Find and Follow Us

Rabu, 17 Juli 2019 | 18:29 WIB

PLN Bilang, Tarif Setrum Tidak Ikut Keekonomian

Rabu, 26 Juni 2019 | 17:18 WIB
PLN Bilang, Tarif Setrum Tidak Ikut Keekonomian
(Foto: Inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Plt Direktur Utama (Dirut) PT PLN (Persero), Djoko Abdumanan bilang, tarif setrum yang dijual tidak mengikuti keekonomian. Pihak PLN sengaja menahan tarif listrik tidak naik.

Menurut Djoko, pembentuk tarif listrik ada beberapa hal. Pertama, fixed cost yang dibentuk dari komponen biaya pemeliharaan, beban bunga, administrasi dan depresiasi serta ongkos kepegawaian.

Sedangkan untuk variable cost bergantung harga bahan baku pembangkit dan ongkos pembelian tenaga listrik dari pihak swasta dan biaya sewa. "BPP sangat dipengruhi oleh beberapa faktor. Teruatam kurs dan ICP. Makanya, kenapa apabila mau mengikuti tarif adjustmen maka harga bisa berubah sewaktu waktu," kata Djoko saat dihubungi, Jakarta, Rabu (26/6/2019).

Dia mencontohkan, pada Maret 2019, tarif listrik apabila mengikuti pergerakan penentu tarif maka PLN membanderol harga listrik sebesar Rp1.348 per kWh. Komponen terbesar dari pembentuk harga tersebut adalah bahan baku pembangkit Rp558 per kWh.

Selain itu ada biaya pembelian tenaga listrik yang sebesar Rp338 per kWh. Selain itu, ada komponen lain yang mempengaruhi tarif listrik. Pada April, tarif sesuai keekonomian berada diangka Rp 1.352 per kwh. Beban bahan bakar sebesar Rp555 per kWh, sedangkan pembelian listrik dari pihak swasta naik dibandingkan Maret menjadi Rp348 per kWh.

"Namun, masyarakat kan menikmati harga yang ditahan seperti saat ini sebesar Rp 1.132 per kwh. Selisih harga inilah yang di berikan oleh pemerintah sebagai kompensasi," ujar dia.

Namun, kata Djoko, PLN juga melakukan berbagai upaya untuk bisa menghemat ongkos produksi. Penghematan dan efisiensi ini dilakukan perusahaan agar selisih harga antara harga keekonomian dengan tarif ditahan tidak terlalu besar gap-nya.

"Kami juga melakukan berbagai upaya efisiensi agar gap tidak besar. Upaya nya, seperti meminta DMO. Disatu sisi, juga kami melakukan manajemen pembangkit," ujar Djoko.

Djoko menjelaskan, manajemen pembangkit tersebut misalnya penggunaan PLTA. Apabila pada musim penghujan maka pasokan air banyak dan membuat penggunaan PLTA lebih efisien. "Tapi kalau seperti saat ini gak musim hujan. Kan enggak ada air, PLTA jadi enggak efisien. Tata kelola dan manajemen PLN itu menjadi salah satu cara efisiensi kami," ujar dia. [ipe]

Komentar

x