Find and Follow Us

Selasa, 24 September 2019 | 16:48 WIB

Cabai Mahal Ancam Industri Makanan Gulung Tikar

Rabu, 7 Agustus 2019 | 17:01 WIB
Cabai Mahal Ancam Industri Makanan Gulung Tikar
(Foto: inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Melonjaknya harga cabai membuat pengusaha makanan was-was. Mereka harus dan terancam gulung tikar. Hal ini dirasakan Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI).

Wakil Ketua GAPMMI, Rachmat Hidayat mengatakan, tingginya harga cabai, tentu saja berdampak kepada membengkaknya pengeluaran. Jika terus seperti ini, tidak menutup kemungkinan industri makanan bisa merugi atau gulung. "Kita berharap tidak lama dan tinggi karena bisa membahayakan secara keseluruhan. Masyarakat akan terpukul duluan berikutnya industri," papar Rachmat, Jakarta, Selasa (6/8/2019).

Rachmat berharap, kenaikan harga cabai tidak berlangsung lama. Jika terus berlarut, masyarakat semakin terkena imbasnya. "Karena kita tidak beli dari kebun. Kita menyetok proses pengeringan dan sebagainya. Stok kita itu masih bisa mengelola kenaikan harga yang sangat luar biasa ini. Cuma usia stok kita kan ada umurnya. Bisa habis. Kalau habis kita baru akan merasakan," kata Rachmat.

Di kesempatan terpisah, anggota Komisi IV Andi Akmal Pasludin mengatakan, seharusnya pemerintah menugaskan Perum Bulog melakukan manajemen komoditi demi menghindari meroketnya harga cabai. "Misalnya teknologi penyimpanan cabai. Cabai ini tidak bisa lama. Tetapi harusnya Bulog bisa berfungsi membina petani ketika menjelang hari raya. Bisa kerjasama dengan petani dengan harga yang disepakati di awak. Kalau tidak ada kesepatakan di awal, petani juga malas menanam cabai," kata Anda.

Andi meminta, pemerintah bertanggungjawab melindungi petani dan konsumen. Menurutnya, kalau sekarang yang dirugikan adalah konsumen karena harganya melonjak.

Dia mengusulkan, langkah jangka pendek yang bisa dilakukan adalah operasi pasar. Kemudian Menteri Pertanian dan Bulog bisa membeli cabai di daerah lain di Makassar atau Sumatera di bawa ke Jawa. "Dengan kondisi seperti ini pemerintah harus turun tangan. Tangannya pemerintah itu Bulog dan kementerian pertanian tidak bisa lepas tangan. Tidak bisa menyalahkan pasar dan masyarakat," kata Andi.

Apalagi, kata dia, anggaran di Kementan untuk petani sangat banyak. Namun, Kementan tidak ada anggaran untuk membeli karena bukan tugasnya. "Sekarang itu bagaimana Kementan mengikat Bulog membeli produksi petani. Harusnya Bulog itu bisa membeli dan menjual. Selama ini di lapangan Bulog ini selalu dimanjakan dengan subsidi. Belum begitu kreatif. Kenaikan harga selalu terulang, kenapa tidak diantisipasi. Itu yang kita sesalkan sebagai wakil rakyat," imbuhnya.

Pakar Pertanian dari IPB, Prof Dwi Andreas Santosa menilai, tahun ini, terjadi anomali terhadap produksi cabai di dalam negeri. Pada tahun sebelumnya, harga cabai justru melandai bahkan turun, dan kemudian naik pada September dan Oktober.

Namun pada 2019, harga terus naik sampai sekarang. Diduga ada beberapa hal yang menyebabkan harga cabai terus tinggi.
"Ada faktor kesalahan kebijakan terkait tata kelola cabai, jaringan tani kami menerima bantuan untuk penanaman cabe di Januari, saat itu ditanam cabai ya hancur-hancuran, karena masih musim hujan, dan sampai Maret dan April masih sisa hujan," ujarnya.

Menurut Andreas, kebijakan Kementerian Pertanian membagikan 10 juta bibit cabe pada Januari sangat tidak efektif dan menghambur-hamburkan anggaran saja. Kedua, memang betul ada pengaruh iklim. Namun lebih karena terjadi pergeseran musim tanam cabe yang biasanya Maret, dan kemudian tumbuh bagus, sehingga Juni sudah panen sedikit-sedikit dan Juli hingga Agustus harga biasanya turun

"Sekarang bergeser ke bulan Mei baru mulai tanam, pergeseran ini sangat beresiko, air sudah tidak ada di awal tanam, sehingga pertumbuhan cabe agak terganggu. Hanya wilayah yang cukup air, tanam bulan Mei, bisa panen di Agustus atau September," ujarnya.

Diprediksi total produksi cabai pada 2019, menurun dibandingkan tahun lalu. Pihak Kementan mengakui ada masalah dengan produksi cabai yang berujung melonjaknya harga.

Direktur Jenderal Hortikultura Kementan Prihasto Setyanto mengatakan hambatan produksi disebabkan oleh petani cabai yang tidak merawat tanaman dan memanen cabai. "Ya ini memang karena pengaruh yang jelas karena kemarin kan cabai sempat harganya jatuh. Nah karena harga jatuh, tanaman nggak dirawat oleh petani," ujar Prihasto.

Ia menceritakan, harga cabai merah di tingkat petani 2-3 bulan yang lalu sempat jatuh hingga berada di level Rp 5.000/kg. Menurutnya, jatuhnya harga membuat petani malas memanen cabai merah karena biaya panen lebih mahal dari harga jual, di mana ongkos panen sekitar Rp 6.000/kg. Hal itulah yang membuat petani akhirnya tidak merawat dan tidak memanen tanaman cabainya sehingga membuat produksi cabai berkurang. [tar]

Komentar

x