Find and Follow Us

Sabtu, 24 Agustus 2019 | 17:33 WIB

Era Digital, BMKG Tinggalkan Pensil dan Penghapus

Minggu, 21 Juli 2019 | 13:23 WIB
Era Digital, BMKG Tinggalkan Pensil dan Penghapus
Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati

INILAHCOM, Jakarta - Mungkin tak banyak yang tahu, untuk memprediksikan cuaca, petugas Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) hanya menggunakan pensil dan penghapus. Lho?

Tapi itu zaman dulu, sekarang sudah alat khusus yang serba canggih dan digital. "Cuaca di Indonesia sendiri saat ini mengalami anomali dimana terjadi penyimpangan dari kondisi normal. "Inilah yang menjadi alasan BMKG untuk terus bertransformasi dan berinovasi sesuai tuntutan zaman," ungkap Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati di Jakarta, bebera waktu lalu.

Dwikorita memaparkan, realitas kekinian planet bumi semakin kompleks dan tidak pasti akibat perubahan iklim global. Frekuensi dan intensitas cuaca ekstrem dan iklim, gempa bumi, dan tsunami pun semakin meningkat berkali lipat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Ditambah ulah dan prilaku manusia yang merusak lingkungan.

"Inilah yang menjadi penyebab intensitas katastropik semakin pendek dengan daya rusak yang semakin dahsyat. Jika kita (BMKG-red) tidak ikut berbenah maka tugas, fungsi, dan peran BMKG akan menjadi tumpul. Terutama dalam hal mitigasi bencana," tuturnya.

Plt Sekretaris Utama BMKG, Dr Widada Sulistya, mengungkapkan, transformasi dan inovasi yang dilakukan BMKG saat ini sangat luar biasa jika dibandingkan BMKG era 80-an. Saat masih di bawah Kementerian Perhubungan, BMKG mengalami keterbatasan alat sehingga pengamatan cuaca dan iklim yang dilakukan pun jauh dari kata akurat lantaran masih serba manual.

"Prakiraan cuaca hanya berdasarkan pengamatan mata telanjang. Dari sisi operasional sangat konvensional. Senjata kami pun sederhana, tangan kanan pegang pensil sedangkan tangan kiri memegang penghapus," ungkap pria kelahiran Blora, 6 Juli 1960 ini.

Selanjutnya, Widada menerangkan kegunaan pensil dan penghapus bagi para forecaster alias peramal cuaca. Pada waktu yang telah ditentukan, forecaster yang ada di seluruh stasiun akan melakukan pengamatan terhadap awan, arah angin, kelembaban udara, dan lain sebagainya yang kemudian dicatat dalam bentuk sandi. Setelah itu akan digambar dalam peta besar secara manual disertai prediksi atau prakiraan cuaca.

"Ada yang lucu, meskipun mengamati kondisi atmosfer, namun saat itu tidak ada satupun pegawai BMKG yang pernah melihat rupa dan bentuk awan. Tidak ada yang pernah naik pesawat. Perjalanan dinas ke daerah hanya menggunakan kapal laut," tutur Widada yang hobi tenis meja ini.

"Padahal hasil pengamatan cuaca tersebut disampaikan kepada pilot maskapai. Nanti di sini ada awan CB, di sana awannya tipis, hujan, dan sebagainya tapi tidak ada satupun yang tahu bentuk awan itu seperti apa," tambah Widada sembari tertawa.

Namun demikian, lanjut dia, pengamatan kondisi cuaca bandara pemberangkatan dan tujuan relatif 99% akurat. Hanya saja cuaca di perjalanan yang kerap keliru dan kurang akurat. Maklum, saat itu peralatan yang dimiliki BMKG sangat terbatas.

Setelah resmi berstatus Lembaga Pemerintah Non Departemen (LPND), BMKG tancap gas. Seluruh peralatan kovensional dipensiunkan, diganti dengan peralatan canggih dan serba digital.

Tidak ada lagi pengamatan atmosfer dengan mata telanjang, karena BMKG telah memiliki radar cuaca dan juga satelit cuaca. "Tidak perlu lagi harus menggambar dengan pensil, karena kondisi atmosfer sudah tercitrakan secara digital. Baik itu sebaran awan, suhu, angin, tekanan, kelembapan, hujan, dan lain sebagainya," imbuh lulusan S3 Sumber Daya Pantai, Universitas Diponegoro ini.

