Find and Follow Us

Jumat, 18 Oktober 2019 | 21:45 WIB

Noorsy Sangsikan SCB Borong Saham Bank Permata

Jumat, 5 Juli 2019 | 03:08 WIB
Noorsy Sangsikan SCB Borong Saham Bank Permata
Eks pemilik Bank Bali, Rudy Ramli - (Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Eks pemilik Bank Bali, Rudy Ramli tidak yakin, bahwa pembeli saham Bank Permata pada 2004, adalah Standard Chartered Bank (SCB).

Alasannya, banyak kejanggalan yang terjadi dalam proses pengalihan saham Bank Permata. Kecurigaan Rudy membesar ketika membaca sebuah note di Annual Report SCB Tahun 2006 tentang kepemilikan SCB di Bank Permata. Tertuliskan: There are no capital commitments related to the Groups investment in Permata. "Artinya, SCB beli tanpa modal? Kok tidak ada komitmen? Terus yang dipakai modal siapa," papar Rudy.

SCB wajib menjelaskan dengan menyertakan dokumen pendukung, apa maksud dari kalimat "no capital commitment" yang tertuang pada annual reportnya tersebut. "Maka transaksi pengambil alihan Bank Permata wajib dipertanyakan oleh otoritas yang berwenang," tegas Rudy.

Ekonom Ichsanuddin Noorsy, bilang, jika benar Bank Permata dibeli SCB, maka Bank Permata sebagai members atau affiliated SCB. "Tapi, adakah tertulis Bank Permata sebagai SCB members? Tanya Ichsan menyadarkan.

Memang, seperti umumnya korporasi besar jika memiliki anak usaha atau afilliated, selalu disebutkan, dengan tulisan members atau affiliated perusahaan induknya.

Dugaan Noorsy, SCB sepertinya diperalat untuk pengambilalihan Bank Permata. "Apakah benar SCB pemilik Bank Permata? Nah pada perspektif inilah, KPK bisa masuk dan membuktikan bahwa pengambilalihan dan pelepasan Bank Permata oleh SCB merugikan negara," tandasnya.

Menurut Rudy, bahwa siapapun yang ingin memiliki aset di Indonesia, terutama institusi strategis seperti bank, hendaknya transparan dan jelas, siapa pemiliknya, dan asal dananya. "Apakah kedua hal itu sudah dipenuhi oleh SCB?" tanya Rudy.

Sebelumnya Rudy telah mendatangi KPK dan meminta untuk menyelidiki adanya kerugian negara dari proses pembeliaan dan penjualan saham Bank Permata oleh SCB.

"Jika KPK bisa buktikan adanya kejahatan dalam pengambilalihan itu dan benar merugikan negara, maka potensi Rudy untuk mengambil kembali Bank Bali, cukup besar," terang Noorsy.

Saat ini, SCB sedang berupaya melepas kepemilikan sahamnya pada Bank Permata. Namun, Rudy berharap agar pihak-pihak terkait, menghentikan sementara (suspend) upaya tersebut, sebelum adanya investigasi. "Saya meminta agar proses penjualan saham itu dihentikan, dan berharap OJK melakukan investigasi khusus. Segera!" kata Rudy.

Rudy Ramli adalah selaku pemilik Bank Bali sebelum bank tersebut diambilalih BPPN dan dimerger menjadi Bank Permata. Pada 2003, BPPN memutuskan Bank Bali bersama empat bank yang lain (Bank Prima Expres, Bank Artha Media, Bank Patriot, Bank Universal) dimerger.

Dan, Bank Bali menjadi leader dalam proses merger tersebut. Usaha penjualan kepemilikan saham Bank Permata milik Standard Chartered Bank (SCB), sangat diharapkan dilakuan secara transparan. [ipe]

Komentar

x