Find and Follow Us

Senin, 23 September 2019 | 23:17 WIB

HUT RI Ke-74,Petani Sawit Minta Keadilan ke Jokowi

Sabtu, 17 Agustus 2019 | 19:00 WIB
HUT RI Ke-74,Petani Sawit Minta Keadilan ke Jokowi
(Foto: Inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Peberenti, istri korban penganiayaan oknum Kepolisian Kehutanan (Polhut) Sumatera Selatan mengadu dan meminta keadilan kepada Presiden Joko Widodo di HUT RI Ke-74.

Jokowi diharapkan turun tangan memantau proses penegakan hukum suaminya, Basta Siahaan, petani sawit yang diduga dianiaya dan ditodong senjata api oleh oknum Polhut Sumsel.

"Bapak Presiden Jokowi tolong beri kami keadilan. Tanpa tahu persoalan suami saya diperlakukan seperti binatang, diseret, dianiaya dan ditodong pilstol oleh polisi kehutanan," kata Peberenti yang ditemui melakukan aksi unjuk rasa tunggal di Patung Kuda, tak jauh dari Istana Negara, Jakarta, Sabtu (17/8/2019).

Peberenti mengisahkan, pada 28 februari 2019 malam segerombolan oknum polhut bersama preman dengan mengendarai mobil dinas Polhut Sumsel mendatangi kediaman mereka di Kampung Sawah, Desa Mendis Jaya, Kecamatan BayuLencir, Musi Banyu Asin, Sumsel. Gerombolan tersebut menuding lahan berkebun milik korban berada pada areal hutan produksi.

Selanjutnya oknum polhut melakukan BAP (berita acara pemeriksaan) terhadap korban dengan intimidasi senjata laras panjang ke arah korban. Tak berhenti sampai di situ, korban bersama keluarga digiring ke kantor KPH (Kesatuan Pengelolaan Hutan) Bayung Lincir, untuk bertemu M. Bram Kurniawan, Kepala Resot pada UPTD (Unit Pelaksana Teknis Dinas) KPH Wilayah II Lalan Mendis

Seusai BAP Enbram menurut Peberenti kemudian mengingatkan korban agar memberi sejumlah uang karena anggota polhut telah jauh-jauh datang dari Palembeng. "Mengertilah, mereka (oknum polhut) kan jauh-jauh datang dari provinsi," kisah Peberenti menirukan ucapan M Bram.

Namun, karena korban tak bisa memenuhi permintaannya, seorang anggota polhut bernama Jupriyadi kemudian memerintahkan membawa ke Palembang. Pada saat itulah terjadi penganiayaan berupa penyeretan, pemukulan terhadap Basta, istri dan anaknya yang mencoba menghalangi. "Kami diseret ke mobil preman dan dibawa ke Balai Gakum Kehutanan Palembang," jelasnya.

Dikatakan Peberenti, sudah 6 bulan suaminya menjalani proses hukum tanpa tahu kesalahan mereka.

Andy Nababan, kuasa hukum korban menuturkan aksi yang dilakukan istri korban semata-mata meminta kepada Presiden Jokowi agar menaruh perhatian atas kasus ini. Menurutnya, di tengah perayaan Hari Kemerdekan Indonesia ke 74, justru korban merasakan kemerdekaannya dirampas oleh oknum-oknum polhut dan sistem penegakan hukum yang tidak profesional.

Atas kasus tersebut, pihaknya kata Andy sudah melaporkan ke sejumlah lembaga negara terkait seperti Komisi Nasional Hak Azasi dan Manusia (Komnas HAM), Komisi Nasional (Komnas) Perempuan, Ombudsman, Kadiv Propam Polri, dan Istana Negara sebulan lalu (Juli 2019) namun hingga kini belum mendapat respon yang signifikan.

Lebih jauh Andy menjelaskan bahwa penganiayaan ini sebenarnya sudah dilaporkan ke Polda Sumsel, 2 Maret 2019. Hanya saja hingga kini pelaporan tersebut menurut Andi tidak mengalami kemajuan yang signifikan.

"Bahkan pada 25 Juni 2019 kami diberitahu lewat surat oleh Polda Sumsel bahwa pelapran dinilai tidak mencukupi alat bukti. Padahal saksi dan hasil visum dari penganiayaan itu sudah dilampirkan," tukas Andy.

Selanjutnyam Basta Siahaan didakwa dengan Pasal 92 ayat (1) huruf a dan/atau huruf b Jo. Pasal 17 ayat (2) huruf a dan /atau huruf b UU RI No. 18 tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan.

Dikatakan Andy, perkara ini bermula ketika pada tahun 2012, Basta Siahaan bersama rekan-rekan dan sanak saudaranya, membayarkan uang dengan total sejumlah Rp.1.202.500.000,- (satu milyar dua ratus dua juta lima ratus ribu rupiah) yang dibayarkan secara bertahap kepada Kepala Desa Mendis Jaya, Zakaria Muchtar dan kepada Camat Bayung Lencir Drs. Bustanul Arifin.

Lahan tersebut sebagian besar sudah berupa kavling-kavling kebun kelapa sawit dan karet pada saat pertama kali diperlihatkan kepada Basta, sebagian lagi masih berupa semak belukar. Lahan-lahan yang berbatasan langsung dengan lahan tersebut juga seluruhnya sudah berupa kebun kelapa sawit dan karet. [tar]

Komentar

x