Find and Follow Us

Sabtu, 24 Agustus 2019 | 14:56 WIB

Bi Bakal Turunkan Suku Bunga Lagi, Ini Syaratnya..

Senin, 22 Juli 2019 | 17:40 WIB
Bi Bakal Turunkan Suku Bunga Lagi, Ini Syaratnya..
Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo - (Foto: Inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo melontarkan sinyal kuat bahwa BI akan menurunkan suku bunga acuan (7-Day Reverse Repo Rate) di lima bulan terakhir 2019. Lho kenapa diecer?

Namun, penurunan suku bunga acuan dari BI itu ada syaratnya. Jika, laju inflasi terkendali, dan stabiltas terjaga sehingga terdapat ruang luas untuk mendorong momentum pertumbuhan ekonomi.

Ingat betul, bank sentral memangkas suku bunga acuan pada 18 Juli 2019, menjadi 5,75%. Setelah delapan bulan berturut-turut bertahan di level 6%. Keputusan ini mengikuti sikap sebagian bank sentral di dunia yang mulai melonggarkan suku bunga. Demi mendorong pertumbuhan ekonomi dari ancaman perlambatan perekonomian global.

"Untuk pelonggaran kebijakan moneter tetap terbuka, baik itu dari kebijakan likudiitas maupun penurunan suku bunga acuan lebih lanjut," kata Perry di depan Badan Anggaran (Banggar) DPR saat Rapat Laporan Semester I dan Prognosa Semester II 2019 di Jakarta, Senin (22/7/2019).

Setelah Otoritas Moneter memangkas suku bunga acuan pada pekan lalu, pelaku pasar merespon dengan cukup baik, terindikasi dari kurs rupiah yang menguat 22 poin, atau 0,16% ke level Rp13.938 per US$. Dan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terapresiasi 53,25 poin, atau 0,83% menjadi 6.456.

Perry mengatakan, pada semester II-2019, proyeksi ekonomi makro bank sentral, tidak jauh berbeda dengan asumsi pemerintah. Adapun asumsi makro ekonomi dari pemerintah untuk semester II-2019 adalah pertumbuhan ekonomi 5,2% secara tahuan (year on year/yoy); laju inflasi 3,1% (yoy); dan kurs rupiah Rp14.303 per US$. "Pertumbuhan ekonomi di semetser II 2019 akan lebih baik, inflasi rendah, kurs rupiah menguat, suku bunga akan lebih rendah," ujar dia.

Penurunan suku bunga acuan Juli 2019 ini juga diyakini Bank Sentral tidak akan membuat bunga atau imbal hasil instrumen keuangan domestik kurang menarik dibanding negara-negara sepadan (peers) dan negara maju. Selisih perbedaan suku bunga Indonesia dengan negara lain masih lebar ditambah persepsi risiko investasi dari "Credit Default Swap/CDS" Indonesia kian menurun.

Jika merujuk pernyataan Perry pada Kamis (18/7) lalu saat pengumuman kebijakan Bank Sentral, masih terdapat selisih suku bunga antara acuan instrumen keuangan surat utang pemerintah AS (ertenor 10 tahun/US Treasury Yield) yang saat ini sebesar 1,9%-2%, dengan Surat Berharga Negara Indonesia bertenor 10 tahun yang masih berada di kisaran 7%.

Selain itu, CDS Indonesia untuk pasar keuangan bertenor lima tahun, saat ini berada di kisaran 80 poin, atau terus menurun dibanding Maret 2019 yang mencapai 100 poin.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Suahasil Nazara berharap, penurunan suku bunga acuan Bank Sentral dapat memantik investasi ke dalam negeri karena biaya peminjaman dana (cost of borrowing) bagi swasta dan pemerintah akan menurun.

Dia berharap, investasi pada 2019, bertumbuh hingga 5,2%. Diharapkan terjadi pelonggaran suku bunga atas kebijakan bank sentral. bisa memompa pertumbuhan ekonomi domestik. "Dan akan berlanjut di tahun depan, investasi bisa bertumbuh 5,3 persen. Itu dari investasi swasta dan pemerintah," ujar dia.

Pemangkasan suku bunga acuan Bank Sentral pada Juli 2019 adalah yang pertama kali sejak delapan bulan lalu atau November 2018 ketika suku bunga kebijakan dinaikkan ke level enam persen untuk membedung keluarnya aliran modal asing pada 2018. Secara total, di 2018, Otoritas Moneter menaikkan suku bunga acuan sebesar 1,75% hingga ke level 8%. [tar]

Komentar

Embed Widget
x