Find and Follow Us

Selasa, 24 September 2019 | 03:48 WIB

RR Sebut Warisan Utang Membubung Sang Menkeu SMI

Rabu, 28 Agustus 2019 | 10:38 WIB
RR Sebut Warisan Utang Membubung Sang Menkeu SMI
(Foto: ist)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Ekonom senior Rizal Ramli bilang, kebijakan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (SMI) merugikan Indonesia. Hal ini berbanding terbalik dengan berbagai penghargaan yang diraih Sri Mulyani.

Atas fenomena ini, Rizal yang pernah menjabat Kepala Bulog dan Menko Ekuin di era Presiden Abdurrahman Wahid ini, punya julukan mesra untuk Sri Mulyani. Yakni menteri keuangan 'terbalik' bukan terbaik lho.

"Kebijakan Menkeu "terbalik" sangat merugikan rakyat Indonesia karena memberikan yield/bunga utang sangat tinggi. Bondholders/kreditor utang Indonesia senang, tapi rakyat Indonesia harus bayar beban tambahan bunga ratusan triliun. Tragedi sekaligus kriminal," kata Bang RR, sapaan akrab Rizal Ramli, Jakarta, Selasa (27/8/2019).

Bunga utang negara yang diberikan SMI kepada kreditor, menurut pandangan mantan Menko Kemaritiman di era Presiden Jokowi ini, lebih tinggi ketimbang negara-negara yang rating ekonominya lebih rendah ketimbang Indonesia.

Sebut saja Vietnam dan Philipina, bunga surat utang di kedua negara tersebut lebih rendah sekitar 3% ketimbang Indonesia. Padahal, rating keduanya lebih rendah ketimbang Indonesia. "Harusnya lebih rendah. Karena merugikan rakyat Indonesia pantasnya disebut menteri terbalik," imbuh dia.

Selanjutnya RR mengungkap data utang bond pemerintah kala Sri Mulyani menjabat menkeu di era Jokowi dan SBY. Pada 2006-2010, Sri Mulyani menerbitkan utang bond sebesar Rp454,9 triliun dengan rincian Fixed Coupon sebesar Rp281,8 triliun, Variable Coupon Rp25,6 triliun, Fixed Coupon (Islamic) Rp25,7 triliun, dan Fixed Coupon (non tradable) Rp121,7 triliun. Dengan yield kemahalan, beban yang harus ditanggung rakyat akibat kebijakan Sri Mulyani mencapai Rp199,7 triliun.


Saat pemerintahan Jokowi, periode 2016-2019, Sri Mulyani kembali menerbitkan utang bond senilai Rp790,7 triliun. Masing-masing Fixed Coupon Rp461 triliun, Zero Coupon Rp49,1 triliun, Zero Coupon (Islamic) Rp22,1 triliun, Fixed Coupon (Islamic) Rp240,9 triliun, Variabel Coupon (non tradeble) Rp10,7 triliun dan Fixed Coupon (non tradeble) sebesar Rp7 triliun. Utang juga diterbitkan dengan yield kemahalan sehingga menambah beban rakyat sebesar Rp118 triliun. "Total Menkeu "terbalik" untungkan kreditor tapi rugikan rakyat Rp 317,7 trilliun," sebut RR.

Situasinya berbeda ketika menkeu dijabat Agus Martowardojo dan Bambang Brodjonegoro. Keduanya, kata RR, memberikan yield utang lebih rendah dari negara-negara yang ratingnya lebih rendah dari Indonesia. Selain Sri Mul, menurut RR, platform 'karpet merah' untuk kreditor juga digelar pemerintah saat menkeu dijabat Chatib Basri.

"Ketika meminjam dengan menerbitkan bonds, Agus Martowardoyo maupun Bambang Brojonegoro sangat proper (correct) dengan selalu berikan yield utang lebih rendah dari negara-negara yang ratingnya lebih rendah dari Indonesia, seperti Thailand dan Philipina. Tetapi Menkeu 'terbalik' SMI dan Chatib Basri justru sebaliknya. Terbitkan utang kemahalan yang menguntungkan kreditor tapi merugikan rakyat," demikian RR menerangkan. [ipe]

Komentar

Embed Widget
x