak berkutik pada teknis. Pembahasan sudah masuk tahap legal.

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soejipto mengatakan, rencananya POD tersebut diteken dalam pertemuan negara-negara G20 di Jepang, akhir Juni nanti. Setelah legal selesai baru diteken kesepakatan pokok-pokok kerjasama (Head of Agreement/HoA). "Mudah-mudahan (tanda-tangan) HoA kalau bisa di pertengahan bulan ini," kata Dwi di Jakarta, Selasa (11/6/2019).

Dia yakin POD Masela bisa diteken pada akhir bulan ini. Hanya saja dia belum berani membeberkan nilai pasti dari investasi Inpex. Kata dia, nilai investasi akan diumumkan pasca penandatangan POD.

"Nanti saja kalau sudah ditandatangani kita akan sampaikan. Yang sudah pernah pak menteri sampaikan kan sekitar US$20 miliar cuma nanti ada tepatnya berapa. nanti kita sampaikan," ujar dia.

Kesepakatan POD Masela tercapai setelah melalui serangkaian pertemuan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan dan Chief Executive Officer Inpex Corporation Takayuki Ueda di Tokyo.

Pada pertemuan 16 Mei kemarin kedua belah pihak sepakat menyusun kerangka final POD Blok Masela di Laut Arafuru, Maluku. Kemudian pada 27 Mei disepakati kerangka detil POD tersebut. Beberapa hal yang disepakati yakni nilai investasi pengembangan Blok Masela akan mencapai sekitar US$ 20 miliar.

Selanjutnya, kedua pihak berhasil mencapai win-win solution dengan skema bagi hasil (production sharing contract/PSC) cost recovery, di mana pemerintah sekurangnya mendapat bagian (split) 50%. Kesepakatan final yang bersejarah tersebut ditandai dengan penandatanganan Minute of Meeting oleh Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto dan CEO Inpex Corporation Takayuki Ueda, disaksikan Menteri ESDM Ignasius Jonan.

Sejak kontrak diteken pada 1998, pengembangan Blok Masela tidak kunjung memasuki tahap konstruksi. Inpex sebelumnya telah mendapat persetujuan POD pada 2010. Namun karena menemukan tambahan cadangan, perusahaan migas asal Jepang itu kemudian mengajukan revisi POD dari kapasitas kilang 2,5 juta ton per tahun menjadi 7,5 juta ton per tahun pada 2015.

Pada saat itu, muncul perdebatan agar kilang LNG dibangun di darat lantaran dinilai lebih rendah biayanya. Pemerintah akhirnya memutuskan untuk mengubah desain pengembangan Blok Masela dengan memindahkan lokasi kilang LNG menjadi di darat. Selanjutnya, Inpex diminta melakukan Pre-FEED sebagai dasar penetapan besaran kapasitas dan lokasi kilang.

Nah, akhirnya jadwal operasi Blok Masela tertunda lama, dari awalnya mulai produksi pada 2018 menjadi kuartal kedua 2027, sesuai data SKK Migas. Hingga April lalu, mengacu data SKK Migas, Inpex telah melakukan workshop penyiapan kerangka acuan analisis dampak lingkungan (KA ANDAL) dan analisis dampak lingkungan (Amdal). Perusahaan migas asal Jepang itu juga sudah memulai baseline survey dengan penentuan batas survei. [ipe]

Komentar

x