Find and Follow Us

Senin, 23 September 2019 | 23:21 WIB

Kelapa Sawit, Penolong Ekonomi RI dalam Ancaman

Jumat, 16 Agustus 2019 | 00:39 WIB
Kelapa Sawit, Penolong Ekonomi RI dalam Ancaman
(inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Hingga beberapa dekade ke depan, perekonomian Indonesia diprediksi masih akan bergantung kepada sektor kelapa sawit.

Karena itu, perlu kebijakan strategis agar industri sawit tetap tumbuh berkelanjutan, termasuk dari perspektif bisnis. "Agak sulit mencari sektor lain di Indonesia yang bisa menggantikan peranan sektor kelapa sawit bagi perekonomian," kata Tofan Mahdi, Ketua bidang Komunikasi Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) di Padang, Sumatera Barat, Rabu (14/8/2019).

Dalam rilis kepada media di Jakarta, Kamis (15/8/2019), Tofan yang mantan wartawan senior Jawa Pos ini mengatakan, sepanjang 2019, sektor kelapa sawit menghadapi tantangan yang cukup berarti. Di mana, harga minyak sawit terus melemah. Namun, beberapa rencana kebijakan strategis pemerintah seperti mandatory B30 yang akan dilaksanakan 2020, menumbuhkan sentimen positif bagi pasar. "Dalam beberapa hari terakhir harga komoditas sawit perlahan menguat, ini angin segar buat semuanya," kata pria asal Pasuruan, Jawa Timur ini.

Pada 2017, lanjut Tofan, sumbangan devisa ekspor sawit menjadi juara pertama dengan nilai tertinggi yakni US$22,9 miliar. Atau setara Rp320 triliun. "Melihat tren harga sepanjang tahun 2019, sumbangan devisa ekspor sawit tahun ini akan lebih rendah dibandingkan satu atau dua tahun sebelumnya," kata Head of Public Relation PT Astra Agro Letari Tbk ini.

Meski agak suram, alumni Universitas Muhammadiyah Jember ini, mengaku optimis bahwa sektor sawit tetap prospektif. Hambatan dari negara maju semakin berat, seperti dari Uni Eropa namun bukan penghalang. Sebagai pasar ekspor minyak sawit Indonesia terbesar kedua, kebijakan RED II dan kebijakan EU mengenakan bea masuk 18% untuk produk minyak sawit Indonesia, cukup memukul industri sawit.

"Rasanya saat ini tidak ada komoditas lain yang sehebat sawit. komoditas lain sekarang sudah impor, hanya sawit yang ekspor. Ini semua masalah perang dagang. Maka jangan biarkan kampanye negatif mematikan industri ini. Jika dibiarkan, Indonesia bisa-bisa menjadi importir sawit suatu saat nanti. Itu yang negara lain harapkan," tegas Tofan.

Agar tidak terlalu bergantung terhadap pasar ekspor, Tofan menilai penyerapan dalam negeri perlu dioptimalkan. Kata Tofan, GAPKI mengapresiasi upaya pemerintah yang telah menjalankan program mandatori biodiesel B20 dan B30 pada awal tahun depan.

Hal senada diungkapkan Division Head Biodiesel and Product Development Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit Indonesia (BPDPKS), Fajar Wahyudi. Fajar optimistis, program mandatori biodiesel akan bisa rampung dalam 3 tahun.

"Penggunaan sawit untuk biodiesel memiliki dampak yang dignifikan yakni menambah lapangan pekerjaan di sektor industri dan perkebunan sawit, meningkatkan demand terhadap CPO, stabilisasi harga CPO dan meningkatkan kesejahteraan petani sawit," kata Fajar. [tar]


Komentar

x