Find and Follow Us

Selasa, 24 September 2019 | 16:59 WIB

Iklim Investasi Migas Masih Loyo

Oleh : Indra Hendriana | Kamis, 4 Juli 2019 | 00:01 WIB
Iklim Investasi Migas Masih Loyo
(Foto: Inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Investasi sektor Minyak dan gas bumi sampai saat ini masih loyo. Ini dilihat dari kesulitannya Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) dalam pengadaan Rig.

Praktisi Migas Tumbur Parlindungan di acara Indonesia Petroleum Association (IPA) mengatakan industri migas merupakan industri yang bisa berdampak luas termasuk industri penunjangnya.

Menurut dia, ketersediaan rig di Indonesia sangat bergantung pada kondisi iklim investasi migas disektiar wilayah Indonesia. Perusahaan penyedia jasa rig kata dia akan melihat wilayah yang punya prospek bagus.

Kondisi ini tentu tidak bisa dibiatkan. Kata dia, harus diciptakan crowd (keramaian) kegiatan penegboran sumur migas di Indonesia. Apabila crowd tersebut sudah tercipta maka perusahaan penunjang akan melirik wilayah Indonesia sebagai wilayah yang prospektif.

"Supply and demand, kita rebutan (Rig). Yang kita mau ketika ada crowd mereka (perusahaan penunjang) akan kesini, yang kita mau buat itu crowd-nya ada begitu ada harganya pun murah," kata Tumbur di Jakarta, Rabu (3/7/2019).

Beberapa KKKS mengalami fenomena kesulitan untuk mendapatkan rig dalam kegiatan pengeborannya. Salah satu contohnya Repsol.

Perusahaan asal Spanyol itu diketahui melakukan perubahan jadwal pengeboran sumur ekslorasi Rencong 1X di blok Andaman III ke tahun depan dari rencana awal dibor pada tahun ini. Tidak hanya itu kesulitan pengadaan rig juga dialami oleh Pertamina Hulu Energi (PHE).

Anak usaha di sektor hulu Pertamina itu sudah merencanakan pemboran eksplorasi cukup masif tapi realisasi hingga pertengahan tahun ini masih cukup minim. PHE baru merealisasikan satu pemboran sumur eksplorasi dari target perusahaan sebanyak 13 sumur.

Meidawati, Direktur Utama PHE menuturkan pengadaan rig jadi salah satu penyebab minimnya realisasi pengeboran sumur eksplorasi. "Kendalanya rig, untuk mencari rig yang pas untuk kegiatan eksplorasi memang tidak mudah," ujar dia.

Nah, kesulitan mendapatkan rig menjadi bukti bahwa iklim investasi migas di tanah air masih belum lebih menarik dari negara lain. Pemerintah memang harus diakui sudah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan gairahnya, tapi ternyata di negara lain upayanya lebih besar.

Tahun ini sendiri Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menargetkan ada 57 sumur eksplorasi di bor menurun dari target tahun lalu sebanyak 104 sumur eksplorasi. Realisasinya hingga akhir April baru 16 sumur eksplorasi di bor.[jat]

Komentar

x