Widada memaparkan, saat ini, BMKG telah memiliki 40 radar cuaca dan menggunakan satelit cuaca Himawari-8. Agar hasil pemantauan lebih akurat, BMKG pun telah merencanakan penambahan 20 radar cuaca, sehingga kedepan jumlahnya radar yang dimiliki sebanyak 60 buah yang tersebar di seluruh Indonesia.

Dengan peralatan yang serba modern tersebut, maka prakiraan cuaca yang dikeluarkan BMKG bisa hingga 10 hari ke depan. Jauh lebih lama dibandingkan dulu yang cuma satu hari. Informasi cuaca yang dihasilkan tidak hanya bersifat umum untuk kota-kota di Indonesia, namun juga lebih detail hingga skala kabupaten dan kecamatan dengan jangka waktu prakiraan yang semula setiap 6 jam saat ini menjadi lebih spesifik yaitu 3 jam.

Bahkan, lanjut Widada, saat Asian Games 2018 digelar, prakiraan cuaca dapat dilakukan hingga venue tempat pertandingan. "Untuk menyebarkan informasi cuaca, selain melalui media sosial kami juga menyiapkan informasi yang dapat dengan mudah diupdate melalui aplikasi di handphone setiap orang," tuturnya.

Melanjutkan paparan, Dwikorita bilang, saat ini kebutuhan informasi cuaca secara cepat, tepat waktu, dan akurat semakin meningkat. Maka dari itu BMKG terus berbenah dengan melakukan pemukhtahiran teknologi observasi, pengolahan, analisa, serta peningkatan pengetahuan untuk mendukung kecepatan dan keakurasian informasi cuaca.

Pemanfaatan informasi cuaca, lanjut Dwikorita, juga didorong untuk meningkatkan produktivitas sektor pertanian serta perikanan dan kelautan. Sasarannya adalah petani dan nelayan. Bagi petani, melalui Sekolah Lapang Iklim (SLI) diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mereka dalam memanfaatkan
informasi iklim guna mengantisipasi dampak fenomena iklim ekstrem.

Sementara, bagi nelayan BMKG rutin menggelar Sekolah Lapang Nelayan (SLN). Tujuannya, agar nelayan mampu memanfaatkan secara presisi informasi yang dikeluarkan BMKG guna keperluan aktivitas melaut dan pengembangan ekonomi maritim yang berkelanjutan. "Target BMKG adalah seluruh informasi cuaca harus dapat menjangkau hingga "grass root" secara cepat, tepat, dan mudah dipahami sehingga dapat mendukung aktivitas mereka," imbuh Dwikorita.

Inovasi lain yang dilakukan BMKG adalah dengan membuat sistem baru informasi cuaca berbasis dampak atau BMKG System for Multi Generations Weather Model Analysis and Impact Forecast (BMKG Signature).

Informasi cuaca ini dilengkapi identifikasi wilayah berpotensi terdampak, potensi ancaman yang ditandai dengan poligon berwana dan level risiko 1-10. "Semakin tinggi level risiko, makin tinggi pula ancaman bencananya," terangnya.

Inovasi terbaru ini merupakan kombinasi antara informasi kerentanan dari Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) dengan informasi curah hujan di BMKG. Informasi yang dihasilkan tidak sekadar informasi cuaca seperti hujan lebat, sedang maupun ringan, namun jauh lebih rinci hingga level kecamatan dan daerah risiko. Dengan sistem baru ini lanjutnya, masyarakat bisa paham ketika terjadi siklon tropis, akan ditandai curah hujan tinggi, dimana saja titik potensi banjirnya, dan lain sebagainya. Akurasi informasi ini pun mencapai lebih dari 80 persen.

Menurut Dwikorita, berbagai inovasi yang dilakukan BMKG saat ini merupakan ikhtiar BMKG untuk menjaga seluruh rakyat Indonesia dari berbagai risiko bencana. Baik itu bencana gempabumi, tsunami, dan hidrometeorologi yang dipengaruhi faktor cuaca seperti banjir, longsor, puting beliung dan sebagainya.

Jadi, jangan pernah remehkan soal cuaca. Sebut saja Napoleon Bonaparte, Panglima Perang asal Perancis, menjadi legenda karena sering memenangkan peperangan. Namun dirinya kalah dalam Peperangan Waterloo, Inggris. Penyebabnya sepele saja, salah memperkirakan cuaca.

Belajar dari sejarah ini, Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengembangkan rekayasa cuaca sebagai senjata guna menghadapi pasukan Vietkong. Lewat Operasi Popeye, pemerintah AS meningkatkan curah hujan di negara bekas komunis tersebut sebanyak 30% dengan awan buatan. Alhasil, tentara AS berhasil menghalau Vietkong.[tar]


Komentar

x