Find and Follow Us

Rabu, 18 September 2019 | 17:36 WIB

Fintech, Jangan Mencekik Leher, Dong

Oleh : Latihono Sujantyo | Senin, 1 Juli 2019 | 16:15 WIB
Fintech, Jangan Mencekik Leher, Dong
(Foto: ilustrasi)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta--Tidak sedikit perusahaan fintech mengenakan bunga yang sangat tinggi dan memberlakukan perhitungan bunga harian. Nasabah terlilit utang dan menjadi korban.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus bergerak memberangus fintech ilegal. Fintech ilegal itu diblokir karena tidak memiliki izin OJK, juga hanya mencari keuntungan semata lantaran memasang bunga sangat tinggi sehingga merugikan masyarakat.

"Fintech ilegal itu terjadi karena dia memberi pinjaman dengan mudah dengan bunga yang tinggi, membocorkan data kemana-mana dan mengirim debt collector. Ini kita sebut dengan inklusi keuangan yang menyakitkan," kata Hendrikus Passagi, Direktur Pengaturan, Perizinan dan Pengawasan Financial Technology OJK, di Lombok Tengah, Minggu, 30 Juni 2019, seperti dikutip dari Antara.

Saat ini, Satgas Waspada Investasi sudah menutup sebanyak 947 fintech ilegal. Jika dibandingkan dengan 113 fintech yang terdaftar/ berizin di OJK, bisa dibilang fintech ilegal merajai pinjaman melalui online.

Financial technology peer-to-peer lending (fintech) atau tekfin peer to peer lending (P2P) memang lagi seksi-seksinya di negara-negara maju, termasuk di Indonesia. Di Amerika Serikat, misalnya, ada yang namanya LendingClub, sebuah startup yang menjadi platform peer-to-peer lending. LendingClub menyediakan bunga yang lebih rendah, proses yang cepat, dan lebih aman bagi pihak yang meminjam maupun yang meminjamkan. Intinya membantu masyarakat dengan prinsip saling menguntungkan.

Jadi, kalau Anda lagi butuh personal loan, tidak perlu lagi pakai jaminan segala, terus susah mengembalikan gara-gara bunganya setinggi langit, lalu didatangi preman-preman berwajah angker, seperti yang belakangan ini banyak terjadi di Indonesia.

Belakangan ini banyak warga, nasabah pinjaman dari fintech yang mengeluh. Umumnya mereka mengeluh karena banyak perusahaan fintech mengenakan bunga yang sangat tinggi dan memberlakukan perthitungan bunga harian.

Tak hanya itu, ulah para debt collector juga sangat menakutkan. Setiap saat mereka menelepon dan meneror. Bukan hanya si nasabah, tapi juga ke nomor-nomor telepon yang ada di ponsel si nasabah, yang tidak tahu menahu tentang pinjaman dari perusahaan fintech yang diambil.

Zulfandi adalah salah satu korban fintech di atas. Sopir taksi berusia 37 tahun ini sampai harus mengakhiri hidupnya di kamar temannya di Jalan Mampang Prapatan, Tegal Parang, Jakarta Selatan pada 11 Februari lalu.

"Wahai para rentenir online kita bertemu nanti di alam sana. Jangan pernah ada yang bayar utang online saya, karena hanya saya yang terlibat, tidak ada orang lain terlibat kecuali saya."

Demikian isi surat yang ditulis oleh Zulfandi sebelum meninggal. Surat itu ditemukan anggota Unit Resor Kriminal Kepolisian Sektor Mampang Prapatan. Pada isi surat tersebut, almarhum Zulfandi meminta OJK dan pihak berwajib untuk memberantas pinjaman online yang menurutnya seperti membuat jebakan setan.

Pola bisnis seperti itu muncul karena adanya "tuntutan" dari masyarakat yang ingin tetap memiliki akses keuangan dengan cepat. Kalau dulu mencari uang untuk modal usaha ke bank, atau pinjam ke orangtua, saudara, dan teman, kini bisa lewat fintech yang super cepat langsung cair.

Maka, jangan heran kalau banyak bermunculan perusahaan fintech di Indonesia, baik yang berbasis bisnis penyaluran pinjaman, pembelian asuransi, penghimpun dana dan marketplace dari produk-produk keuangan.

Fungsi fintech sebenarnya sebagai alternatif dari produk-produk keuangan yang ada saat ini. Intinya ya itu tadi, membantu masyarakat dengan prinsip saling menguntungkan.

Kajian yang dilakukan bersama Institute for Development of Economics and Finance (Indef) dan Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) menunjukkan kontribusi fintech terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada tahun lalu sebesar Rp 26 triliun.

Jadi, fintech tidak melulu cerita menyeramkan, masih banyak perusahaan fintech yang baik. [lat]


Komentar

Embed Widget
x