Find and Follow Us

Rabu, 17 Juli 2019 | 18:35 WIB

Para Pemburu Jabatan Mengadu Peruntungan di BPK

Oleh : Iwan purwantono | Rabu, 3 Juli 2019 | 16:54 WIB
Para Pemburu Jabatan Mengadu Peruntungan di BPK
(Foto: ist)

INILAHCOM, Jakarta - Kursi anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) ternyata sangat menarik. Banyak tokoh yang kepincut, mulai dari mantan Bos BEI, KPPU, politisi, pengusaha, hingga mantan anggota BPK dan internalnya. Wow.

Senin kemarin (1/7/2019), pendaftaran calon anggota auditor negara ini, resmi ditutup. Ada 64 nama yang bersaing memperebutkan lima kursi anggota BPK yang masa tugasnya berakhir pada Oktober 2019. Mereka adalah Harry Azhar Azis, Eddy Mulyadi Supardi (alm), Rizal Djalil, Moermahadi Soerja Djanegara dan Achsanul Qosasih.

Latar belakang ke-64 nama yang tersaring itu, cukup beragam dan menarik. Tentu saja menarik karena punya daya kejut yang luar biasa.

Semisal nama Rusdi Kirana yang dikenal sebagai pemilik dan pendiri Lion Grup, maskapai penerbangan pionir low cost carrier (LCC). Belakangan, Rusdi ditunjuk Presiden Jokowi Widodo masuk dewan pertimbangan presiden (wantimpres). Selanjutnya dipercaya Jokowi menjabat Dubes RI untuk Malaysia.

Pada Pemilu 2019, anak Rusdi yakni Davin Kirana yang menjadi caleg Partai NasDem, sempat bikin heboh karena terseret kasus pencoblosan surat suara di Malaysia.

Adapula mantan Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio yang dikenal banyak berkawan dengan banyak politisi dan pejabat negara. Termasuk pernah menjadi pimpinan tim sukses pasangan Wiranto-Salahuddin Wahid di Pilpres 2004.

Ketika memimpin BEI, banyak gebrakan yang dilakukan Tito. Termasuk mendorong banyak perusahaan berani masuk pasar modal. Dan, prestasi yang diukirnya lumayan pula. Pada akhir Juli 2016, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menembus level 5.000.

Atas capaian ini, Tito merayakannya dengan pulang jalan kaki. Dari kantor BEI di kawasan SCBD, Kuningan menuju rumahnya di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan. Pada Oktober 2017, IHSG kembali meroket ke level tertinggi yakni 6.000. Atas capaian ini, Presiden Joko Widodo memberikan jempol.

Rupanya, keputusan Ketua dewan komisioer Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Muliaman D Hadad memilih Tito sebagai bos BEI periode 2015-2018, tidak salah. Oh iya ada cerita yang sedikit tak mengenakkan ketika dirinya mencalonkan diri sebagai anggota komisioner OJK pada Februari 2017. Dirinya gagal lolos dari seleksi pansel. Duga punya duga, Menteri Keuangan Sri Mulyani kurang sreg dengannya. Padahal, keduanya adalah sesama alumni Univesitas Indonesia (UI). Selain itu, Tito cuman satu periode memimpin BEI.

Pensiun dari BEI, Tito dipercaya menjabat direktur utama PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk (CMNP). Belum setahun, Tito keluar dari perusahan yang didirikan Siti Hardiyanti Rukmana alias Mbak Tutut, berlabuh di media milik Lippo Grup. Tepatnya sebagai Executive Chairman BeritaSatu Media Group.

Ya, Tito yang kelahiran Bogor dan hobi menunggang motor mahal itu, memang akrab dengan bisnis media. Rekam jejaknya masih melekat sebagai pendiri harian Investor Daily dan pernah bergabung di MNC Media milik Hary Tanoesudibjo. Bisa jadi, darah wartawan mengalir dari sang ibunda (alm) Machiko Katagiri, mantan wartawan RRI.

Nama lain dari kalangan politisi, ternyata lumayan banyak. Terbanyak dari Gerindra, ada tiga nama Pius Rustrilanang, Wilgo Zainar dan Ferry Joko Juliantoro.

Belakangan, Ferry yang juga menjabat Wakil Ketua Umum Partai Gerindra itu, menyatakan mundur dari pencalonan anggota BPK. Anak buah Prabowo ini mengaku telah mencabut berkas pencalonan di hari terakhir pendaftaran. "Saya mundur. Saya enggak melengkapi berkas saat penutupan pendaftaran," ujar Ferry.

