Find and Follow Us

Minggu, 15 September 2019 | 13:57 WIB

Bonus Demokrasi Omong Kosong

Rizal: Sejam Kerja kok Masuk Bukan Pengangguran?

Jumat, 9 Agustus 2019 | 11:45 WIB
Rizal: Sejam Kerja kok Masuk Bukan Pengangguran?
Ekonom senior Rizal Ramli - (Foto: inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Ekonom senior Rizal Ramli menilai jargon bonus demografi yang kencang digaungkan, tak lebih mimpi kosong. Faktanya, mayoritas penduduk usia produktif di Indonesia banyak yang menganggur.

Dalam sebuah acara talshow di sebuah stasiun televisi nasional, Jakarta, Kamis malam (8/8/2019), Rizal menduga, tingkat employment di Indonesia telah dimanipulasi. Alasannya, satu jam bekerja dalam sehari dianggap bukan penganggur.
"Di balik perkiraan (bonus demografi) itu ada asumsi mereka pada kerja. Kenyataannya mayoritas tidak kerja," kata mantan menko kemaritiman di era Presiden Joko Widodo ini.

Mantan Menko Ekuin di era Presiden Abdurrahman Wahid ini juga mengkritik definisi bekerja di Indonesia yang dinilai paling rendah di dunia. Karena, pekerjaan satu jam per hari dikategorikan bekerja. "Padahal kita tahu satu jam nggak cukup. Yang normal itu 30-35 jam per minggu bekerja. Kalau yamg bekerja 30-35 itu per minggu barulah kita memetik manfaat dari bonus demografi," papar Bang RR, sapaan akrabnya.

Menurut Rizal, lapangan kerja yang tercipta di tanah air, hanya bisa menyerap tak lebih dari 1,25 juta pekerja. Sementara pertumbuhan angkatan kerja mencapai 2 juta pekerja per tahun. Artinya, angka pengangguran di Indonesia terus meningkat.

"Dan mereka kerjanya cuma satu jam satu hari. Mau bonus demografi kayak apa? Ini malah bisa jadi malapetaka sosial dan jadi masalah sosial ekonomi," ujarnya.

Masalah lainnya, kebanyakan penduduk yang bekerja adalah lulusan SD dan SMP, sementara untuk kelompok lulusan perguruan tinggi persentase pengangguran justru lebih besar.

"Ada dua kemungkinan, satu, pendidikannya sendiri tidak fit and match dengan dunia kerja, dua, bahan pelajarannya itu sendiri barangkali perlu ada reformasi supaya lebih kreatif, lebih inovatif, tidak hanya menghapal," kata Rizal.

"Tapi sebelum kita ngomong aneh-aneh, kalau tumbuhnya (ekonomi) 5% per tahun jangan ngimpi dah, ada bonus demografi."

Rizal menambahkan Tiongkok bisa mendapat manfaat bonus demografi karena ekonominya tumbuh 12-14% selama 25 tahun, meskipun belakangan anjlok ke 6%. Demikian juga dengan Jepang, setelah Perang Dunia II ekonominya tumbuh 12% selama 20 tahun.

"Jadi kalau levelnya masih ngomong ekonomi 5%, ngomong Industry 4.0 itu pada ngimpi doang. Naikkan dulu pertumbuhan ekonomi minimal 7-8% sampai 10%, baru kita bisa menarik manfaat dari bonus demografi," ujarnya.

"Jadi ini mimpi-mimpi kosong yang dibahas di ruang publik yang sama sekali nggak cerdas. Kita hanya bisa menarik manfaat demografi kalau rakyat kita bekerja, dan rakyat bekerja itu hanya kalau ekonomi tumbuh di atas 8%," paparnya. [tar]

Komentar

x