Find and Follow Us

Senin, 23 September 2019 | 13:07 WIB

700.000 Ha Kebun Karet Masuk Program Peremajaan

Selasa, 2 Juli 2019 | 08:09 WIB
700.000 Ha Kebun Karet Masuk Program Peremajaan
Menko Perekonomian Darmin Nasution - (Foto: inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Pemerintah berkomitmen untuk segera meremajakan perkebunan karet rakyat dengan potensi luas mencapai 700.000 hektar, mengingat kondisi tanaman karet sudah banyak yang tidak produktif karena usianya di atas 25 tahun.

"Peremajaan ini merupakan salah satu strategi jangka panjang untuk menjaga produktivitas dan stabilitas harga karet, dan sekaligus sebagai tindak lanjut kesepakatan 3 negara International Tripartite Rubber Council/ITRC (Thailand, Indonesia dan Malaysia)," kata Menko Perekonomian Darmin Nasution di Jakarta, Senin (1/7/2019).

Darmin menjelaskan, model peremajaan karet ke depan diarahkan melalui pola integrasi tanaman karet dengan tanaman lain di antaranya kopi, kakao, cabai yang disesuaikan dengan keunggulan lokal masing-masing wilayah. Dengan demikian, dalam 1 hektar, pola yang dirancang adalah 60% tanaman karet dan 40% tanaman lain.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman menuturkan, untuk pelaksanaan peremajaan karet, hal yang sangat penting adalah penyediaan benih unggul bermutu dengan produktivitas 2 kali lebih tinggi dibanding produktivitas saat ini.

"Produksi dan penyediaan benih tersebut salah satunya akan dilakukan melalui program BUN500 yakni Benih Unggul Perkebunan 500 juta batang 2020-2024 di Kementerian Pertanian dan program perbenihan lainnya," kata Amran.

Pada program BUN500 selama periode 2020-2024, produksi dan penyediaan benih karet, kopi dan kakao masing-masing ditargetkan 143 juta batang, 163 juta batang, dan 157 juta batang.

Benih tersebut akan dialokasikan untuk peremajaan di sentra produksi karet, diantaranya Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Jambi, Lampung, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur dan Sulawesi Tengah.

Deputi bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian Kemenko Perekonomian, Musdhalifah Machmud menambahkan, peremajaan karet rakyat ini juga akan dikembangkan secara terintegrasi dengan pemanfaatan kayu karet untuk industri kayu. "Hal ini diproyeksikan dapat menambah pendapatan petani antara Rp10-30 juta/ha dari hasil penjualan kayu tersebut," kata Musdhalifah.

Indonesia memiliki perkebunan karet yang sangat luas mencapai 3,66 juta ha pada 2017. Luasan tersebut memberikan kontribusi produksi sebesar 3,68 juta ton dan produktivitas 1,19 ton/ha.

Perkebunan karet Indonesia masih didominasi oleh perkebunan rakyat (85%) dan menciptakan lapangan kerja bagi 2,5 juta KK dengan rata-rata luas kepemilikan sekitar 1,25 ha. Karet merupakan salah satu andalan ekspor yang berkontribusi besar terhadap devisa negara. Volume ekspornya mencapai 2,99 juta ton dengan nilai US$5,10 miliar. [tar]

Komentar

x