Find and Follow Us

Sabtu, 24 Agustus 2019 | 14:58 WIB

Inpex Harap PoD Masela Tidak Berubah

Oleh : Indra Hendriana | Rabu, 17 Juli 2019 | 00:06 WIB
Inpex Harap PoD Masela Tidak Berubah
(Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sudah menyerujui revisi Rencana Pengembangan atau Plan of Development (PoD) blok Masela, yang diajukan oleh Inpex Corporation selaku operator.

Direktur Utama Inpex Takayuki Ueda berharap, kedepan tak ada perubahan pada PoD Blok Masela. Semua yang sudah disepakati antara pemerintah dan Inpex bisa bertahan hingga kontrak yang telah ditandatangani selesai.

"Karena ini kan long term proyek, masih ada FEED, FID, EPC dan produksi. Kita harapkan rezim fiskal jangan diganti. Kalau sudah produksi diganti akan negatif ke kita. Kalau konsisten terjadi sesuatu kita yang akan menanggung resiko," kata Takayuki dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (16/7/2019).

Di proyek Masela, Inpex akan mengelola hingga 2055. Masa kontrak itu adalah komulatif perpanjangan tambahan kontrak selama tujuh tahun sebagai kompensasi dari kajian yang sempat dilakukan Inpex. Hingga kontraknya berakhir nanti perusahaan asal jepang itu masih tetap menggunakan cost recovery.

Total kapasitas produksi gas yang akan diproduksi oleh Inpex setiap tahunnya adalah sebesar 10,5 juta metrik ton per tahun dengan rincian sebanyak 9,5 juta MT per tahun untuk gas alam cair atau Liquefied Natural Gas (LNG) dan sebanyak 150 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) disuplai untuk kebutuhan domestik.

Selain itu, lapangan abadi juga memproduksi kondensat dengan produksi rata-rata perhari 35 ribu barel per harui (bph) yang akan mulai berproduksi ditargetkan pada tahun 2027.

Sementara Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto menyatakan, proyek Masela merupakan proyek energi terbesar di sektor migas Indonesia sampai saat ini. Nantinya multiplier effect yang akan ditimbulkan paling berdampak adalah dari sisi industri petrokimia yang memang sedang gencar digenjot oleh pemerintah.

"Akan ada proses mencari investor untuk petrokimia ini. Tadi disampaikan bahwa revenue yang bisa di-collect sampai 2055 adalah sekitar US$ 137 miliar. cukup besar. inilah dampaknya pada keekonomian nasional," ujar Dwi.[jat]

Komentar

x