Find and Follow Us

Minggu, 15 September 2019 | 13:52 WIB

Jurus Kepretan Rajawali Rizal Ramli Selamatkan PLN

Rabu, 7 Agustus 2019 | 11:01 WIB
Jurus Kepretan Rajawali Rizal Ramli Selamatkan PLN
Rizal Ramli
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Saat menjabat Menko Ekuin di era Presiden Abdurrahman Wahid, Rizal Ramli baru tahu bila hampir seluruh kontrak pembelian listrik swasta (PPA), sarat KKN. Diduga dimark-up hingga US$7-12 cent per KW.

Padahal, lanjut Rizal, harga setrum dunia hanya 3 sen dolar AS per KW. "Konco-konco yang berkuasa sebelumnya mendapat saham kosong yang ditukar dengan tarif yang sangat mahal, yang merugikan rakyat Indonesia," kenang Rizal di Jakarta, Selasa (6/8/2019).

Alhasil, kata RR, sapaan akrabnya, beban PLN membubung tinggi hingga menjadi US$85 miliar. Kala itu, keuangan PLN nyaris bankrut. "Pemerintahan Habibie, via Dirut PLN Satria mengugat salah satu kontraktor PPP ke pengadilan abitrase di luar negeri. Ternyata kalah," ungkapnya.

Menurut Stiglitz, kata RR, memang dalam berbagai kasus arbitrase, peluang negara berkembang 99,9% kalah. Itulah mengapa pemenang Nobel Prof Joseph Stiglitz menemui Rizal Ramli sebelum menemui Presiden SBY untuk membujuk agar Indonesia tidak memasukkan klausal tentang arbitrase dalam RUU Investasi. Sayangnya hal itu dikesampingkan.

Memahami hal itu, RR tidak akan memilih jalur arbitrase. Dia lebih tertarik menggunakan cara lain. Misalnya, mengundang kawannya, redaktur Wall Street Journal (WSJ), koran bisnis paling berpengaruh di dunia.

"Dijelaskan saja bagaimana KKN dari perusahaan-perusahaan multi nasional, yang sok promosi good corporate governance, tetapi patgulipat dengan kroni kekuasaan di Indonesia. Biar dimuat di front pages WSJ selama 3 hari berturut-turut," paparnya.

Jurus ini, dinilai Rizal akan cukup efektif. Perusahaan itu tnetu saja takut citranya tercoreng. Yang berdampak kepada longsornya harga saham. Dan, puluhan pimpinan perusahaan asing yang berkontrak dengan PLN, terbang ke Jakarta hanya ingin bertemu dengannya untuk bernegosiasi.

Hasilnya luar biasa. Beban utang PLN akhirnya berhasil dikurangi hingga US$50 miliar, yakni dari US$85 miliar menjadi hanya US$35 miliar. Belum pernah terjadi dalam sejarah Indonesia, pengurangan utang sebesar itu.

Tak ada salahnya mengulang sukses 'Kepretang Sang Rajawali" ini. Bisa jadi, jurus out of the box ini yang malah ampuh untuk menyelamatkan BUMN dan menghentikan praktik-praktik yang merugikan rakyat. [ipe]

Komentar

Embed Widget
x