Find and Follow Us

Senin, 23 September 2019 | 12:57 WIB

Defisit 2020 Susut, Sri Mulyani Janji Ekonomi Oke

Sabtu, 17 Agustus 2019 | 04:09 WIB
Defisit 2020 Susut, Sri Mulyani Janji Ekonomi Oke
Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati - (Foto: Inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati bilang, defisit fiskal yang menurun pada RAPBN 2020 tidak mengurangi keinginan pemerintah untuk mengerek pertumbuhan ekonomi nasional yang dipatok 5,3%.

Dalam Rancangan APBN 2020, pemerintah menetapkan defisit anggaran sebesar Rp307,2 triliun. Atau setara 1,76% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Atau menurun dibanding APBN 2019 yang defisitnya dibatasi Rp310,8 triliun, atau setara 1,93% dari PDB.

Sri Mulyani dalam jumpa pers RAPBN 2020 dan Nota Keuangan di Jakarta, Jumat (16/8/2019), mengatakan, defisit yang menurun ke level 1,76% dari PDB, karena mempertimbangkan tekanan dari perekonomian global di tahun depan.

Masih tingginya ketidakpastian eksternal, membuat pemerintah lebih berhati-hati untuk menarik pendanaan dari pasar keuangan. "Kita akan mencari titik keseimbangan, antara kehati-hatian dalam APBN namun tetap dapat menstimulasi perekonomian," ujarnya.

Adapun dalam RAPBN 2020, pemerintah menetapkan pendapatan negara sebesar Rp2.221,5 triliun, atau meningkat 9,3% dibandingkan 2019 yang sebesar Rp2.164,7 triliun.

Sementara belanja negara pada 2020 direncanakan pemerintah mencapai Rp2.528,8 triliun. Target belanja negara tahun ini juga naik ketimbang 2019 yang mencapai Rp2.341,6 triliun.

Meskipun pemerintah cukup berhati-hati dalam menarik pendanaan atau utang, Sri Mulyani mengatakan stimulus terhadap pembiayaan ekonomi akan dikompensasi dengan aliran pembiayaan melalui pasar keuangan. Sri Mulyani berjanji akan memperdalam pasar keuangan agar dapat menarik banyak investasi.

"Kita akan jaga pembiayaan, di tengah gejolak di pasar yang tetap tinggi. Oleh karena itu kita tetap fokus untuk melakukan pendalaman pasar keuangan dalam menghadapi lingkungan ekonomi global," ujar dia.

Dengan defisit fiskal 1,76% dari PDB, maka keseimbangan primer RAPBN sebesar Rp12 triliun. Pada pos pendapatan negara, pemerintah masih mengandalkan kontribusi dari penerimaan perpajakan yang ditargetkan Rp1.861,8 triliun pada 2020. Target tersebut naik 13,8% dibanding 2019. Sementara target Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) pada 2020, sebesar Rp359,3 triliun. Atau 16,2% dari total pendapatan negara.

Sedangkan pos belanja negara masih didominasi oleh belanja pemerintah pusat, yaitu sebesar Rp1.670 triliun atau 66% dari total pos belanja. Sedangkan sisanya, yaitu 34% atau Rp856,8 triliun dialokasikan untuk Transfer ke Daerah dan Dana Desa.

Dari seluruh pos belanja pemerintah pusat, sebesar 53% diantaranya dialokasikan untuk belanja kementerian/lembaga (K/L), yaitu sebesar Rp884,6 triliun. Sementara belanja nonkementerian sebesar 47 persen atau Rp785,4 triliun. [tar]

Komentar

Embed Widget
x