Find and Follow Us

Rabu, 17 Juli 2019 | 18:24 WIB

SCB Beli Bank Permata, Rudi Sebut Kerugian Negara

Jumat, 21 Juni 2019 | 04:09 WIB
SCB Beli Bank Permata, Rudi Sebut Kerugian Negara
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Pemilik Bank Bali, Rudy Ramli mendesak agar proses penjualan saham PT Bank Permata Tbk oleh Standart Chartered Bank (SCB) dihentikan. Lantaran banyak kejanggalan yang berpotensi merugikan negara.

"Saya meminta agar proses penjualan saham itu dihentikan, dan OJK melakukan investigasi khusus. Segera!" kata Rudy Ramli dari keterangan resmi di Jakarta, Rabu (19/6/2019).

Mengingatkan saja, Bank Bali merupakan salah satu bank yang digabungkan menjadi Bank Permata, bersama empat bank yang lain yakni Bank Umam Nasional, Bank Media, Bank Patriot, Bank Universal). Dalam proses merger ini, Bank Bali menjadi leadernya.

Rudy menilai, proses pemindahan kepemilikan saham Bank Permata ke Standard Chartered Bank (SCB), diharapkan dilakuan secara transparan. Dalam hal ini, otoritas yang berwenang, perlu melakukan kekuasaannya untuk investigasi. Ada lima pon penting dalam hal ini, yaitu transparansi, keadilan dan kebenaran, mempertahankan asset bangsa, dan mencegah terulangnya kasus yang sama demi kehormatan bangsa.

Yang dirasakan janggal, ketika masuk kelolaan BPPN, Bank Bali dilikuidiasi senilai Rp11,89 triliun. Anehnya, harga beli dari Standard Chartered hanya Rp2,77 triliun. "Sehingga ada potensi kerugian negara sekitar Rp9 triliun," lanjut Rudy.

Atas dugaan inim Rudy mengaku telah melaporkanka ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Oktober 2018. "Sementara baru itu langah hukum yang kami lakukan. Normalnya calon investor Bank Permata mungkin akan berpikir ulang untuk membeli saham dari Standard Chartered. Namun kalau ternyata sampai ada pembeli yang jadi, kami mempertimbangkan untuk melakukan (gugatan) langkah hukum lain," tambahnya.

Menurut Rudy, bahwa siapapun yang ingin memiliki asset di Indonesia, terutama institusi strategis seperti bank, hendaknya transparan dan jelas, siapa pemiliknya, dan asal dananya. "Apakah kedua hal itu sudah dipenuhi oleh SCB?" tanya Rudy.

Dalam laporan tahunan SCB tahun 2006, dan beberapa tahun setelahnya, ditemukan adanya kejanggalan kepemilikan SCB atas Bank Permata. Di laporan tersebut ada satu note, tentang kepemilikan SCB di Bank Permata: "There are no capital commitments related to the Groups investment in Permata. "Artinya, SCB beli tanpa modal? Kok tidak ada komitmen? Terus yang dipakai modal siapa?" tegas Rudy.

Di mana, SCB wajib menjelaskan dengan menyertakan dokumen pendukung, apa maksud dari kalimat "no capital commitment" yang tertuang pada annual reportnya tersebut. "Maka transaksi pengambil alihan Bank Permata wajib dipertanyakan oleh otoritas yang berwenang, " tegas Rudy. [ipe]

Komentar

Embed Widget
x