Disusul Demokrat dua nama yakni Nurhayati Ali Assegaf dan Achsanul Qosasi. Partai Golkar juga dua nama yakni Ahmadi Noor Supit dan Hary Azhar Azis. Khusus Achsanul dan Hary Azahar, selain utusan parpol keduanya adalah calon petahana.

Dari kalangan politisi masih ada stok, semisal Ahmad Muqowwam yang dikenal sebagai politisi PPP dan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Atau Tjatur Sapto Edy, Anggota DPR asal PAN. Lalu baimanana dengan PDIP sebagai pemenang Pemilu 2019? Ada satu nama yang menarik yakni Sahala Benny Pasaribu. Dia adalah mantan anggota DPR asal PDIP, namun kemudian melompat ke Hanura.

Oh, iya adapula nama Muhammad Syarkawi Rauf, mantan Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Pria asal Sulawesi Selatan ini, tergolong rajin membongkar praktik kartel dalam bisnis. Khususnya yang menyangkut hajat hidup orang banyak, misalnya kartel ayam.

Syarkawi mengaku tertarik masuk BPK agar bisa mendorong penerapan audit berbasis digital. "Kami ingin menerapkan audit dengan memanfaatkan big data. Bisa dilaporkan secara real time, sehingga prosesnya transparan dan akuntabel," kata Syarkawi.

Sedangkan dari internal BPK, jumlahnya lumayan banyak. Ada nama Bambang Pamungkas yang sempat diisukan sebagai Bepe, pesepakbola kondang dari Perija. Adapula Kukuh Prionggo, Blucer Wellington, Hendra Susanto, I Gede Kastawa dan Heru Kreshna Reza.

Dari 63 nama itu, karena Ferry mundur, akan melalui tahap seleksi administrasi. Nama yang lolos akan diserahkan panitia seleksi (pansel) ke DPD pada 8 Juli 2019. Setelah itu diserahkan ke Komisi XI DPR untuk dilakukan tes uji kelayakan dan kepatutan (fit and properti test).

Artinya, peruntungan seluruh pendaftar ini, sangat ditentukan keputusan Komisi XI DPR. Ya, ujung-ujungnya lobi politik yang menentukan. Kita tunggu saja siapa yang 'sakti'. Inilah Nama-nama Calon Anggota BPK
1. Nurhayati Ali Assegaf
2. Bambang Pamungkas
3. Riza Suarga
4. Eddy Suratman
5. Izhari Mawardi
6. Denny Suriandhi
7. Achsanul Qasasih
8. Jimmy Muhammad Rifai Gani
9. Raja Sirait
10. Heru Muara Sidik
11. Muhammad Yusuf Ateh
12. Pius Rustrilanang
13. Ahmadi Noor Supit
14. Syafri Adnan Baharuddin
15. Fontan Munzil
16. Syaiful Anwar Nasution
17. Dadang Suwarna
18. Adi Supanggyo
19. I Gede Kastawa
20. Hendra Susanto
21. Gunawan Adji
22. Rusdi Kirana
23. Muhammad Syarkawi Rauf
24. Edhie Mulyono
25. Sutrisno
26. Dachamer Munthe
27. Daniel Lumban Tobing
28. Suharmanto
29. Shohibul Iman
30. Wisnuntoro
31. Akhmad Muqowam (DPD/PPP)
32. Emita Wahyu Atami
33. Harry Azhar Azis (Golkar)
34. Tito Sulistio (BEI)
35. Amrizal
36. Indra Utama
37. Deddy Supriady Bratakusumah
38. Heru Kreshna Reza
39. Wilgo Zainar (Gerindra)
40. Chandra Wijaya
41. Arry Widiatmoko
42. Soemardjijo
43. Kukuh Prionggo
44. Mohammad Sofie Abdul Hasan
45. Iwan Widjanarko
46. Maralus Panggabean
47. Defa Aulia Farhan
48. Wewe Angreaningsih
49. Blucer Welington Rajagukguk
50. Sahala Benny Pasaribu
51. Yves S Palambang
52. Tarkosunaryo
53. Dicky Djatnika Ustama
54. Muhammad Komarudin
55. Mulyono
56. Burhanuddin Saputu
57. Padri Achyarsyah
58. Haryo Budi Wibowo
59. Tjatur Sapto Edy
60. Ruslan Abdul Gani
61. Haerul Saleh
62. Mukdan Lubis
63. Mohammad Husni
64. Ferry Joko Juliantoro [ipe]


Komentar

Embed Widget
x