Find and Follow Us

Selasa, 20 Agustus 2019 | 18:11 WIB

Rizal Ramli Sanggup Sembuhkan Garuda Dua Tahun

Sabtu, 3 Agustus 2019 | 03:03 WIB
Rizal Ramli Sanggup Sembuhkan Garuda Dua Tahun
Mantan Menko Kemaritiman, Rizal Ramli - (Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Mantan Menko Kemaritiman, Rizal Ramli merasa tertantang untuk membenahi sengkarut keuangan yang melilit PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk.

Saat ini, maskapai penerbangan pelat merah ini, masih dibelit kerugian yang cukup jumbo. Pada kuartal I-2018, tekor sebesar Rp1,366 triliun.

Tak sedang bercanda, Bang RR, sapaan akrab Rizal Ramli, minta waktu dua tahun untuk bisa membuat keuangan Garuda sehat lagi. Alias mereguk keuntungan yang signifikan.

"Kami ingin membantu pemerintah Indonesia dan Presiden Jokowi untuk memberi solusi, kami cuma tak ingin reputasi Presiden Jokowi merosot kalau Garuda terpaksa dijual," kata mantan Menko Ekuin era Presiden Abdurrahman Wahid di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Selanjutnya dia mengaku pernag mengingatkan Presiden Joko Widodo tentang potensi kerugian yang harus ditanggung Garuda saat dilantik sebagai Menko Kemaritiman pada 12 Agustus 2015.

"Itu lah mengapa saya menjelaskan dalam pidato pelantikan sebagai Menko Kemaritiman pada 12 Agustus 2015 agar pemerintah melakukan evaluasi pada pembelian pesawat jarak jauh Garuda Indonesia karena pasti merugi, karena pada Juli 2015 Garuda punya masalah besar karena pembelian pesawat yang ugal-ugalan dan mark up yang terbukti oleh KPK yaitu pembelian pesawat jenis bombardir serta Airbus A380," imbuhnya.

Ekonom senior ini berbagi pengalaman ketika suksea menyelamatkan keuangan Garuda di era pemerintahan Gus Dur. Kala itu, Garuda tidak mampu membayar utang sebesar US$1,8 miliar yang digunakan untuk memborong pesawat dengan harga mark up. Banyak pesawat sewaan yang harganya juga di-mark up lebih dari 50%. Praktik haram ini diduga sudah dilakukan di era Orde Baru.

"Saat itu konsorsium utang yang dipimpin bankir dari Jerman mengancam akan menyita semua pesawat Garuda Indonesia yang terbang ke Eropa, namun saya membalikkan itu mengancam balik akan mengadukan konsorsium utang itu ke pengadilan di Frankfurt Jerman karena menerima bunga odious dari pembiayaan "mark up" tersebut dan kalau terbukti saham mereka bisa turun, harus membayar denda, serta eksekutifnya bisa kena pidana," ungkapnya.

Ia kemudian menceritakan konsorsium itu kemudian mendatanginya dan meminta agar tuntutannya tak dilanjutkan. Tak kurang akal, dia memberikan syarat yang tidak murah. Yakni restrukturisasi kredit senilai US$1,8 miliar dengan taken guarantee (garansi ecek-ecek), yaitu US$100 juta. Atau setara hanya 5,5% dari total utang; dan indirect melalui bank komersial, bukan dari Kementerian Keuangan supaya negara terhindar dari risiko default.

"Awalnya konsorsium bank itu ngotot minta full guarantee (US$ 1,8 miliar), tapi akhirnya menyerah terhadap tuntutan dari Dr Rizal Ramli," pungkasnya. [ipe]

Komentar

x