Find and Follow Us

Sabtu, 24 Agustus 2019 | 17:14 WIB

Seandainya Fed Gagal Turunkan Bunga

Oleh : Latihono Sujantyo | Kamis, 18 Juli 2019 | 05:59 WIB
Seandainya Fed Gagal Turunkan Bunga
(Foto: istimewa)

INILAHCOM, Jakarta--Jangan terlalu banyak berharap pada penurunan suku bunga acuan oleh The Fed. Indonesia harus terus berbenah memperbaiki sektor-sektor ekonomi.

Selasa waktu setempat pekan ini pada audiensi makam malam di Bank of France di Paris, Perancis, Gubernur The Fed Jerome Powell kembali memberi sinyal bahwa Bank Sentral AS yang dipimpinnya itu kemungkinan akan menurunkan suku bunga acuan yang kini berada di kisaran 2,25%-2,6%.

Beberapa hari sebelumnya dia menyampaikan tak jauh beda saat berpidato di hadapan anggota parlemen AS, seperti yang ia pernah kemukakan pula pada 19 Juni usai Rapat Dewan Kebijakan Bank Sentral AS atau Federal Open Market Committee (FOMC).

Powell memang berada dalam tekanan Presiden Donald Trump dan sejumlah anggota parlemen yang sejak lama meminta The Fed menurunkan suku bunga acuan, meskipun bank sentral yang sangat berpengaruh di dunia ini tak bisa diutak-atik.

Terlepas perselisihan Trump dengan Powell, sinyal The Fed kabar menguntungkan bagi emerging market, termasuk Indonesia. Aliran modal asing bakal masuk cukup lumayan ke Indonesia, apalagi lembaga pemeringkat internasional, Standard and Poors (S&P) baru saja menaikkan peringkat utang Indonesia--pertanda prospek pertumbuhan ekonomi nasional cukup baik ke depan.

Peringkat tersebut menguatkan status Investment Grade Indonesia dengan level yang sama dari ketiga lembaga rating utama, yaitu S&P, Moodys dan Fitch.

Bank Indonesia mencatat, sepanjang kuartal I-2019 aliran modal asing atau capital inflow yang masuk mencapai Rp 74,4 triliun. Angka tersebut berasal dari akumulasi Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 62,5 triliun dan saham Rp 11,9 triliun.

Di tengah situasi pasar keuangan seperti ini, Indonesia harus segera berbenah memperbaiki sektor-sektor yang selama ini menjadi pengganjal pertumbuhan ekonomi nasional, seperti defisit neraca transaksi berjalan (current account deficit/CAD) serta perbaikan ekspor.

Meskipun pasar keuangan global akan menguntungkan Indonesia, pembenahan segera itu penting mengingat terjadi ketegangan meningkat di Timur Tengah, terutama konflik AS dengan Iran setelah Paman Sam secara sepihak menarik diri dari progam nuklir Iran dan memberlakukan kembali sanksi ekonomi.

Iran yang menguasai Selat Hormuz bukan tak mungkin menutup satu-satunya jalur perairan pengiriman minyak delapan negara di kawasan Teluk Persia, seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, Kesultanan Oman, Kuwait, Irak, dan Iran.

Hampir setiap 10 menit satu kapal tanker melewati selat tersebut. Sekitar 40% impor minyak dunia melewati selat itu, dan sekitar 90% ekspor minyak negara-negara Arab melalui jalur Selat Hormuz.

Jika ketegangan semakin meningkat di kawasan ini, harga minyak dunia dipastikan naik. Kenaikan harga minyak yang drastis akan memukul APBN, karena melonjaknya beban subsidi energi. Selain itu, inflasi akan meningkat karena mobil pribadi hanya sedikit menerima subsidi.

Apalagi, jika The Fed tidak jadi menurunkan suku bunga acuan, situasi bisa bertambah runyam. Sebab, para pejabat The Fed terus menganalisa apakah dampak perang dagang AS dengan China memerlukan penurunan suku bunga. Tetapi, Powel menegaskan bahwa The Fed bebas dari tekanan politik jangka pendek dan tidak bekerja berdasarkan pergerakan sesaat di sektor finansial.

Makanya, Indonesia tidak usah terlalu berharap banyak pada penurunan suku bunga oleh The Fed. Turun atau tidak, Indonesia harus terus berbenah. [lat]

Komentar

Embed Widget
x