Find and Follow Us

Kamis, 19 September 2019 | 12:19 WIB

PLTA Rajamandala Perkuat Kelistrikan Jawa-Bali

Oleh : Indra Hendriana | Sabtu, 13 Juli 2019 | 03:03 WIB
PLTA Rajamandala Perkuat Kelistrikan Jawa-Bali
(Foto: Dok)
facebook twitter

INILAHCOM, Cianjur - PT PLN (Persero) resmi mengoprasikan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Rajamanadala yang berkapasitas 47 megawatt (MW). PLTA ini terletak di Cianjur, Jawa Barat.

Plt Direktur Utama Indonesia Power M. Ahsin Sidqi dengan beroprasinya PLTA itu memperkuat akan interkoneksi kelistrikan Jawa-Bali. Sebab, PLTA ini dikoneksikan ke sistem Jawa-Bali.

"PLTA Rajamandala akan memperkuat sistem interkoneksi kelistrikan Jawa-Bali melalui transmisi 150 kilovolt (kV) Cianjur-Cigereleng sekaligus sebagai backup system kelistrikan khususnya di wilayah Bandung," kata Ahsin di Cianjur, Jumat (12/7/2019).

Dia menyebut, program pembangunan PLTA Rajamandala telah sesuai dengan Rencana Usaha Penyedia Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2019-2028. Adapun proyek pembangunan PLTA tersebut menelan investasi sebesar USD150 juta.

Nah, proyek ini dimulai tujuh tahun lalu sejak 2012 melalui kerja sama antara anak perusahaan PLN Indonesia Power (IP) dengan Kansai Electric Power Corp Japan (KEPCO) menjadi PT Rajamandala Electric Power.

Tidak hanya itu, pembangunan proyek PLTA Rajamandala juga merupakan komitmen PLN dalam mengejar bauran energi EBT 25% sampai 2025 mendatang. Adapun proyek pembangunan PLTA Rajamandala menjadi PLTA menggunakan penstock dan spiral case terbesar berbahan beton pertama di Indonesia.

"Selain itu PLTA Rajamandala juga merupakan pembangkit dengan waterway sistem labirin pertama dengan diameter terowongan terbesar di Indonesia," kata dia.

Adapun PLTA Rajamanda telah beroperasi sejak Mei 2019 lalu. Ini merupakan komitmen PLN bersama anak usahanya Indonesia Power membangun pembangkit berbasis renewable energy dan kami yakin Indonesia Power akan menjadi leading dalam bidang renewable energy.

PLTA Rajamandala merupakan komitmen Indonesia dalam mengimplementasikan Perjanjian Paris (Paris Agreement) dalam rangka menurunkan emisi gas rumah kaca di atmosfer, khususnya CO2.

Pada perjanjian tersebut telah disepakati bahwa penerapannya harus terintegrasi ke dalam pembangunan nasional di masing-masing negara.

Untuk mencapai target dari Persetujuan Paris tersebut, setiap negara harus berkontribusi dalam penurunan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) yang dituangkan dalam dokumen Kontribusi Secara Nasional (NDC).

Selain itu juga, Indonesia telah meratifikasi Perjanjian Paris melalui Undang-Undang No.16 tahun 2016 tentang Pengesahan Paris Agreement to The United Nations Framework Convention on Climate Change (Persetujuan Paris atas Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa Mengenai Perubahan Iklim).[jat]

Komentar

Embed Widget
x