Find and Follow Us

Rabu, 17 Juli 2019 | 18:37 WIB

Bungaran: Jasa Besar Sawit untuk Ekonomi Daerah

Kamis, 11 Juli 2019 | 03:09 WIB
Bungaran: Jasa Besar Sawit untuk Ekonomi Daerah
Menteri Pertanian era Presiden Megawati, Bungaran Saragih - (Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Menteri Pertanian era Presiden Megawati, Bungaran Saragih bilang, perkebunan sawit rakyat yang berkembang di daerah pelosok dan terpinggirkan, melahirkan pusat ekonomi pedesaan.

"Perkebunan sawit yang dikembangkan rakyat tersebut mendorong kegiatan lain sehingga perputaran roda ekonomi di pedesaan semakin luas," kata Bungaran dalam sebuah seminar di Jakarta, Rabu (10/7/2019).

Banyak pusat perdagangan di wilayah pelosok yang berawal dari munculnya kegiatan sawit rakyat. Misalnya Aceh Tamiyang, Stablat Sumatera Utara, Bengkalis Riau, Sarolangun Jambi, Pangkalanbun, Sangata, Mamuju dan daerah lainnya di Tanah Air.

Bahkan, kata Bungaran, sawit rakyat tidak hanya menumbuhkan pusat ekonomi di pedesaan, namun juga berkontribusi terhadap perekonomian daerah, baik level kabupaten maupun provinsi.

Perkebunan sawit rakyat di Indonesia, lanjutnya, saat ini, melibatkan 2,6 juta kepala keluarga (KK). Atau mampu menghidupi sekitar 10,4 juta jiwa. Sedangkan jumlah pekerja yang diserap lebih dari 20 juta orang. Dengan kata lain, 10% dari total rakyat Indonesia menggantungkan hidupnya kepada sawit rakyat.

Hal senada diungkapkan, Sekretaris Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan), Antarjo Dikin, pada 1980-an banyak lahan terlantar yang sulit untuk dibudidayakan untuk pertanian.

Lalu masuklah tanaman kelapa sawit yang mampu mengubah ekonomi masyarakat, bahkan ada masyarakat yang sudah 30 tahun menetap di sana dan hidup dari kelapa sawit. "Dari yang tidak punya kendaraan menjadi punya kendaraan sekelas pejabat dan bisa menuaikan ibadah haji semua itu karena kelapa sawit," kata Antarjo.

Melihat fakta tersebut, dia mengakui, tanaman kelapa sawit telah mengubah ekonomi masyarakat. Bahkan bukan hanya masyarakat yang merasakan dampak ekonominya, tapi juga pemerintah daerah (Pemda) setempat. "Dari kelapa sawit daerah-daerah tumbuh dan berkembang dan itu bukti nyata," tutur Antarjo.

Namun, Antarjo mengakui dengan berkembangnya kelapa sawit rakyat ini, negara luar dalam hal ini Eropa merasa terganggu, padahal negara Eropa juga melakukan hal yang sama sebelum menjadi seperti saat ini.

Sementara itu, pengamat perkebunan Gamal Nasir membenarkan bahwa pertumbuhan kelapa sawit rakyat cukup pesat karena memang memberikan banyak manfaat, dan itu sudah terbukti.

Berdasarkan catatan Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian pada 2017, dari luas perkebunan kelapa sawit yang mencapai 12.307.677 hektar, yang dimiliki oleh rakyat atau petani seluas 4.756.272 hektar.

Angka itu meningkat tajam dibandingkan dengan 1979, atau awal berdirinya perkebunan rakyat. Kala itu, total luas perkebunan sawit hanya 260.939 hektar. Dan yang dimiliki petani hanya 3.125 hektar.

Terkait hal itu, mantan Dirjen Perkebunan itu menyatakan, program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) sangat berat jika tidak dilakukan dengan bersungguh-sungguh. [tar]

Komentar

x