Find and Follow Us

Kamis, 22 Agustus 2019 | 06:56 WIB

Neraca Dagang Mei Belum Sehat, Rizal Sarankan Ini

Selasa, 25 Juni 2019 | 09:45 WIB
Neraca Dagang Mei Belum Sehat, Rizal Sarankan Ini
(Foto: ist)

INILAHCOM, Jakarta - Sepanjang Mei 2019, BPS mencatat neraca perdagangan mengalami surplus US$0,21 miliar. Memang lebih baik ketimbang April 2019 yang defisit US$2,5 miliar, namun belum oke. Lantaran nilai ekspor masih rendah.

Mantan Menko Kemaritiman Rizal Ramli menekankan pentingnya menjaga neraca perdagangan karena berdampak kepada banyak hal. Memengaruhi neraca transaksi berjalan yang berujung kepada nilai tukar (kurs) rupiah. "Kita selalu teriak, mengingatkan pemerintah. Bahwasanya, ekonomi makro Indonesia sudah lampu kuning," paparnya.

Rizal merasa miris dengan kinerja kementerian bidang ekonomi. Presiden Joko Widodo selalu diberi laporan yang bagus-bagus terkait anggaran semata. "Ingat, ekonomi bukan cuman anggaran2, tetapi ada soal trade balances, current acount, balance payment, primary balance,. Nah, semua indikator itu, sejak awal 2019 mengalmi tren naik dan negatif. Namun selalu dibantah, disebut fundamental ekonomi kuat," ungkapnya.

Menurut mantan Menko Ekuin era Presiden Gus Dur ini, lembaga internasional menyebut perekonomian Indonesia, belum beresiko tinggi. Ternyata, mereka menggunakan data kuartal I yang current account deficit (CAD) US$2,5 miliar. "Namun kalau pakai data kuartal II, di mana CAD naik menjadi US$8 miliar, tentunya ada review tentang fundamental ekonomi kita," ungkap RR, sapaan akrabnya.

Untuk menjaga neraca perdagangan, Rizal menantang tim ekonomi Kabinet Kerja berani menerapkan pembatasan. Bisa dengan menerapkan tarif masuk produk impor tinggi. Dengan catatan, aturan ini diberlakukan terhadap 10 besar komoditas impor Indonesia.

"Kalau sekarang yang diterapkan kemenkeu kan 1.147 item (komoditi). Saya hitung paling banter nilainya US$5 miliar, tarifnya juga tanggung antara 2,5% hingga 10%. Buntut-nya impor hanya berkruang US$1 miliar. Produknya pun ecek-ecek seperti lipstik, baju atau tasbih," ungkapnya..

Kata Rizal, akan sangat berbeda apabila aturan tarif masuk dikenalkan kepada top ten komoditi impor Indonesia. efeknya akan lebih signifikan karena menguasai 68% dari total impor Indonesia.

Dirinya juga menyinggung banjirnya baja dan ban asal China di pasaran Indonesia. Khusus impor baja 2018, disebutnya tumbuh 26,8%. Alhasil, industri baja dan ban di dalam negeri semakin terjepit. "Kita punya Krakatau Steel malah tenggelam, pabriknya tidak dipakai. Tahun lalu, impor baja kita naik 26,3%. Hajar yang ini dong jangan yang printil-printil," pungkasnya. [tar]

Komentar

Embed Widget
x