Find and Follow Us

Jumat, 19 Juli 2019 | 06:00 WIB

Gagal Bayar Jiwasraya, Apa Kabarnya?

Oleh : Iwan purwantono | Jumat, 14 Juni 2019 | 10:01 WIB
Gagal Bayar Jiwasraya, Apa Kabarnya?
Salah satu pemegang saham PT Trada Alam Minera Tbk (TRAM) yakni Heru Hidayat - (Foto: ist)

INILAHCOM, Jakarta - Masih ingat gagal bayar PT Asuransi Jiwasraya (Persero) senilai hampir Rp1 triliun. Wow. Sekarang apa kabar kasusnya?

Pada Oktober 2018, publik dibikin kaget lantaran Jiwasraya tak mampu membayar 1.286 polis JS Proteksi Plan yang jatuh tempo. Nilai Rp802 miliar.

Ya, JS Proteksi Plan merupakan produk investasi plus pertanggungan jiwa (asuransi) dari Jiwasraya pada 2013. Istimewanya, produk ini menyasar kalangan berduit. Lantaran preminya tergolong wah, minimal Rp100 juta. Dan, harus dibayar cash di muka, alias tak bisa diangsur.

Produk ini menawarkan sejumlah kenikmatan. Misalnya, nasabah bisa menarik dananya setelah setahun ditambah imbal hasil 7%. Cukup menggiurkan bunganya karena di atas deposito. Selain itu, nasabah mendapatkan perlindungan asuransi sampai tahun kelima.

Agar lebih meyakinkan, Jiwasraya menggandeng 7 bank (bancassurance) sebagai mitra guna menjajakan produk papan atas ini. Ke-tujuh bank tersebut adalah Bank Tabungan Negara (BTN), Standard Chartered, Bank KEB Hana Indonesia, Bank Victoria, Bank ANZ, Bank QNB Indonesia, dan Bank Rakyat Indonesia (BRI).

Strategi ini ternyata efektif. Jumlah nasabah JS Proteksi Plan membeludak dalam sekejab. Forum Komunikasi Pemegang Polis Bancassurance Jiwasraya mengklaim, total dana yang masuk dari produk asuransi Jiwasraya ini, mencapai Rp16,4 triliun. Jumlah pemegang polis yang tercatat totalnya ada 17.721 orang.

Okelah, produk ini memang laris manis. Sehingga wajar ketika terjadi gagal bayar, hebohnya luar biasa. Yang apes adalah Asmawi Sjam, pada 10 Oktober 2018, ditunjuk sebagai bos Jiwasraya. Tepatnya sejak Agustus 2018, mantan bankir BRI ini, dipercaya sebagai direktur utama.

Asmawi menggantikan Hendrisman Rahim yang menjabat dirut Jiwasraya sejak 2008. Selama memimpin, Hendrisman didampingi Hary Prasetyo sebagai direktur keuangan. Duet inilah yang dituding pemantik gagal bayar di Jiwasraya.

Sejak awal masuk, Asmawi melihat banyak yang tak beres. Paling mencolok, laporan keuangan 2017 yang menyematkan keuntungan Rp2,4 triliun. Setelah dilakukan audit oleh PriceWaterhouseCooper (PWC), terkuak laba perusahaan cuman 328,44 miliar. Lho?

Selanjutnya, Asmawi menghentikan pemasaran produk JS Proteksi Plan serta produk saving plan lain, yang bunganya ugal-ugalan. Semuanya demi keuangan perusahaan tidak semakin berat di kemudian hari.

Entah mengapa, kursi dirut Jiwasraya menjadi panas pasca terjadinya gagal bayar. Sebulan kemudian tepatnya 5 November 2018, Menteri BUMN Rini Soemarno mencopot Asmawi dan menunjuk Hexana Tri Sasongko sebagai penggantinya. Sebelumnya, Hexana menjabat direktur investasi dan IT Jiwasraya.

Mencuatnya kabar tentang gagal bayar Jiwasraya, mendorong DPR membentuk pansus. Jelas ini bukan kasus ecek-ecek. Nuansa penyelewengan keuangan (fraud), sulit ditutupi. "Kalau agak ringan, kami bentuk panja. Kalau agak berat hingga ada pelanggaran terhadap undang-undang, bisa kita bentuk pansus," tegas Refrizal, anggota Komisi XI DPR asal PKS.

Sementara Anggota Komisi XI asal Gerindra, Heri Gunawan menyebut Jiwasraya acapkali tidak teguh dalam menerapkan asas prudent dalam mengelola dana nasabah. Portofolio Jiwasraya di market securities terlalu jumbo.

Berdasarkan laporan keuangan 2017, duit yang diinvestasikan Jiwasraya terbesar di reksadana senilai Rp19.2 triliun. Disusul belanja saham dan properti masing-masing Rp6,6 triliun.

Celakanya lagi, belanja atau investasi di pasar keuangan kurang mengindahkan manajemen resiko. "Ketika Jiwasraya perlu dana besar, tidak bisa serta merta memenuhinya. Apalagi pasar modal tengah lesu begini," ungkapnya.

Belakangan tersiar kabar, Jiwasraya di era Hendrisman, diduga serampangan dalam berinvestasi. Di lantai bursa, misalnya, saham-saham yang diborong Jiwasraya bukanlah saham likuid yang konsisten naik. Saat ini, dua emiten yang sahamnya digenggam Jiwasraya di atas 5% adalah PP Properti (PPRO) dan Semen Baturaja (SMBR). Sebelumnya ada TRAM, IIKP, MTFN, ABBA, SMRU.

Ingat 2005, terbongkar penyelewengan dana investasi di PT Jamsostek (Persero), kini BPJS Ketenagakerjaan. Kala itu, Dirut Jamsostek Ahmad Djunaidi dan Direktur Investasi Jamsostek Andi Rahman Alamsyah harus menebusnya di bui.

Gerah dengan kondisi ini, Menteri BUMN Rini Soemarno mengutus BPK dan BPKP melakukan audit investigasi terkait penundaan pembayaran polis jatuh tempo untuk produk bancassurance Jiwasraya.

Kini, Menteri Rini tentunya telah mempelajari hasil audit BPKP yang diterimanya pada Mei lalu. Kabarnya, masalah ini sudah masuk ranah hukum. Kita tunggu saja kabarnya. [ipe]

Komentar

Embed Widget
x