Find and Follow Us

Selasa, 20 Agustus 2019 | 18:12 WIB

LHK Pertanyakan Data Kualitas Udara Jakarta Buruk

Oleh : Indra Hendriana | Selasa, 13 Agustus 2019 | 18:04 WIB
LHK Pertanyakan Data Kualitas Udara Jakarta Buruk
(Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Kepala Puslitbang Kualitas dan Laboratorium Lingkungan (P3KLL)-Badan Litbang dan Inovasi (BLI), Kementerian LHK, Herman Hermawan mengatakan, berita mengenai buruknya kualitas udara di Jakarta perlu dicermati.

Salah satunya, kata dia, adalah saat ini banyak didistribusikan jenis kualitas udara ambien otomatis.

"Yang perlu diperhatikan adalah kevalidan data yang dihasilkan sehingga data yang dihasilkan dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah, peralatan harus sudah dikalibrasi, lokasi dan cara pengambilan sampel sesuai metode standar," kata Herman di Serpong, Selasa (13/8/2019).

Menurut dia, apabila alat sampling untuk mengukur ISPU diletakan di lokasi-lokasi padat lalu lintas, dipastikan muncul dari zat pencemar. "Kondisi zat pencemar pasti akan terlihat tinggi, karena peletakan alat pengambilan sampel tergantung dengan sumber," ujar dia.

Dengan demikian, dia menyarankan lokasi pengambilan sampel ambien seyogyanya ditempatkan di pemukiman. Maka, hasil pun diyakini akan berbeda.

Selain itu, menurutnya, Revisi Peraturan Pemerintah No 41 tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara perlu dilakukan, mempertimbangkan beberapa kualitas baku udara ambien masih perlu dipertimbangkan, sementara WHO membuat baku mutu semakin ketat.

Hal lain yang perlu dicermati terkait dengan kualitas udara di Jakarta yaitu soal masalah pencemaran udara tidak dapat dilakukan sendiri, harus saling bersinergi dan hubungan dengan pihak-pihak lain yang terlibat pertentangan yang memungkinkan agar pencemaran dapat dilakukan dengan efektif.

Terkait itu, yang dilakukan oleh P3KLL adalah melakukan pemeriksaan kualitas udara ambien menggunakan peralatan Gent Stack Filter Unit Sampler bekerja sama dengan Pusat Sain dan Teknologi Nuklir Terapan (PSTNT) -Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN).

Metode pengambilan sampel Gent yang digunakan dapat secara simultan mengumpulkan partikulat udara halus (PM2,5) dan partikulat udara kasar (PM2,5-10).

PM2,5 merupakan partikulat yang mengandung kurang dari 2,5 mikrometer yang berbahaya, karena ukurannya yang kecil dapat berpenetrasi menembus bagian terdalam dari paru-paru, sementara partikulat dengan ukuran yang lebih besar akan dialihkan pernafasan bagian atas. Sebagai gambaran, ukuran PM2,5 sebanding dengan 1/30 dari diameter rambut manusia yang diperkirakan 50-70 mikrometer

"Data penelitian PM2,5 di Indonesia masih sangat terbatas. Untuk disetujui sejak tahun 2008, P3KLL telah melakukan evaluasi dan studi mendukung kerja sama dengan BATAN yang saat ini telah dikembangkan di 17 lokasi di Indonesia," ujar dia.

Kerja sama penelitian yang dilakukan dengan BATAN tidak hanya fokus dalam menentukan konsentrasi massa PM2,5 dan PM10, lebih lengkap lagi tentang menentukan karakteristik komposisi kimia yang terkandung pada partikulat udara.

Untuk lokasi Jakarta, pemantauan PM2,5 telah dilakukan sejak tahun 2010. Data jangka panjang komposisi partikulat dan komposisi kimia Jakarta akan sangat bermanfaat untuk klasifikasi tren kualitas udara.

Secara umum selain digunakan sebagai data dasar dan bahan yang dimasukkan untuk penilaian serta revisi peraturan tentang kualitas udara, data karakteristik kimia yang diperoleh juga menyediakan perlindungan dini tentang pencemaran.

Selain itu, data yang diperoleh dapat dimanfaatkan lebih luas untuk dikumpulkan dan kuantifikasi sumber pencemar.[jat]

Komentar

x