Find and Follow Us

Kamis, 19 September 2019 | 12:15 WIB

Jokowi Sentil Neraca Dagang, Mulyani Bilang Begini

Senin, 8 Juli 2019 | 18:54 WIB
Jokowi Sentil Neraca Dagang, Mulyani Bilang Begini
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati - (Foto: inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Bogor - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati, mengatakan, perbaikan neraca perdagangan Indonesia yang saat ini mengalami defisit, bergantung kerja sama menteri di kabinet.

"Untuk menangani masalah neraca perdagangan ini harus merupakan kerja bersama dari seluruh kabinet, dan beliau (Presiden Jokowi) tadi menyampaikan bahwa seluruh tim harus melihat secara detail komoditasnya, negara tujuannya, supaya kita juga bisa formulasikan kebijakan yang lebih tepat mengenai hal tersebut," kata Sri Mulyani di Istana Bogor, Jawa Barat, Senin (8/7/2019).

Presiden Joko Widodo dalam sidang kabinet paripurna, meminta para menteri di Kabinet Kerja, berhati-hati terhadap defisit neraca perdagangan yang sudah mencapai US$2,14 miliar pada Januari-Mei 2019.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor Januari sampai Mei 2019 secara tahunan alias year on year (yoy), mengalami penurunan 8,6%. Sedangkan impor periode sama turun 9,2%. Artinya, neraca perdagangan Indonesia pada Januari-Mei mengalami defisit US$2,14 miliar. Di mana, defisit tersebut banyak disumbang impor migas.

"Coba dicermati angka-angka ini dari mana? Kenapa impor jadi sangat tinggi? Kalau didetailkan lagi migasnya ini naiknya gede sekali. Hati-hati di migas Pak Menteri ESDM yang berkaitan dengan ini, Bu menteri BUMN yang berkaitan dengan ini, karena 'ratenya' yang paling banyak ada di situ," kata Jokowi.

Dalam hal ini, Sri Mulyani mengakui, dari sisi eksternal neraca perdagangan, mengalami pelemahan. Akibatnya, terjadi pelemahan terhadap perekonomian Indonesia. "Sehingga membutuhkan perhatian dari seluruh kementerian dan lembaga untuk memacu perdagangan terutama ekspor dan untuk menjaga barang subtitusi impor tetap terbangun," kata Sri Mulyani.

Sedangkan terkait dengan insentif bagi industri, ia menyatakan bahwa Presiden meminta agar kementerian dapat memberikan kemudahan dalam proses bisnis. "Seperti mendapatkan tanah dan lainnya, nanti dilihat saja oleh para menteri yang lain melalui instrumen policy yang mereka miliki," katanya

Sementara untuk impor migas, Sri Mulyani mengakui ada peningkatan kebutuhan di dalam negeri sedangkan produksi migas malah di bawah prediksi.

"Selama ini kalau kita lihat, sampai semester I produksi minyak dan gas kebetulan di bawah yang kita asumsikan awal, jadi dari sisi kuantitatif turun. Tahun ini juga kebetulan kurs maupun harga minyak lebih rendah, jadi penerimaan kita dari sisi migas mengalami penurunan, namun kebutuhan di dalam negeri itu meningkat sehingga memang harus dipikirkan strategi dari hulunya bagaimana ditemukan sumur-sumur (minyak) yang baru, yang ada harus memproduksi lebih banyak dan kemudian gas juga sama," katanya.

Selain meningkatkan produksi, Sri Mulyani menilai bahwa kebutuhan migas di dalam negeri harus dicari substitusinya seperti implementasi B20. "Dalam hal ini juga untuk kebutuhan dalam negeri apakah bisa ada subtitusinya seperti B20, implementasinya seperti apa? Itu yang mungkin lebih perlu diperhatikan karena selain neraca pembayaran, nanti juga terlihat juga di dalam APBN kita. Ini kan sedang diluncurkan, jadi belum kelihatan efektivitasnya," katanya.

Sedangkan Menteri BUMN Rini Soemarno menyatakan dirinya tidak apa-apa ditegur oleh Presiden. "Oh kalau ditegur mah enggak apa-apa. Nggak apa-apa, ya kita harus lebih kerja keras mengingat impor kita turun, tapi lebih turun lagi ekspor kita, jadi kita harus lebih banyak kerja keras, Migas kita memang kalau 'demand' naik otomatis kita impor banyak, kita akan lihat kenapa bulan Mei naik," kata Rini. [tar]

Komentar

Embed Widget
x