Find and Follow Us

Kamis, 22 Agustus 2019 | 06:54 WIB

Delegasi RI Perkuat Hubungan Bilateral pada BCCC

Rabu, 26 Juni 2019 | 15:35 WIB
Delegasi RI Perkuat Hubungan Bilateral pada BCCC
(Foto: Dok)

INILAHCOM, Jakarta - Mengakhiri perjalanan negosiasi minggu pertama forum Bonn Climate Change Conference (BCCC), Delegasi Indonesia melakukan pertemuan bilateral dengan Delegasi Australia serta perwakilan UN-REDD. Pertemuan itu untuk mempertajam hasil capaian kerja sama bilateral dan organisasi internasional yang mendukung Indonesia dalam pencapaian Target NDC.

Pertemuan Bilateral dilakukan Head of Delegation Indonesia (HoD), Ruandha Agung Sugardiman didampingi Direktur IGRK DJPPI, Joko Prihatno dan Direktur Mobilisasi Sumberdaya Sektoral dan Regional, Wahyu Marjaka. Adapun Delegasi Australia dipimpin oleh Patrick Suckling (Ambassador for The Environment) yang didampingi oleh Gaia Puleston, Director International Negotiations, Department of the Environment and Energy.

Beberapa topik pembicaraan pertemuan bilateral antara lain diskusi mengenai pandangan Australia dan Indonesia terkait dengan alotnya negosiasi artikel 6 untuk memastikan Paris Agreement dapat dilaksanakan dengan baik. Menurut Patrick, apabila negosiasi dan keputusan artikel 6 tersebut tidak dapat diselesaikan sebelum tahun 2020 akan menjadi ganjalan para anggota di COP25 Santiago de Chile akhir tahun 2019. Hal tersebut dapat menjadikan pasar bebas akan menentukan jalannya sendiri dan menjadi hal yang sangat krusial dan belum bisa diprediksi oleh negara-negara anggota.

Hal lain yang menjadi perhatian Indonesia dan Australia adalah pendanaan UNFCCC. Menurut Ruandha, pendanaan harus seimbang antara mitigasi dan adaptasi. Selama ini pendanaan untuk mitigasi lebih dominan dibandingkan untuk adaptasi perubahan iklim. Padahal, ke depan adaptasi perubahan iklim menjadi satu hal yang sangat penting untuk meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap perubahan iklim yang semakin nyata.

Senada dengan Ruandha, Patrick Suckling menyoroti ketidakseimbangan antara pendanaan utama dan pendanaan tambahan dimana pertumbuhan dana tambahan berjalan jauh lebih cepat dibandingkan dengan dana utama. Ini akan berakibat terhadap mekanisme finansial di UNFCCC semakin sulit. Negara-negara donor mengharapkan adanya penguatan di dana utama.

Hal lain dan menjadi penting untuk hubungan bilateral Indonesia-Australia menjelang COP25 Santiago de Chile, kedua belah pihak sepakat untuk meningkatkan dan memperluas kerjasama di bidang lingkungan hidup dan perubahan iklim. Penguatan kerjasama akan dibentuk dalam payung MOU terkait isu-isu lahan gambut, karbon biru dan kelautan.

Pertemuan bilateral lainnya juga dilakukan oleh Delegasi Indonesia dengan lembaga internasional yaitu UN-REDD Program. Mewakili UN-REDD Program adalah Tim Clairs, Principal Policy and Technical Advisor, serta Kin Yii Long, Stakeholder Engagement Specialist UN-REDD Program.

Pertemuan bilateral tersebut untuk menindaklanjuti kerjasama UN-REDD Result Base Payment (RBP) yang akan diterapkan di Indonesia. Hal ini merupakan penajaman Program REDD RBP yang sudah berlangsung di Indonesia di wilayah Kalimantan Timur dan Propinsi Jambi. Kerjasama ini merupakan langkah dan bukti nyata kepercayaan internasional atas komitmen Indonesia dalam penurunan dan pengendalian emisi gas rumah kaca (GRK) melalui mekanisme RBP. Menurut Ruandha, dunia saat ini berpaling ke Indonesia setelah melihat kinerja RBP Brasil tidak sesuai dengan apa yang mereka sampaikan ke UNFCCC khususnya konsistensi capaian pengendalian GRK.

Ruandha menyampaikan, moment pertemuan bilateral ini sangat baik untuk Indonesia sebagai bukti bahwa Indonesia memerankan peran kunci dalam pengendalian GRK global khususnya di sektor lahan. Skema REDD+ RBP Indonesia rencananya akan diajukan dengan dukungan pendanaan dari Green Climate Fund (GCF) yang saat ini sedang dalam proses pendalaman substansi. [*]

Komentar

x