Find and Follow Us

Senin, 23 September 2019 | 23:29 WIB

Bisnis Sawit Memang Berat Tapi Optimislah...

Rabu, 7 Agustus 2019 | 19:45 WIB
Bisnis Sawit Memang Berat Tapi Optimislah...
(Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Harga minyak mentah sawit alias Crude Palm Oil (CPO), babak belur menjadi tantangan berat bagi pebisnis sawit hilir hingga hulu. Isu minyak sawit berkelanjutan terus digaungkan seiring tumbuhnya populasi dunia.

Kabar terbaru dari Bursa Pasar Derivatif Malaysia, menjadi potret buram bagi bisnis CPO yang harganya mengalami terjun bebas. Kondisinya, hampir mendekati level terendah seperti 30 November 2018, sebesar RM 1970 per ton.

Jatuhnya harga CPO, tentu membutuhkan banyak dukungan dari para pemangku kepentingan bisnis minyak sawit, guna mendrongkrak harga kembali bertumbuh. Pada minggu kedua bulan Mei lalu, harga CPO penerimaan Juli 2019, kembali menurun hingga RM 1983 atau sekitar US$ 475 per ton, dengan kurs RM4,17/US$.

Akibat menurunnya harga CPO, berbagai aktivitas perkebunan banyak mendapatkan hambatan. Berkurangnya pendapatan yang diterima pekebun dari menjual hasil panennya, menjadi pemicu utama dari melesunya aktivitas perkebunan kelapa sawit.
Alhasil, hasil panen Tandan Buah Segar (TBS), ikut anjlok di kemudian hari. Pemilik perkebunan kelapa sawit, baik petani maupun perusahaan perkebunan kelapa sawit, sama-sama tidak bisa melakukan banyak aktivitas perawatan yang menjadi rutinitasnya.

Perawatan kebun dan pemeliharaan pokok tanaman yang membutuhkan dana lumayan besar, cenderung terabaikan saat harga jual CPO terjungkal.
Akibat jatuhnya harga CPO dunia, juga selalu berakibat merosotnya produksi minyak sawit nasional. Lantaran biaya perawatan dan pemeliharaan kebun sawit tak mampu lagi dilakukan.

Baik petani maupun perusahaan perkebunan selalu melakukan pemotongan biaya perawatan dan pemeliharaan, supaya mampu bertahan dalam usahanya. Salah satu caranya, melalui pengelolaan berkelanjutan, dimana pendapatan dari penjualan hasil panen, bisa didapatkan dari jumlah hasil panen yang selalu bertumbuh.

Deputi Menko bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian, Musdhalifah Machmud mengatakan, Kemenko Perekonomian sedang melakukan proses perbaikan tata kelola perkebunan sawit dengan menerapkan berbagai cara. Salah satunya dengan memperbaiki pola budidaya yang dilakukan petani lewat program peremajaan sawit rakyat.

Di mana pogram ini, bertujuan selain untuk meningkatkan produktivitas perkebunan kelapa sawit rakyat juga guna melakukan pandataan luasan lahan petani. "Data pekebun saat menjadi penting, dan kami sedang melakukan kerjasama dengan lembaga terkait seperti BIG dan Kementerian terkait," kata Musdhalifah dalam FGD Sawit Berkelanjutan: Diskusi Sawit Bagi Negeri Vol 3 dengan tema "Peluang Pasar Sawit Berkelanjutan Indonesia" yang diadakan majalah InfoSAWIT di Jakarta, Rabu (7/8/2019).

Musdhalifah merujuk informasi dana hibah untuk program peremajaan sawit rakyat hingga tahun 2019, sebanyak 28.276 ha telah mendapatkan Dana PSR, lantas sekitar 39.989 ha proses penyaluran Dana PSR di BPDPKS dan sejumlah 16.960 ha dilakukan verifikasi bertahap melalui Aplikasi PSR.

Selain peremajaan sawit rakyat, komitmen pemerintah terhadap lingkungan juga dilakukan misalnya dengan penerapan kebijakan Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) yang mana semenjak 2011 sampai 2019, realisasi Perkebunan Kelapa Sawit yang tersertifikasi ISPO seluas 4.115.434 hektar (Ha). Atau 29,3% dari total lahan Perkebunan Kelapa Sawit 14,3 juta ha. Sedangkan produksi CPO yang telah tersertifikasi ISPO mencapai 11,57 juta ton CPO atau 31% dari total produksi CPO 37,8 juta ton/ha.

Sementara Managing Director Sustaiability and Strategic Stakeholder Engagement Golden Agri Resources Ltd, Agus Purnomo mengatakan, tekanan terhadap sektor perkebunan kelapa sawit bisa dibagi dalam tiga kelompok. Pertama, dari pemerintah para konsumen minyak sawit salah satunya berupa muculnya kebijakan RED II dari Uni Eropa serta hambatan dagang lainnya.

Kedua, tantangan dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) terkait isu deforestasi, hak asasi manusia dan sosial serta limbah. "Kelompok ketiga datang dari konsumen berupa isu kesehatan yang kembali dihembuskan," katanya.

Namun demikian, kata Agus, di beberapa negara mulai muncul kesadaran dalam memproduksi minyak sawit berkelanjutan, seperti inisiasi yang dilakukan India dengan Sustainable Palm Oil Coalition for India (India-SPOC) dan Jepang.

Kondisi demikian, lanjutnya, membuka peluang dalam pemasaran minyak sawit berkelanjutan. Dengan potensi itu, Golden Agri terus memproduksi komoditas sawit yang berkelanjutan. Cara yang dilakukan dengan pendekatan bantuan teknis dan insentif keuangan, untuk program peremajaan kebun sawit yang dikelola petani swadaya. "Kami mendukung misi pemerintah Indonesia untuk meremajakan 200,000 ha lahan perkebunan rakyat," katanya.

Untuk dukungan itu, lanjutnya, perusahaan menetapkan target dukungan sebesar 17,5% (35.000 ha) dari target. Caranya dengan program peremajaan petani yang berada di sekitar kebun, meningkatkan produktivitas petani sebesar 5-6 ton CPO/ha/tahun, serta menciptakan proses produksi dan konsumsi yang berkelanjutan melalui kerjasama multi pihak (SDG 12 and 17).

Imam A El Marzuq dari Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), mengungkapkan, produsen minyak sawit berkelanjutan di dunia dikuasai oleh tiga produsen yakni Indonesia, Malaysia dan Tahiland. Dalam skim produksi Certified Sustainable Palm Oil (CSPO) yang diterapkan pada RSPO, tidak hanya berofokus memaksimalka produksi tetapi juga melibatkan preservasi dan proteksi lingkungan.

Saat ini, lanjutnya, Indonesia dan Malaysia masih menjadi produsen utama minyak sawit berkelanjutan. "Di Indonesia mencerminkan para pengusaha perkebunan temasuk pekebun kecil dan skema kemitraan dan swadaya terus bergulir dilapangan, kendati ada hantaman dari berbagai sisi, ini membuktikan keunggulan minyak sawit Indonesia masih teruji," kata Imam.

Imam mengatakan, pada 2023, RSPO menargetkan produksi minyak sawit berkelanjutan di dunia bisa mencapai 23 juta ton, serta mendorong penyerapan minyak sawit berkelanjutan di dunia. [tar]

Komentar

x