Find and Follow Us

Selasa, 20 Agustus 2019 | 17:54 WIB

Klaim Aman, Nicke Sebut Tumpahan Minyak ONWJ 10%

Jumat, 2 Agustus 2019 | 02:09 WIB
Klaim Aman, Nicke Sebut Tumpahan Minyak ONWJ 10%
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - PT Pertamina (Persero) mengklaim volume tumpahan minyak akibat kebocoran gas di anjungan lepas pantai YY PHE ONWJ, Karawang, Jawa Barat, tersisa 10% dari volume awal tumpahan minyak 3.000 barel/hari.

"Hingga hari ini dampaknya sudah semakin mengecil. Kalau dilihat dari tumpahan minyak sudah tinggal 10 persen dari pertama kali terjadi. Kami terus lakukan penanganan," kata Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati dalam jumpa pers di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Jakarta, Kamis (1/8/2019).

Nicke menjelaskan, Pertamina berkomitmen penuh untuk melakukan penanganan dengan sebaik-baiknya. Semua upaya terbaik terus dikerahkan untuk menahan tumpahan minyak agar tidak sampai ke darat. "Bahkan kami menggunakan tujuh lapis proteksi supaya dampak terhadap masyarakat dan lingkungan bisa kita minimalkan," kata mantan direktur PLN yang sempat diperiksa KPK ini.

Pertamina, kata Nicke, telah mengerahkan 27 kapal dan 800 orang demi mengatasi insiden tersebut. "Tapi yang permanen adalah bagaimana kita mematikan sumur agar tidak mengeluarkan tumpahan minyak, dan ini akan kami lakukan," ujarnya.

Direktur Hulu Pertamina, Dharmawan Samsu menjelaskan, proteksi tujuh lapis yang dilakukan di area terdampak. Pada lapis peratama, di sekitar anjungan YY dipasang static oil boom, agar minyak tetap berada di area tersebut dan tidak menyebar. Kemudian, di lapisan kedua, ditempatkan dynamic oil boom untuk mengejar tumpahan minyak yang lolos dari lapisan pertama.

Lapis ketiga kembali diisi dengan alat yang sama pada lapis kedua guna menahan tumpahan minyak yang lolos. "Layer keempat kita taruh perhatian khusus ke anjungan yang ada awaknya. Kami harus memastukan minyak tidak sampai di situ, dan kalau sampai di situ harus diangkat segera," ujarnya.

Ada pun lapisan selanjutnya atau lapisan kelima yaitu memasang "oil boom" Tanjung Sedari dan lapis keenam pemasangan dilakukan di Tanjung Bekasi. Selanjutnya, lapis terakhir yakni aerial surveillance, atau pantauan udara untuk melihat di pesisir utara Jawa.

Ada pun terkait penurunan volume tumpahan minyak, Dharmawan mengatakan sejak 26 Juli lalu terlihat mulai ada penurunan signifikan berdasarkan observasi, simulasi, dan foto udara.

"Tentu ada alasan scientific mengenai itu. Kita dapatkan angka sekitar rata-rata 300 barel per hari dari yang diangkat. Mudah-mudahan tu pahan yang ke darat bisa kita cegah karena yang sekarang di darat kemungkinan berasal dari awal terjadinya tumpahan," katanya. [tar]

Komentar

x