Find and Follow Us

Minggu, 22 September 2019 | 15:54 WIB

Jokowi: Tantangan Ekonomi Berat dan Kompleks

Oleh : Indra Hendriana | Jumat, 16 Agustus 2019 | 18:17 WIB
Jokowi: Tantangan Ekonomi Berat dan Kompleks
(Foto: inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi), mengaku bersyukur ekonomi Indonesia bisa tumbuh meski tengah terjadi gejolak perekonomian global.

"Kita patut bersyukur bahwa di tengah gejolak perekonomian global, pembangunan ekonomi kita selama lima tahun ini telah menunjukkan capaian yang menggembirakan," Jokowi dalam penyampaian Rancangan Undang-Undang tentang APBN 2020 dan Nota Keuangannya di Gedung DPR, Jumat (16/8/2019).

Jokowi merinci, ekonomi Indonesia pada lima tahun belakang ini terus meningkat. Dihitung sejak tahun 2015 sampai tahun 2019 ini. Meski tidak banyak, namun ekonomi Indonesia terus meningkat.

"Pertumbuhan ekonomi kita trennya meningkat dari 4,88% di tahun 2015, menjadi 5,17% di tahun 2018, dan terakhir Semester I-2019 mencapai 5,06%," ujar dia.

Selain itu, Jokowi juga menyinggung soal angka pengangguran di Indonesia yang diklaimkian menurun.

"Angka pengangguran menurun dari 5,81% pada Februari 2015, menjadi 5,01% pada Februari 2019," kata dia.

Kemudian, penduduk miskin, lanjut dia, juga terus menurun. "Dari 11,22% pada Maret 2015, menjadi 9,41% pada Maret 2019, terendah dalam sejarah NKRI. Ketimpangan pendapatan terus menurun, ditunjukkan dengan semakin rendahnya Rasio Gini dari 0,408 pada Maret 2015, menjadi 0,382 pada Maret 2019," kata dia.

Selain itu, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) naik dari 69,55 di 2015, menjadi 71,39 di 2018. Atau masuk dalam status tinggi. Selain itu, tidak ada lagi provinsi dengan tingkat IPM yang rendah.

Logistic Performance Index (LPI) naik dari peringkat 53 dunia pada 2014, menjadi peringkat 46 dunia pada 2018. Dalam Global Competitiveness Index, kualitas infrastruktur kita termasuk listrik dan air meningkat, dari peringkat 81 dunia pada 2015, ke peringkat 71 dunia pada 2018.

"Berbagai capaian tersebut tidak terlepas dari reformasi fiskal yang telah kita lakukan. Kita tidak lagi menggunakan pola money follows function, tetapi money follows program. Kita tidak lagi berorientasi pada proses dan output, tetapi pada impact dan outcome. Kita terus mengelola fiskal agar lebih sehat, lebih adil, dan menopang kemandirian.
Namun, kita tidak boleh lengah," ujar dia.

Tantangan ekonomi ke depan, kata dia, semakin berat dan semakin kompleks, ekonomi dunia sedang mengalami ketidakpastian, beberapa emerging market sedang mengalami krisis, dan beberapa negara sedang mengalami pertumbuhan negatif.

"Kita juga menghadapi tantangan perang dagang. Depresiasi nilai mata uang beberapa negara seperti Yuan-Tiongkok dan Peso- Argentina, membuat kita harus waspada," kata dia.[jat]

Komentar

Embed Widget
x