Find and Follow Us

Senin, 23 September 2019 | 23:21 WIB

Di Norwegia

Menteri Siti Perjuangkan Isu Pengendalian Iklim

Oleh : Indra Hendriana | Sabtu, 29 Juni 2019 | 00:12 WIB
Menteri Siti Perjuangkan Isu Pengendalian Iklim
Menteri LHK Siti Nurbaya - (Foto: inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Menteri LHK Siti Nurbaya akan memimpin delegasi Indonesia pada acara The 9th Trondheim Conference on Biodiversity di Norwegia pada tanggal 2-5 Juli 2019 mendatang.

Sejumlah agenda disiapkan untuk memperkuat kerjasama bilateral antara Indonesia dengan Norwegia di bidang lingkungan hidup dan kehutanan khususnya terkait Pengendalian Perubahan Iklim dan Pelestarian Keanekaragaman Hayati (biodiversity).

Kepala Biro Hubungan Masyarakat, Djati Witjaksono Hadi mengatakan, Menteri Siti akan mengawali kunjungan kerja dengan melakukan bilateral meeting antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Kerajaan Norwegia.

Agenda utama akan dibahas pada pertemuan bilateral kedua negara diantaranya: Progress implementasi pelaksanaan Letter of Intent (LoI); Kemungkinan memperluas cakupan LoI; REDD+ Acceleration Facility melalui new voluntary Architecture for REDD+ Transactions; dan Isu-isu terkait biodiversity yang menjadi usulan Indonesia untuk dibahas pada konferensi internasional tersebut.

Diharapkan, pertemuan bilateral tersebut dapat meningkatkan kerjasama kedua negara dalam mendukung komitmen Pemerintah Indonesia untuk melaksanakan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim sekaligus menekan emisi gas rumah kaca.

Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Kementerian LHK Indra Exploitasia menyebut, pada acara The 9th Trondheim Conference on Biodiversity yang menyoroti tupaya-upaya pelestarian Biodiversitas/Keanekaragaman Hayati didunia, akan dijadikan sebagai konferansi antar negara dalam rangka persiapan menuju COP Convention on Biological Diversity (CBD) tahun 2020 di Tiongkok.

"Untuk 2020 setelah berakhirnya Aichi, di Tiongkok kita akan menetapkan target-target baru pasca 2020. Persiapannya adalah di Trondheim Norwegia ini, jadi negara-negara yang akan hadir di pertemuan ini akan mencoba membicarakan apa apa saja yang menjadi target kedepan 2030 atau 2050, Biodiversity mau dibawa kemana," kata Indra dalam jumpa pers, Jakarta, Jumat (28/6/2019).

Indra menjelaskan bahwa Indonesia telah meratifikasi CBD pada 1994. Didalam CBD pada tahun 2015 ditetapkan Aichi target yang disepakati setiap negara yang meratifikasi CBD, di Indonesia Aichi target diterjemahkan menjadi Indonesian Biodiversity Strategi Action Plans (IBSAP).

Aichi target akan berakhir pada tahun 2020 oleh karena itu paska tahun 2020 harus ditetapkan target target baru dalam pelestarian biodiversty.

Indra menekankan jika kehadiran Ibu Menteri Siti pada acara The 9th Trondheim Conference on Biodiversity membawa misi besar dan strategis bagi Indonesia khususnya terkait isu biodiversity.

"Kehadiran Ibu Menteri LHK tujuannya adalah bagaimana kita menampilkan upaya-upaya yang telah Indonesia lakukan sehingga kita bisa mencoba menjadi lead untuk bagaimana biodiversity itu bisa tetap lestari dengan lesson learn yang dilakukan oleh Indonesia dan bisa dijadikan sebagai pembelajaran bagi semua negara. Kedua kita bisa membuktikan bahwa kita mampu juga untuk meningkatkan populasi beberapa spesies prioritas, sehingga nanti beberapa upaya Indonesia itu selanjutnya dapat dijadikan dasar/baseline dalam menentukan target-target baru pelestarian biodiversity," kata Indra.

Sejalan dengan pelaksanaan The 9th Trondheim Conference on Biodiversity, pada tanggal 28- 30 Juni dilaksanakan Festival Indonesia di Oslo.

Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Kerajaan Norwegia selaku penyelenggara menjadikan Festival Indonesia ini untuk memperkenalkan keanekaragaman hayati Indonesia sekaligus menghadirkan produk-produk pangan nusantara dari hasil sumberdaya alam maupun produksi masyarakat lokal dan adat yang tinggal di sekitar kawasan hutan serta gambut.

Festival Indonesia Oslo ini pertama kali diadakan di Norwegia dan diharapkan akan menjadi salah satu festival Indonesia terbesar di kawasan Nordik. Terlebih lagi pada tahun 2020, Indonesia-Norwegia akan memperingati hubungan diplomatik yang ke-70 tahun.

Festivasl Indonesia secara umum akan mempresentasikan kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan Indonesia terkait pengendalian perubahan iklim maupun pengelolaan keanekaraaman hayati yang ada di Indonesia, seperti menginformasikan produk-produk kultural, kuliner dan ekowisata dari pengelolaan kawasan hutan dan gambut berkelanjutan yang mana sekaligus dapat mempromosikan kekayaaan alam, budaya dan pangan yang khas dari Indonesia.

Di tengah kekhawatiran dunia akan perubahan iklim dan dampaknya bagi masa depan umat manusia, belahan bumi katulistiwa sesungguhnya menyimpan berbagai keragaman pangan yang dihasilkan dari keanekaragaman hayati yang tinggi.

Keragaman pangan dan pengetahuan tentang manfaat pangan bahkan banyak disimpan ratusan tahun sebelumnya oleh nenek moyang di nusantara dan selayaknya menjadi bagian dari kekayaan varian nutrisi dunia.

Festival ini atas inisiasi Duta Besar Todung Mulya Lubis. Pada Festival ini akan dipaparkan beberapa materi, diantaranya dari Javara, lembaga social enterprise yang bergerak dalam produksi pangan organik nusantara, untuk berpartisipasi pada pameran Food Diversity from Tropical Forest & Peatlands.

Javara akan menampilkan acara interaktif yang melibatkan kelima indera perasa, yakni "Food Culture Talk & Tasting Workshop: Biodiversity, Culture & Gastronomy" mencakup lima sesi workshop: pedas berbumbu, garam kepulauan, gula lestari, pewarna makanan alami dan pelestarian kopi. Javara mempunyai misi besar untuk memperbaiki rantai suplai kapasitas produksi, memperbaiki keamanan lingkungan kerja dan memasarkan produk secara nasional dan internasional dengan mengusung harga jual premium bagi petani dan produsen.[jat]

Komentar

x