Find and Follow Us

Sabtu, 24 Agustus 2019 | 17:31 WIB

Muliaman: Ikuti Jejak Pendidikan Vokasi di Swiss

Kamis, 18 Juli 2019 | 10:29 WIB
Muliaman: Ikuti Jejak Pendidikan Vokasi di Swiss
Dubes RI untuk Swiss, Muliaman D Hadad - (Foto: Inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM), pemerintah menempuhnya dengan mengembangkan vokasi. Tidak ada salahnya mengikuti jejak negara yang sudah maju, yakni Swiss.

Dubes RI untuk Swiss, Muliaman D Hadad, mengatakan, Swiss adalah negara yang berhasil memajukan dunia vokasi. Sebanyak 70% lulusan SMA dan sederajat di Swiss, melanjutkan pendidikan vokasi.

Kondisi ini ini bertolak belakang dengan Indonesia. Ketika lulusan SMA dan sederajat lebih memilih melanjutkan pendidikan ke universitas atau kampus.

"Di Swiss, para CEO dan pengusaha besar itu berasal dari lulusan pendidikan vokasi. Jadi sistem pendidikan vokasi yang saya maksud adalah industri berkaitan dengan dunia pendidikan dengan peranan swasta sangat dominan serta persepsi para orangtua," papar Muliaman dalam seminar bertajuk Revitalisasi Pendidikan Tinggi Vokasi di Indonesia: Implementasi Pembelajaran Dual System di Universitas Prasetiya Mulya, Jakarta, Rabu (17/7/2019).

"Maka penting memberi pemahaman bagi orangtua untuk tidak menjadikan pendidikan vokasi menjadi inferior, sungguh hal berbeda seperti di Swiss," imbuh mantan Ketua Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) ini.

Dikatakan Muliaman, menjadi penting untuk membangun ekosistem yang lebih komplet dan kuat seperti yang terjadi di Swiss. Diharapkan, kualitas dan produktivitas SDM di Indonesia semakin mumpuni. Penting untuk mencegah terjadinya missing link dalam proses pembangunan ekonomi di Indonesia.

Pendidikan vokasi yang dapat menjadi solusi, menurutnya, masih menghadapi beberapa tantangan. Semisal, masih kuatnya anggapan para orangtua bahwa jalur pendidikan vokasi hanyalah pilihan kesekian bagi anak-anaknya. Tantangan lainnya adalah keengganan sektor privat mempekerjakan para lulusan vokasi. Dengan kata lain, ekosistemnya belum terbangun sempurna.

Langkah China yang tengah mereformasi pendidikan vokasi, lanjut Muliaman, di antaranya dengan memfungsikan National Vocational Education Steering Committee, dinilai layak menjadi referensi bagi Indonesia.

Dalam kesempatan itu, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi M Nasir yang hadir membuka seminar mengemukakan, revitalisasi akan terfokus pada lembaga pendidikan vokasi yang telah ada berikut pembenahan kurikulum, fasilitas dan infrastruktur serta kualitas tenaga pendidik.

"Sehingga para lulusan pendidikan tinggi vokasi tidak saja memegang ijazah, namun memiliki pula sertifikat kompetensi. Jangan sampai para lulusan memiliki ijazah, tapi tidak kompeten. Dengan begitu, nantinya sebelum bekerja, mereka tidak lagi ditanya berasal dari perguruan tinggi mana, tapi cukup ditanya apa sertifikat kompetensi yang dimiliki," ujar Nasir.

Hal senada disampaikan Wakil Ketua Yayasan Prasetya Mulya, G Sulistiyanto. Pihak kampus menyambut baik kebijakan pemerintah memberlakukan super tax deductible atau insentif fiskal dalam bentuk keringanan pajak bagi industri yang berinvestasi pada pendidikan vokasi, serta aktivitas penelitian dan pengembangan.

"Harapannya, seluruh inisiatif perusahaan dalam pendidikan vokasi yang menghasilkan lulusan tersertifikasi, berkesempatan mendapatkan insentif tadi," kata Sulistiyanto yang juga Managing Director Sinar Mas.

Dalam praktiknya, dual system melibatkan sektor industri dalam penyusunan kurikulum pendidikan tinggi yang memadukan pembelajaran teori sebanyak 30% dan 70% berupa praktik di lingkungan kerja, sesuai kebutuhan industri terkait.

Chairman of Swiss Federal Institute for Vocational Education & Training (SFIVET), Gnaegi Philippe, yang hadir sebagai pembicara, mengatakan, hadirnya negara bersama sektor privat akan menghasilkan sistem pendidikan vokasi yang efektif, sesuai dengan kebutuhan pasar tenaga kerja.

Dikatakan, Swiss menjadi mitra penting merevitalisasi pendidikan vokasi di Indonesia karena penerapan dual vocational education and training yang mereka terapkan mampu menghasilkan pekerja usia muda yang produktif sekaligus kompetitif.

Hal itu tecermin dari angka pengangguran pekerja muda yang kecil dan peringkat tertinggi yang mampu dicapai negara ini dalam Global Competitiveness Index lansiran World Economic Forum.

Sulistiyanto menambahkan, pihaknya akan mendatangkan dosen dan guru vokasi dari Swiss untuk melakukan kajian dan penilaian di program studi Teknologi Pengolahan Sawit, Fakultas Vokasi Institut Teknologi Sains Bandung (ITSB) dan seluruh program studi yang dinaungi Poltek Simas Berau Coal. [tar]

Komentar

Embed Widget
x