Find and Follow Us

Minggu, 22 September 2019 | 15:55 WIB

Ini Penyebab Klaim Asuransi Pertanian di Sumsel

Sabtu, 24 Agustus 2019 | 06:00 WIB
Ini Penyebab Klaim Asuransi Pertanian di Sumsel
(Foto: DitjenPSP)
facebook twitter

INILAHCOM, Palembang - PT Jasindo mengungkap sejumlah penyebab terbesar klaim Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) dalam empat tahun terakhir. Petani lahan pasang surut di Sumatera Selatan mengaku bisa mengembangkan IP 200 karena ada AUTP.

"Kami berterimakasih kepada Jasindo. Kami sudah 4 tahun bermitra menjadi pengguna AUTP, sejak 2016.Selama 4 tahun itu, setiap kami tanam padi IP 100 sukses, namun saat tanam IP 200 selalu gagal sehingga kami selalu klaim asuransi ke Jasindo. Baru di 2019 IP 200 kami sukses sehingga tidak ada klaim ke asuransi Jasindo," kata Sayuti petani padi di Ogan Kemiring Iring (OKI) Sumatera Selatan pada Apresiasi Permodalan dan Asuransi Pertanian yang dilaksanakan Direktorat Pembiayaan Pertanian Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian Kementan, di Palembang, Selasa (20/8/2019).

Relation Manager Program Pemerintah di Grub Head Asuransi Pertanian, Mikro dan Program Pemerintah PT Jasindo Erwin Arys Sasongko mengungkapkan, klaim Asuransi AUTP di Sumatera Selatan tahun 2019 sampai saat ini sudah mencapai Rp3,5 miliar. Sementara premi AUTP dari petani yang diterimanya baru Rp835 juta.

Penyebab klaim terbesar di Sumsel ungkap Erwin adalah banjir 51 persen, kekeringan 1 persen, OPT tikus 27 persen, OPT Wereng Batang Coklat 10 persen, OPT Kerdil Rumput atau Kerdil Kuning 4 persen dan OPT tungro 7 persen.

Secara nasional lanjut Erwin selama empat tahun nilai klaim dan penyebab klaim terbesarnya adalah hama penyakit dan kebanjiran. Pada tahun 2015, klaim AUTP sebesar Rp22,5 miliar.

Penyebab klaimnya banjir 44 persen, kekeringan 4 persen dan hama penyakit 52 persen. Pada tahun 2016, nilai klaim AUTP sebesar Rp79,2 miliar. Penyebab klaimnya banjir 33 persen, kekeringan 7 persen dan hama penyakit 60 persen. Pada 2017 nilai klaim AUTP sebesar Rp144,5 miliar. Penyebab klaimnya banjir 27 persen, kekeringan 9 persen dan hama penyakit 64 persen.

Pada 2018, nilai klaim AUTP sebesar Rp66,05 miliar. Penyebab klaim AUTPnya banjir 26 persen, kekeringan 29 persen, OPT blast 4 persen, OPT kerdil rumput 2 persen, OPT penggerek batang 3 persen, OPT tikus 26 persen, OPT wereng batang coklat 7 persen dan lain lain 3 persen.

Direktur Pembiayaan Pertanian Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian Indah Megahwati menjelaskan, tahun ini pemerintah menyediakan dana anggaran sebesar Rp163,2 miliar untuk Asuransi Pertanian tahun 2019.

"Anggaran tersebut disalurkan untuk Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) sebesar Rp 144 miliar dan Asuransi Usaha Ternak Sapi atau Kerbau (AUTS/K) sebesar Rp19,2 miliar," kata Indah Megahwati.

Program asuransi yang dimulai sejak 2015 ini besaran preminya Rp180 ribu per hektare per musim. Dari jumlah premi itu, yang dibayar oleh petani hanya 20 persen atau Rp36 ribu per hektar. Sedangkan 80 persen sisanya (Rp144 ribu) dibayarkan pemerintah (subsidi). "Nilai pertanggungannya (klaim) yang akan diterima petani sebesar Rp 6 juta per hektar," pungkasnya. [*/psp]

Komentar

x