Find and Follow Us

Senin, 23 September 2019 | 19:16 WIB

Tahun Terakhir Jokowi, Utang Negara Makin Gede

Senin, 17 Juni 2019 | 12:19 WIB
Tahun Terakhir Jokowi, Utang Negara Makin Gede
(Foto: Inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Utang luar negeri Indonesia naik 8,7% secara tahunan (year on year/yoy) per akhir April 2019, menjadi US$389,3 miliar. Atau setara Rp5.533 triliun dengan kurs tengah 30 April 2019 sebesar Rp14.215/US$.

Menurut statistik yang diumumkan Bank Indonesia (BI), di Jakarta, Senin (17/6/2019), utang luar negeri (ULN) hingga bulan keempat itu terdiri atas utang pemerintah yang ditambah dengan bank sentral sebesar US$189,7 miliar dan utang swasta termasuk BUMN sebesar US$199,6 miliar.

"ULN Indonesia secara keseluruhan tumbuh 8,7 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada Maret 2019 sebesar 7,9 persen (yoy)," kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Onnny Widjanarko.

Kenaikan ULN itu, menurut Bank Sentral, karena transaksi penarikan neto utang dan pengaruh penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sehingga utang dalam rupiah tercatat lebih tinggi dalam denominasi dolar AS.

Jika melihat sektornya, kenaikan ULN lebih didominasi kenaikan utang swasta, karena ULN pemerintah tumbuh melambat.

Onny menuturkan ULN pemerintah pada April 2019 tercatat sebesar US$186,7 miliar atau tumbuh 3,4% (yoy), melambat dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 3,6% (yoy).

Penurunan ULN pemerintah ini karena pemerintah membayar pinjaman senilai US$0,6 miliar dan terjadi penurunan kepemilikan nonresiden (asing) di Surat Berharga Negara (SBN) sebesar US$0,4 miliar karena ketidakpastian di pasar keuangan global, imbas dari perang dagang.

ULN pemerintah banyak dialokasikan untuk pembiayaan sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial (18,8% dari total ULN pemerintah), sektor konstruksi (16,3%), sektor jasa pendidikan (15,8%), sektor administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (15,1%), dan serta sektor jasa keuangan dan asuransi (14,4%).

ULN swasta naik 14,5% (yoy) menjadi US$199,6 miliar, lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada Maret 2019 sebesar 13% (yoy). ULN swasta didominasi oleh sektor jasa keuangan dan asuransi, sektor industri pengolahan, sektor pengadaan listrik, gas, uap atau air panas dan udara (LGA), serta sektor pertambangan dan penggalian dengan total pangsa 75,2% terhadap total ULN swasta.

BI menyebutkan struktur ULN Indonesia tetap sehat, yang terlihat dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada akhir April 2019 sebesar 36,5%, atau relatif sama dengan rasio ULN terhadap PDB di Maret 2019.

"Dengan perkembangan tersebut, meskipun ULN Indonesia mengalami peningkatan, namun masih terkendali dengan struktur yang tetap sehat. Bank Indonesia dan Pemerintah terus berkoordinasi untuk memantau perkembangan ULN," ujar Bank Sentral. [tar]

Komentar

Embed Widget
x