Find and Follow Us

Rabu, 11 Desember 2019 | 12:03 WIB

Produksi Minyak Pertamina Molor Tahun Depan

Oleh : Indra Hendriana | Jumat, 19 Juli 2019 | 19:22 WIB
Produksi Minyak Pertamina Molor Tahun Depan
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Produksi minyak proyek YY di Offshore North West Java (ONWJ) milik PT Pertamina Hulu Energi (PHE) di Pantai Utara Jawa, Karawang Jawa Barat, diprediksi molor sampai tahun depan.

Hal ini dikarenakan adanya gelembung gas di proyek YYA-1 pada 12 Juli 2019 lalu. Padahal jadwal produksi di sana ditargekan pada September 2019.

"Sumur pengembangan yang ada di PHE di Lapangan YY yang diharapkan bisa berproduksi di tahun ini sebesar 4.600 barel per hari, kemungkinan besar akan bergeser ke tahun depan," kata Deputi Operasi Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Fatar Yani Abdurrahman di kantor SKK Migas, Jakarta, Jumat (19/7/2019).

Dia mengatakan, tim SKK Migas bersama Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Kementerian ESDM, beserta PHE ONWJ tengah menangani kondisi.

Dengan begitu dia berharap dawal waktu dekat masalah gelembung gas sudah bisa diselesaikan. Dengan begitu, lapangan di sana sudah bisa beraktivitas lagi.

"Mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa diselesaikan dan dlm waktu dekat kita bisa recover, apa yang hilang dalam waktu seminggu terakhir sehingga sumur ini bisa kita produksi kembali," kata dia.

PHE sendiri diketahui sudah menutup proyek YY-A 1 sejak Minggu, 14 Juli 2019 setelah gelembung-gelembung gas yang muncul makin banyak dan membesar. Nah, penutupan ini yang membuat jadwal produksi molor.

Sebelumnua Plt Dirjen Migas Kementerian ESDM Djoko Siswanto mengatakan, potensi gelembung gas di proyek YYA-1, Blok Offshore North West Java (ONWJ), menimbulkan semburan gas (blow out).

Bahkan semburan gas proyek dari PT Pertamina Hulu Energi, kata Djoko bisa seperti bencana tumpahan minyak di Teluk Meksiko, Amerika Serikat yang difilmkan dengan judul Deep Horizon.

"Pernah menonton Deep Horizon nggak? Kejadian buruknya bisa seperti (film) itu," kata Djoko,di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (17/7/2019).

Nah, untuk mencegah resiko terburuk itu, kata dia, anak usaha Pertamina itu saat ini tengah dilakukan upaya pencegahan. Salah satunya dilakukan pengeboran miring.

Namun, upaya tersebut mengakibatkan anjungan lepas pantai yang ada di YYA Blok ONWJ yang dioperatori Pertamina Hulu Energi (PHE) mengalami kemiringan, saat ini kemiringannya sudah mencapai 8 drajat.

"Sekarang sedang diupayakan dilakukan bor miring untuk menutup kebocoran gas blow out. Risikonya anjungan miring 8 drajat miringnya," tutur Djoko.

Sumur YYA-1 merupakan sumur reaktifasi di sekitar 2 Kilo Meter (KM) dari Pantai Utara Jawa, Karawang Jawa Barat. Gelembung gas muncul sejak Jumat (12/7/2019), dalam proses mengeboran untuk mengaktifkan kembali sumur YYA-1 untuk diproduksi kandungan minyak dan gasnya (migas).[jat]

Komentar

x