Find and Follow Us

Jumat, 19 Juli 2019 | 05:40 WIB

SKK Migas Ingin Tekan Biaya Cost Recovery

Oleh : Indra Hendriana | Jumat, 21 Juni 2019 | 03:09 WIB
SKK Migas Ingin Tekan Biaya Cost Recovery
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Satuan Kerja Khusus Hulu Migas (SKK Migas) punya target cost recovery atau pengembalian biaya operasional hulu migas pada 2020 lebih rendah ketimbang 2019. Agar kerja hulu migas lebih efisien.

Menurut Kepala SKK Migas, Dwi Sutjipto tahun 2020 cost recovery diusulkan berkisar antara 10 sampai 11 miliar dolar Amerika. Angka ini, jika dibandingkan target tahun 2019 yang dipatok sebesar 10,22 miliar dolar Amerika masih sama.

Namun, kata Dwi, hal itu dikarenakan pada penyusunan pagu anggaran 2019, memasang cost recovery sebesar 10,22 miliar dolar terlalu rendah. "Itu yang masang asumsi tahun ini memang kekecilan. Tapi kan yang paling penting ini lihat di 2018 kan 12 miliar dolar AS kan. Nah, ini sudah lebih turun outlooknya," kata Dwi di DPR, Jakarta, Kamis (20/6/2019).

Menurut dia, hingga Mei 2019 realisasi cost recovery sebesar US%4,05 miliar. Melihat hal tersebut maka hingga akhir 2019, SKK dan ESDM memprediksi hingga akhir tahun cost recovery yang perlu ditanggung pemerintah sebesar US$11,46 miliar.

"Tapi meski begitu akhir tahun ini dijaga supaya paling enggak gak sampai 11,46 ni. Ya kita jaga supaya gap nya gak lebih dari 10 persen dari apa yang ditargetkan dari APBN 2019 ini. Tapi itu pun sudah dibawah 2018 kan," ujar dia.

Di siai lain, kata Dwi, hal tersebut juga sejalan dengan usulan lifting minyak dan gas pada tahun depan. SKK Migas mengusulkan memang lifting minyak lebih rendah dibandingkan pada 2019.

Hal ini tak bisa dihindari kata Dwi, karena produksi lapangan yang ada juga tidak ada penambahan, malah penurunan. Tapi, kata Dwi secara total lifting minyak dan gas, angkanya lebih besar dibandingkan 2019 ini. Hal ini didongkrak dari lifting gas lebih tinggi dibandingkan 2019 ini.

Tercatat lifting minyak pada 2020 diusulkan sebesar 734 ribu barel per hari. Angka ini turun dibandingkan target 2019 yang sebesar 775 ribu barel per hari Sedangkan lifting gas mencapai 1.159 ribu barel equivalen minyak per hari. Lebih tinggi dibandingkan target 2019 sebesar 1.072 ribu barel equivalen minyak per hari.

"Minyak turun kan gak bisa dihindari. Tapi in total kan naek equiivalen. Karena gas nya naik. Kita di Indonesia ya gak ada cerita. Ini produk energi, ini produk nya yang harus naik terus. in the end, cost equivalen yang harus diturunkan," ujar Dwi. [ipe]

Komentar

x