Find and Follow Us

Senin, 23 September 2019 | 23:22 WIB

INAFOR 2019: Solusi Inovatif Kelola Hutan Tropis

Rabu, 28 Agustus 2019 | 21:19 WIB
INAFOR 2019: Solusi Inovatif Kelola Hutan Tropis
(Foto: istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Bogor - Konferensi internasional ke-5 peneliti kehutanan Indonesia (INAFOR 2019) mengusung tema solusi inovatif pengelolaan hutan tropis dan pelestarian keanekaragaman hayati dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG). Acara yang digelar di IPB International Convention Center, Bogor, Rabu (28/8/2019) ini mengupas kebijakan dan best practices dari berbagai pakar kehutanan skala nasional dan internasional.

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan, Badan Litbang dan Inovasi (P3H BLI), Krisfianti L. Ginoga menyampaikan, solusi inovatif diperlukan untuk mengelola dan mengurangi konsekuensi hilangnya hutan tropis dan keanekaragaman hayati pada ekosistem bagi manusia.

"Konferensi internasional ini digelar untuk mendapatkan umpan balik dari kebijakan dan manajemen, untuk menempa jalan-jalan penelitian baru, untuk menjadikan ilmu pengetahuan lebih berguna tepat waktu, dan untuk memahami bagaimana ilmu hutan dan keanekaragaman hayati dapat mengurangi ketidakpastian dan melayani inisiatif kebijakan dan manajemen dengan lebih baik. Semua ini merupakan wujud komitmen Pemerintah Indonesia melalui KLHK terhadap kelestarian alam dan hutan di tingkat global," ujar Krisfianti.

Saat ini ancaman terhadap penurunan keanekaragaman hayati terjadi pada hampir setiap ekosistem di dunia, termasuk ekosistem hutan. Dengan demikian, pengelolaan hutan harus berubah untuk memberikan dukungan kuat pada konservasi, penilaian dan pengelolaan keanekaragaman hayati, memerangi perubahan iklim, dan berkontribusi pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). "Sehingga semua tindakan mudah dikomunikasikan dan dapat diterapkan secara universal ke semua negara," tutur Krisfianti.

Untuk itulah, Krisfianti memandang peran ilmu pengetahuan dan inovasi sangat penting, dalam pengelolaan hutan tropis dan konservasi keanekaragaman hayati.

Menurut Krisfianti, beberapa tantangan yang dihadapi dalam pengembangan kehutanan adalah: memperkuat kapasitas masyarakat, meningkatkan kesejahteraan, meningkatkan ketahanan pangan, dan menghentikan hilangnya hutan dan keanekaragaman hayati.

Menjawab tantangan ini, Krisfianti menyadari banyak kegiatan penelitian yang dapat dilakukan. "Berbagai hasil penelitian tentang agroforestri, paludikultur dan agro-silvofishery dapat diimplementasikan dalam menjawab tantangan perubahan ekosistem, keanekaragaman hayati pada hutan dan berbagai lanskap, perubahan iklim dan fungsi ekosistem, pemantauan keanekaragaman hayati di hutan pada berbagai skala spasial, dan menentukan penilaian keanekaragaman hayati. Selain itu perlu kita siapkan bagaimana penelitian keanekaragaman hayati di masa depan akan dilakukan".

Beberapa topik yang dibahas pada hari kedua konferensi internasional INAFOR 2019 antara lain yaitu: (1) Innovative solutions for managing tropical forests; (2) Policy and actions for biodiversity conservation; (3) Natural disturbance and biodiversity in forests and landscapes; (4) Biodiversity, climate change and ecosystem function; (5) Monitoring of forest biodiversity at different spatial scales; (6) Valuation of biodiversity; (7) Future Research in the management of biodiversity.

"Melalui konferensi ini, diharapkan akan ada peningkatan wawasan pengetahuan informasi bagi para peserta, peningkatan insentif untuk adopsi sains dalam pengelolaan keanekaragaman hayati, serta rekomendasi penelitian di masa depan. Selain itu, Kita harapkan juga terjadi peningkatan peran sains dalam pengelolaan hutan tropis dan konservasi keanekaragaman hayati, serta peningkatan komitmen kolaborasi penelitian di antara para pemangku kepentingan dalam pengelolaan keanekaragaman hayati," tutup Krisfianti.

Sebanyak 200 orang peserta mengikuti plenary session hari kedua konferensi internasional INAFOR 2019. Sejumlah kalangan dari para pakar, akademisi, praktisi, peneliti, dan pemangku kepentingan di bidang pengelolaan hutan tropis dipastikan hadir.

Plenary Session INAFOR 2019 dipandu oleh Adi Susmianto dari KLHK. Turut hadir sebagai keynote speaker antara lain, Signe Preuschoft dari Four Paws International, Georg Buchholz dari GIZ, Dr. Liubov Volkova dari University of Melbourne, Ms. Park Joowon dari Asian Forest Cooperation Organization (AFOCO), Yves Laumonier dari Center for International Forestry Research (CIFOR), Haris Gunawan dari Badan Restorasi Gambut (BRG), Maman Turjaman, peneliti utama dari P3H BLI KLHK, dan perwakilan dari Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) KLHK. [*]

Komentar

x