Find and Follow Us

Kamis, 19 September 2019 | 19:06 WIB

Pengukuhan DPP Apkasindo

Gulat Perjuangkan Sawit Rakyat Bersertifikat ISPO

Selasa, 9 Juli 2019 | 13:54 WIB
Gulat Perjuangkan Sawit Rakyat Bersertifikat ISPO
(Foto: inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Sebanyak 56 pengurus harian Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (DPP Apkasindo) disahkan Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) yang juga Ketua Dewan Pembina DPP Apkasindo, Jenderal TNI (Purn) Moeldoko.

Acara pengukuhan pengurus DPP Apkasindo periode 2019-2024, berlangsung di Auditorium Rimbawan I Manggala Wanabhakti, Jakarta, Selasa (9/7/2019). Sejumlah petinggi negara juga bakal hadir di acara itu, termasuk mantan Direktur Jenderal Perkebunan yang juga Ketua Badan Eksekutif Gabungan Asosiasi Petani Perkebunan Indonesia, Prof Agus Pakpahan, Ketua Umum DPP Apkasindo, Gulat Medali Emas Manurung.

Gulat Manurung mengatakan, pengukuhan pengurus harian DPP Apkasindo merupakan bagian dari langkah Apkasindo untuk lebih memacu langkah menuju petani kelapa sawit modern yang berkelanjutan.

"Ada sederet pekerjaan besar yang sedang kami kerjakan sebelum dan setelah pengukuhan ini. Mulai dari menata para petani kelapa sawit biar muncul sebagai petani yang punya kelembagaan, menyodorkan konsep tata niaga Tandan Buah Segar (TBS) kepada 22 gubernur se-Indonesia, hingga menata lahan-lahan petani kelapa sawit berbasis online yang terkoneksi dengan Kartu Tanda Anggota (KTA)," terang Gulat.

Biarpun hanya petani kelapa sawit kata mantan Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Apkasindo Provinsi Riau ini, petani juga musti melek dengan yang namanya teknologi, khususnya teknologi berbasis aplikasi. "Kami juga musti mengupgrate diri oleh munculnya revolusi industri 4.0. Lewat teknologi itu, petani tidak akan repot lagi menyuguhkan data dan lokasi lahannya," ujar Gulat.

Pekerjaan yang tak kalah pentingnya lagi yang sampai sekarang terus dilakukan oleh Apkasindo kata Gulat adalah mengajak pemerintah dan stakeholder terkait untuk duduk bersama, mencari solusi yang paling pas untuk mengeluarkan lahan para petani dari kawasan hutan. "Kalau urusan kawasan hutan beres, berarti 75 persen persoalan perkebunan rakyat kelar," katanya.

Untuk urusan kawasan hutan tadi rampung, kata dia, Apkasindo akan lebih bergerak cepat supaya sawit rakyat memperoleh sertifikat Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). "Kita punya target bahwa pada 2025, 75 persen kebun sawit rakyat sudah terdaftar di ISPO," Gulat nampak bersemangat.

Saat ini, kata Gulat, Apkasindo ada di 22 DPW, 116 Dewan Pimpinan Daerah (DPD) dan ribuan Dewan Pimpinan Unit (DPU). "Dari sekitar 14 juta hektar kebun kelapa sawit di Indonesia, 45 persen adalah kebun milik petani. Kebun terluas ada di Riau, mencapai 2,2 juta hektar," Gulat merinci.

Dengan banyaknya para petani tadi kata Gulat, pekerjaan Apkasindo juga tidak akan ringan. Selain hal-hal berat yang bakal diselesaikan, tadi masih ada sederet pekerjaan yang tak kalah berat yang juga musti diselesaikan. "Intinya itu tadi, kami petani kelapa sawit musti bisa menjadi petani modern dan sustainable," tegasnya.

Ketua Dewan Pembina Apkasindo, Moeldoko berpesan agar Apkasindo tidak hanya menjadi menjadi organisasi yang beranggotakan petani sawit. "Tapi jadilah organisasi modern dan petani-petani tangguh. Sebab jika petani sudah tangguh, maka negara ini juga akan semakin kuat. Jadilah perekat bangsa, pionir pergerakan ekonomi negara," kata Moeldoko.

Hal yang sama juga diharapkan Agus Pakpahan bahwa petani sawit jangan lagi eksklusif dan tidak cerdas, tapi jadilah petani inklusif dan cerdas (inclusive and smart plantation). "Saya yakin petani sangat bisa untuk itu, sebab seribu satu macam produk bisa dibikin dari TBS hasil produksi petani. Di sinilah peran Apkasindo ditantang. Sudah tiba masanya kita membangun komunitas petani unggul, komunitas petani kelas dunia, tidak lagi sekadar membangun tanaman," katanya.

Pada acara ini juga dilaksanakan Nota Kerjasama DPP Apkasindo dengan PT RPN (Riset Perkebunan Nusantara) yang membawahi 6 Lembaga Riset Perkebunan serta Pupuk Kaltim, dan IPB Bogor. [tar]


Komentar

x