Find and Follow Us

Sabtu, 24 Agustus 2019 | 14:59 WIB

Enggartyasto Diminta Lobi China Demi Genjot Ekspor

Rabu, 17 Juli 2019 | 17:45 WIB
Enggartyasto Diminta Lobi China Demi Genjot Ekspor
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita - (Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Neraca perdagangan Indonesia periode Juni 2019 tercatat surplus US$0,2 miliar. Meski surplus, ekspor perlu digenjot dengan memanfaatkan perang dagang Amerika Serikat dengan China.

Sejumlah kalangan meminta Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menggeber peluang itu dengan melobi langsung pemerintah negeri Tirai Bambu.

Wakil ketua Komisi VI, Inas Nasrullah Zubir mengatakan, Indoensia harus meningkatkan ekspor produksi lantaran banyak yang berpontensi. Jadi, Indonesia jangan ekspor lagi barang mentah melainkan sudah siap pakai. Oleh karena itu, Inas menyarankan Mendag pergi ke China untuk melakukan lobi dan mengetahui apa yang dibutuhkan di sana.

Apalagi, politisi Hanura, tenaga kerja di China sangat mahal. "Jadi apa yang bisa produksi bisa kita tawarkan. Ya saya kira kalau emang ada yang bisa dibicarakan perlu ke China. Nah saya kira apa yang bisa kita ekspor sama kita, kita izin kita ekspor ke sana," kata Inas kepada wartawan, Jakarta, Rabu (17/7/2019).

Kepergian Mendag Enggatyasto Lukita ke China, kata dia, diharapkan bisa membawa oleh-oleh nan bermanfaat. Ya, apalagi kalau peluang ekspor Indonesia ke China.

Sehingga, kerja sama ekspor Indonesia ke China terus meningkat untuk memperbaiki neraca perdagangan. "Yang penting Mendag pulang bawa hasil. Tetapi menteri perindustrian juga harus ke sana juga untuk mencari tahu apa sih yang bisa diproduksi Indonesia diekspor China terutama barang-barang industri barang-barang teknologi Indonesia cukup mumpuni," paparnya.

Pandangan senada, Wakil ketua Komisi VI DPR Azam Azman Natawijana bilang, kunjungan Mendag Enggartyasto ke China, harus dioptimalkan dengan melobi kalangan pebisnis setempat, semi meningkatkan ekspor Indonesia. "Bisa saja tetapi seberapa besar lobi itu akan sukses, ya perlu dicoba harus begitu. Mereka (China) lebih besar dari kita," kata Azam

Apalagi, kata dia, Indonesia punya perjanjian dengan China. Perjanjian itu pun punya payung hukum. Namun, Indonesia harus memiliki barang yang kompetitif agar China tertarik. Di mana, produk Indonesia masih kalah bersaing dengan produk China. "Nah itu bisa dipakai," katanya.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), Pingkan Audrine Kosijungan menilai, untuk tingkatkan ekspor pemerintah harus mencari produk yang mempunyai nilai tambah. Juga harus diperhatikan produknya memang produk olahan. "Sehingga harga jual ekspor lebib tinggi dibandingkan dengam produk mentah. Bisa manufaktur," katanya.

Di kesempatan terpisah, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Yunita Rusanti mengatakan, surplus yang terjadi memang tidak begitu besar, tepatnya US$196 juta pada Juni 2019.

Yunita mengatakan, momen ini diduga juga akibat imbas perang dagang AS dengan China. "Sebenarnya kita ada peluang lagi meningkatkan ekspor, bisa dilihat komoditas apa yang bisa dipasok ke China dan juga AS," ujarnya.

Komoditas ekspor ke China yang cukup besar, kata dia, adalah batu bara, Crude Palm Oil (CPO), besi dan baja. Ia pun memprediksi ekspor CPO ke China masih bisa digenjot lagi.

Pemerintah, lanjutnya, bisa mendorong lagi melakukan upaya-upaya baik internal maupun eksternal meningkatkan ekspor ini. Antara lain Menteri Perdagangann bisa melakukan lobi-lobi ke negara tujuan ekspor seperti China. "Ini PR semua (menteri terkait) lah, bisa melakukan upaya-upaya agar momen perang dagang AS China ini bisa kita manfaatkan," katanya.

Yunita menyebut, faktor-faktor lain yang berpengaruh terhadap neraca perdagangan yakni kondisi ekonomi dunia yang masih lemah. Meski demikian pemerintah bisa terus melakukan berbagai upaya.

Diketahui, Kementerian Perdagangan (Kemendag) berupaya menekan angka defisit perdagangan Indonesia dengan China yang sebesar 18,41 miliar dolar AS pada 2018. Adapun pada tahun tersebut, nilai perdagangan Indonesia-China mencapai 72 miliar dolar AS.

Direktur Kerja Sama Pengembangan Eskpor Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag Marolop Nainggolan mengatakan, Indonesia dapat memanfaatkan potensi pasar China yang penduduknya berjumlah 1,4 miliar orang. Untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya tentu pemerintah China tidak dapat mengatasinya sendiri. [tar]

Komentar

x