Find and Follow Us

Selasa, 20 Agustus 2019 | 18:14 WIB

Fasilitas KITE Angkat Laba Produsen Sarung Tangan

Selasa, 13 Agustus 2019 | 16:04 WIB
Fasilitas KITE Angkat Laba Produsen Sarung Tangan
(Istimewa)

INILAHCOM, Semarang - Untuk terus mendorong pertumbuhan industri di wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta, Bea Cukai Jateng DIY memberikan perizinan fasilitas Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE) Pembebasan kepada PT Green Glove Indonesia (GGI). Ini merupakan perizinan KITE Pembebasan ketiga yang diterbitkan Bea Cukai Jateng DIY di 2019.

Fasilitas KITE Pembebasan merupakan fasilitas fiskal berupa pembebasan bea masuk serta tidak dipungut Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan/atau Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) atas impor bahan baku untuk diolah, dirakit, dan dipasang, yang hasil produksinya untuk diekspor.

"Fasilitas KITE Pembebasan ini akan memberikan manfaat bagi perusahaan. Namun perusahaan harus tetap patuh dengan ketentuan yang berlaku, terutama terkait pendayagunaan IT Inventory yang merupakan subsistem dari sistem akuntansi perusahaan dan harus dipergunakan secara terus-menerus," pesan Kepala Bidang Fasilitas Kepabeanan dan Cukai Kantor Wilayah Bea Cukai Jateng dan DIY, Juli Tri Kisworini, pada Rabu (7/8/2019).

General Manager PT GGI, Ari Dianingsih menyampaikan bahwa dengan fasilitas KITE Pembebasan, PT GGI akan mengoptimalkan efisiensi biaya produksi dan pemakaian material. "Efisiensi biaya sebagai dampak fasilitas KITE Pembebasan akan membantu perusahaan meningkatkan laba hingga Rp576 juta pada 2019, Rp2,125 miliar pada 2020 dan Rp2,65 miliar di 2021," ujarnya.

PT GGI merupakan perusahaan produksi sarung tangan yang berdiri sejak 2011. Selama ini, perusahaan hanya berproduksi untuk pekerjaan subkontrak, dan di 2019 ini perusahaan akan memulai melakukan ekspor sendiri. Perusahaan menargetkan produksi sarung tangan untuk 2019 sebanyak 2.205.000 buah, tahun 2020 sebanyak 3.300.000 buah, dan tahun 2021 sebanyak 3.600.000 buah.

Dengan fasilitas KITE Pembebasan akan membuat biaya impor bahan baku perusahaan menjadi rendah sehingga perusahaan dapat mengekspor hasil produksinya dengan harga yang lebih bersaing dengan perusahaan-perusahaan lain di pasar global. Meningkatnya daya saing maka akan memperluas pasaran sehingga order yang diterima perusahaan pun akan meningkat, hal ini tentu akan meningkatkan devisa ekspor dan investasi.

Dengan jumlah order yang semakin meningkat, kapasitas produksi juga akan semakin meningkat, hal ini tentu akan memicu adanya penambahan tenaga kerja perusahaan. Tidak hanya itu, keuntungan perusahaan yang meningkat akan menambah kesejahteraan karyawan sehingga akan meningkatkan pertumbuhan perekonomian daerah dan nasional. [*]

Komentar

x